Social Phenomenon

NYAKMU
Saksi Sejarah Kejayaan Tenun Songket Aceh

songket-aceh

NYAK MU
The Witness History of Glamour Aceh’s Aembroidered Cloth

Memasuki Desa Siem di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar, terlihat suasana kampung yang tenang layaknya sebuah perkampungan yang jarang dikunjungi oleh pendatang.
Ruas jalan berlubang di sana sini mulai dari persimpangan Tungkop hingga ke tempat tujuan. Membuat perjalanan menjadi sedikit agak membosankan bahkan melelahkan.

Namun siapa sangka, ratusan tahun silam di desa ini terdapat sebuah peternakan dan pengembang biakan kepompong yang menghasilkan benang sutera dan hasilnya dijual ke negara lain.

Di ujung gang yang tertulis Lorong Tenun Songket, tinggal seorang wanita yang pada masa kejayaan kerajinan tersebut adalah cucu dari peternak ulat sutera sekaligus pemilik usaha tenun songket.

Tidak banyak yang tahu nama asli pemilik tenun songket tersebut namun apabila ditanya dimana rumah Nyak Mu maka tidak seorang pun di Desa Siem yang menggelengkan kepala dalam arti tidak tahu.

Rumah panggung bergaya khas Aceh dengan pintu pagar terbuat
dari besi terlihat agak lengang. Sebuah spanduk masih terpampang di atas gerbang bertuliskan pelatihan yang dilaksanakan oleh Satker BRR Life Skill dan ASEPHI.

Mendengar suara pintu besi dibuka, seorang wanita paruh baya keluar dari rumah yang terletak di samping kanan rumah induk. Dari celah-celah jeruji yang terbuat dari papan nampak beberapa orang wanita sedang asyik memasukkan benang emas dicelah-celah benang sutera yang akan ditenun menjadi kain songket.

Setelah mengemukakan maksud dan tujuan kedatangan AER, wanita yang ternyata puteri bungsu Nyak Mu langsung mengajak masuk ke rumah utama.
Beberapa saat muncul seorang wanita dengan sisa kecantikan
yang dimiliki mengulurkan tangan sambil tersenyum, dia adalah Hj.Maryamu atau yang dikenal dengan panggilan Nyak Mu.

Tanpa basa basi, didampingi Dahlia (45) puteri semata wayang dari wanita yang sudah banyak makan asam garam dalam industri kerajinan ini menceritakan awal berdirinya usaha tenun songket di Desa Siem. Seolah ia ingin berbagi kisah tentang kejayaan tenun songket Aceh dahulu.

Waktu berjalan bak roda yang terus berputar, terkadang di atas terkadang pula di bawah. Setelah mahir maka usaha yang semula dijalankan oleh ibunya akhirnya ia lanjutkan.

Dari sebatang kayu pemintal dan benang emas yang dijalin pada helai sutera, lahir pula generasi-generasi penerus yang diharapkan mampu meneruskan apa yang dimilikinya.

Sambil duduk di sudut ruangan, wanita kelahiran 70 tahun silam ini mengatakan kalau masa kejayaannya berawal pada saat Aceh masih dipimpin oleh Gubernur Nyak Adam Kamil. Usaha tenunnya sendiri dimulai tahun 1971 atas binaan Ibu Hayyatun Nufus. Beliau adalah Kepala Dinas Perindustrian Aceh pada saat itu.

Bekerja tanpa pamrih, tidak pernah terpikir dibenaknya untuk membanggakan kebolehan yang ada.
Penghargaan Upakarti dari pemerintah pusat diberikan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1991 atas keberhasilannya mengembangkan kelompok penenun songket.
Tak ada rasa bangga yang berlebihan karena dengan kepolosan pikirannya Nyak Mu hanya ingin menyambung hidup dari usaha kerajinan yang ia rintis.

Selain memintal, wanita yang menggunakan bahasa Aceh sebagai bahasa sehari-sehari ini ternyata pandai menciptakan kreatifitas terhadap motif-motif yang akan ia pilih. Salah satu motif ciptaannya adalah motif Bungong Kertas.

Keahlian yang diturunkan almarhumah Naimah neneknya, atau dulu dikenal dengan panggilan Nyak Na’im tidak pernah Ia lupakan.

Benda pusaka berupa kain songket yang sudah usang berwarna coklat berukuran 50×50 berusia lebih kurang seratus tahun itu diperlihatkan.
Sembari menjelaskan bahwa dari kain inilah ide-ide itu pertama kali muncul.
Pada dasar kain terlihat berbagai motif yang disulam rapi yang tidak dapat dihitung dengan jari jumlahnya.

Menurut Dahlia, songket tua berwarna coklat itu merupakan pedoman dalam bekerja karena dulu tidak ada buku sehingga nenek mewariskannya sebagai pengganti buku.

Pada tahun 1992, motif-motif yang sudah diberi nama itu dibukukan oleh Dinas Perindustrian Propinsi Aceh dengan judul: “Aneka Songket Motif Aceh” dimana nara sumbernya adalah Nyak Mu.
Motif-motif tersebut diantaranya: motif Pucok Aron, Phacangguk, Bungong Peut Saga, Bungong Gasing, Bungong Rante Lhe, Timpeung, Mata Uro, Bungong Kala, Pucok Meuriya, Bungong Reudeup, dan banyak lagi jenis lainnya.

Pasang Surut Usaha Tenun Songket

Banyak suka duka yang dilalui dalam menjalankan usaha tenun songket, berawal dari krisis moneter, konflik yang terjadi antara pemerintah RI dengan Gerakan Aceh Merdeka hingga bencana tsunami.
Saat krisis moneter, banyak petenun songket yang menghentikan usahanya karena harga bahan baku terlalu tinggi sehingga sulit untuk mematok harga.
Desa yang dulunya dikenal sebagai lumbung songket dimana terdapat 150 bahkan lebih para pemilik usaha tenunan akhirnya satu persatu gulung tikar.
Tidak hanya “krismon” yang mematikan usaha kerajinan songket Aceh, konflik berkepanjangan membuat pembeli enggan datang ke Desa Siem karena dianggap rawan.
Cobaan bertubi-tubi terus menimpa, diantara peristiwa pahit yang masih membekas dalam pikiran Nyak Mu ketika bahan baku pesanannya dari Palembang terkena tembakan saat dilakukan razia di jalan.
Uliran benang rusak dan tidak bisa digunakan lagi, mengakibatkan ia menderita kerugian yang tidak sedikit.
Belum habis masa konflik, terjadi tsunami yang meluluhlantakkan kota Banda Aceh dan sekitarnya dan merusak seluruh sendi kehidupan.
Meski Desa Siem jauh dari amukan tsunami, tapi bahan baku yang digunakan untuk tenunan disimpan di rumah salah seorang puteranya di Kampung Laksana habis tersapu air.
Padahal waktu itu ada pembeli yang memesan songket sebanyak seratus helai dan baru dipanjar sebesar lima juta rupiah. Bahannya masih disimpan di Kampung Laksana dan tidak sempat diselamatkan.
“Kamoe rugoe na limong ploh juta,” tuturnya dalam bahasa Aceh sambil merunduk sedih.
Kerugian sekitar lima puluh juta tidak membuat ia putus asa karena menurutnya rezeki itu datangnya dari Allah.
Hanya sesaat menahan sedih, ada rasa bangga tercermin di wajah wanita yang sejak lahir hingga usia senja ini lebih memilih menetap di Desa kelahirannya. Ketika ditanya tentang murid-murid dulu apakah ada yang mengikuti jejak gurunya. Dengan wajah berseri-seri Nyak Mu menyebut satu persatu murid yang berhasil seperti Asma dan Faridah. Kedua muridnya ini sudah membuka usaha sendiri di Lamno Kabupaten Aceh Jaya. Juga Jasmani yang menyusul membuka usaha di Desa Miruktaman Lambaro.

Sudah tidak terhitung berapa banyak pelatihan yang diadakan di tempat usaha milik Nyak Mu. Bahkan para peserta banyak yang berasal dari daerah lain seperti Aceh Barat, Montasik, Simpang Ulim, dan kabupaten lainnya di Aceh.
Atas pertimbangan usia dan kondisi kesehatan, sekarang Nyakmu hanya mengawasi saja apa yang dikerjakan pegawainya namun bukan berarti ia lepas tangan. Setiap saat Nyak Mu datang dan memeriksa hasil kerjaan mereka agar motif yang dibuat tidak lari dari keinginan si pemesan.

Karya-karya Nyak Mu sudah pernah dipamerkan di berbagai pameran songket pada era 80an-90an seperti di Bali, Jakarta bahkan di luar Indonesia yaitu Malaysia, Singapura, Srilangka dan lain-lain.

Keistimewaan dari songket Nyak Mu, produk buatannya tidak dipasarkan di toko atau tempat benda-benda souvenir. Pembeli sudah tahu dan biasanya datang sendiri ke Desa Siem untuk membeli dengan cara memesan terlebih dahulu
Harga songket yang dijual bervariasi sesuai motif yang diinginkan namun harga standardnya adalah Rp.1000.000 an. Nyak Mu mengakui songket yang dijualnya memang mahal tetapi semuanya dikarenakan bahan baku untuk pembuatan songket harus didatangkan dari luar. Uniknya lagi, motif yang dibuat bukan dilekatkan pada kain tetapi benang emas dijalin satu persatu pada helai benang sutera.

Pembuatan songket memakan waktu yang lumayan lama, bisa sembilan atau sepuluh hari bila dikerjakan terus menerus.
Untuk menggulung benang sutera yang akan ditenun waktunya adalah dua puluh hari. Jadi satu kain songket memakan waktu yang cukup panjang yaitu satu bulan.

Segudang pengalaman dibarengi pengabdian dan jasa-jasanya kepada negeri seharusnya membawa Nyak Mu kepada kehidupan yang jauh lebih mewah dibanding sekarang.
Namun Nyak Mu hanyalah wanita yang hanya memberikan emas tanpa berharap intan.
Akankah seratus tahun mendatang masih ada orang yang akan berbagi kisah tentang kejayaan tenun songket Aceh…? ***
(Sudah Dimuat di Majalah Aceh Economic Review-Pemrov NAD)

***

MUSIK TRADISIONAL
Akankah Terasing di Negeri Sendiri…?

SPORT N ENTERTAINMENT PHOTO

Di dalam musium kita mendapatkan nyanyian kehidupan sesungguhnya dan musik mempunyai peranan penting dalam kehidupan, terutama musik tradisonal yang saling terkait dengan masyarakat (Deputy Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,DR. Anhar Gonggong) pada pembukaan Pameran Alat musik tradisional se Sumatera di Medan beberapa waktu lalu.

Hilangnya alat musik tradisonal berarti hilang pula kesempatan anak cucu kita kelak untuk menikmati alunan suara indah nan begitu indah. Akankah bangsa ini menjadi terasing oleh budaya sendiri…?

Tanyakan pada anak-anak muda sekarang, sejauh mana pengetahuan mereka tentang alat musik tradisonal. Bisa dipastikan sembilan puluh persen akan menjawab: “tidak tahu..,”.
Tapi coba tanya tentang alat musik seperti keyboard, drum, electric guitar. Maka hasilnya sembilan puluh persen akan menganggukkan kepala tanda mengerti.

Berdasarkan sumber bunyi, alat musik dibagi dalam empat bagian besar, yakni: Membranafon (pukul), Aerofon(tiup), kardofon (gesek) dan idiofon(ketuk).
Pembagian tersebut sudah berlaku sejak dulu dan sangat berpengaruh pada perkembangan musik dan alat musik sampai kapanpun.
Alat musik sekarang adalah hasil tempoe doeloe yang sudah mengalami perubahan dan perkembangan sesuai zamannya. Meski hidup di zaman millineum kita tidak boleh melupakan begitu saja bahwa kita sesungguhnya pernah berada pada masa primitif.
Inilah yang menjadi dasar pemikiran mengapa kita harus menaruh perhatian pada pelestarian. Ase-aset masa lalu harus tetap ada agar generasi sekarang dan yang akan datang menyadari bahwa negeri mereka sesungguhnya menyimpan kekayaan budaya yang membanggakan. Generasi muda harus diberi pembelajaran agar tidak terlalu mendewa-dewakan modernisasi semata.

Para pelaku budaya sendiri sebenarnya sudah lama melakukan usaha pelestarian tersebut. Hal ini terlihat dari banyaknya acara-acara berlatar belakang kebudayaan daerah yang digelar. Namun dikarenakan acara tersebut diadakan di balai budaya (tempat yang lebih sering dianggap sebagai rumah bagi pelaku seni), maka sosialisasi tidak terjadi. Hal ini dikarenakan para pengunjung yang datang untuk menyaksikan hanya orang-orang yang memang betul-betul terpatri jiwanya terhadap budaya.

Untuk melakukan sosialisasi maka salah satunya adalah dengan mengadakan pameran di tempat yang lebih banyak dikunjungi oleh masyarakat umum.
Hal inilah yang dilakukan beberapa waktu lalu oleh delapan museum yang terdapat di Sumatera yaitu: NAD, Sumut, Sumbar, Lampung, Bengkulu, Jambi, Sumsel, dan Riau.Ke delapan museum tersebut hadir dengan membawa serta koleksi alat musik tradisonal daerah mereka.

Gubernur Sumut,H.T.Rizal Nurdin saat itu sangat menyambut baik digelarnya acara dan dalam sambutan tertulisnya Gubernur mengatakan bahwa musik merupakan unsur seni yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia dan merupakan aset budaya bangsa. Untuk itu perlu dilestarikan guna meningkatkan peran musik tradisional dalam proses integrasi dan akulturasi sosial budaya masyarakat.

Serupa Tapi Tak Sama

Dalam pameran yang bertempat di Museum Negeri Sumut tersebut juga disuguhan live musik oleh para musikus Pan Sumatran Ensemble yang penampilannya sangat memukau yang mengkolaborasi musik multi etnik.
Banyak yang pengalaman yang didapat dari pameran yang dominan dikunjungi oleh para siswa dari berbagai sekolah di Medan dimana secara langsung kita mengetahui jenis-jenis alat musik tradisonal yang ada di Sumatera.
Membranafon misalnya, jenis alat musik yang menghasilkan bunyi getaran selaput atau membran baik dengan hembusan atau pun pukulan seperti gendang. Antara satu daerah dengan daerah lainnya banyak kesamaan hanya dalam penyebutannya saja yang berbeda. Jika di NAD disebut RAPAI, sementara di Sumatera Utara disebut REBANA (biasanya digunakan dalam kesenian Melayu).

Contoh lainnya adalah pada alat musik Aerofon atau alat musik tiup atau lebih dikenal lagi dengan sebutan terompet. Masing-masing daerah memiliki alat musik ini namun bentuk dan namanya berbeda.
Di NAD dikenal dengan sebutan SERUNE KALE yang bila kita hayati suara tiupannya yang mengiringi hikayat atau cerita makan hati kita akan tersentuh.
Sementara di Sumatera Utara khususnya Nias dikenal dengan nama NDURI MBEWE, yang dibunyikan oleh seorang laki-laki setelah menyelesaikan pekerjaan di sawah untuk menarik simpati gadis-gadis.

Menurut salah seorang panitia pameran, ajang ini lazim dilakukan secara bergiliran di beberapa daerah yang tujuannya tidak lain untuk memperkenalkan berbagai alat musik tersebut kepada masyarakat.
Masih banyak lagi alat musik tradisonal dan cukup panjang untuk disebut satu persatu. Namun perhatian penuh dari masyarakat dan pemerintah diharapkan bukan hanya pada saat diadakan pameran saja, karena pelestariannya pun perlu dijaga agar tidak hilang dengan sendirinya.

Adapun tujuan dari diadakannya pameran, menurut Kepala Museum Negeri Sumut, Dra.Sri Hartini adalah agar masyarakat mengenal keanekaragaman alat musik tradisional dan memasyarakatkan museum sebagai pusat informasi. Apalagi saat sekarang ini minat umum terhadap museum sangat sedikit bahkan sebagian beranggapan bahwa museum hanyalah tempat penyimpanan barang-barang kuno.
Persepsi yang salah tersebut mesti dihilangkan dan yang lebih penting lagi adalah untuk mempersatukan berbagai daerah dengan beranekaragam budayanya.

Sebagai salah satu fungsi museum yaitu memberikan informasi, maka pihak museum juga memberikan penerangan atau informasi ke sekolah-sekolah tentang benda-benda yang tersimpan di sana.

Lewat pameran dapat dilihat bahwa keberadaan museum masih mendapat perhatian dari lapisan masyarakat.Pameran temporer ini juga bertujuan untuk memperluas jangkauan dalam penyebaran informasi aneka budaya materi bagi masyarakat. **
( D&R Sport& Entertainment-Sumarni Dahlan)
***

SOSOK:
“BANG SAMSUL ARIFIN…”

Tak terbersit rasa heran ketika membaca berita di berbagai media bahwa pria bertubuh tambun, berkulit hitam dan berhidung besar ini memperoleh suara terbanyak dalam Pilgubsu yang berlangsung Rabu (16/04) di Sumatera Utara. Meski tidak mengenal terlalu dekat sosok Samsul Arifin namun ada beberapa kenangan yang sampai sekarang membekas dalam ingatan saya saat pertama kali bertemu bang Samsul.

Delapan tahun silam, waktu itu saya baru saja bergabung di salah satu Majalah terbitan kota Medan. Sebagai orang baru, terus terang saya belum begitu banyak mengenal muka pejabat di Medan apalagi Sumut.
Saya lupa dalam acara apa, media kami mengundang sejumlah tokoh masyarakat termasuk pejabat dan pria yang saat itu akan menjadi orang nomor satu di Sumut.

Kebetulan saya berada di meja tamu paling depan dan di sela-sela acara datang seorang pria dengan sedikit jenaka menghampiri kami. Teman di sebelah saya berbisik:” lihat tuh, kancing bajunya terbuka…”. Kami berdua tersenyum sambil menahan tawa . Saya melihat ke arah yang disebutkan dan beliau langsung menghampiri kami sambil mengambil pulpen dan tanpa dipersilahkan mengisi buku tamu.
Alangkah kagetnya saya saat membaca nama yang tertera di buku tamu tersebut.

Di sana hanya tertulis : Samsul Arifin-Langkat, tanpa menyebutkan identitas atau jabatan. Teman saya langsung bilang: “ Eh ternyata bang Samsul Arifin, Bupati Langkat”.
Hampir tidak bisa dipercaya, seorang Bupati datang dengan berpakaian ala kadarnya, kancing bajunya terbuka lagi, mungkin karena perutnya yang agak buncitnya (maap bang Samsul…) tanpa pengawalan bahkan tanpa harus diapit menuju kursi tamu yang sudah disediakan. Masih sempat beliau berseloroh dengan logat Melayunya yang kental:” Mak oi, cantik-cantik kali kalian dek…”.

Tapi lama kelamaan saya banyak tahu tentang beliau, apalagi di setiap acara yang diadakan media kami beliau tidak pernah absen.
Bahkan di kesempatan berikutnya beliau pernah ngotot minta naik ke panggung dan ikut menyumbangkan suaranya.
“Kocak, tidak sombong dan bersahaja, mungkin itu nilai lebih yang dimiliki bang Samsul”.
Beliau tidak pernah gengsi mampir dan sarapan pagi di warung-warung pinggir jalan sambil ngobrol dengan masyarakat kelas rendah. Semuanya apa adanya tanpa dibuat-buat.
Itulah sisi yang terlupakan dari seorang Samsul Arifin. Baik, rendah hati dan dekat dengan masyarakat.**
***

“ANDAI TKW MANOHARA”

Ketika hampir seluruh media baik televisi, surat kabar, radio, majalah, blogger Indonesia- Malaysia perang argument soal kasus penganiayaan Manohara, saya yang awalnya kurang tertarik dengan gosip-gosip seputaran artis akhirnya terhipnotis juga oleh rasa keingin tahuan terhadap apa sebenarnya yang menimpa wanita yang pernah terdaftar dalam 100 Pesona Indonesia oleh Majalah Harper’s Bazaar.

Sungguh beralasan, selain Mano warga negara Indonesia, sebagai wanita saya juga mengecam perlakuan kasar dilakukan seorang suami yang seharusnya melindungi istrinya. Pernikahan bukan untuk saling menyakiti tapi untuk bersama-sama melengkapi antara dua makhluk berlawanan jenis yang diikat dengan pernikahan sah secara agama.

Rasa simpati atas kasus ini membuat saya menyempatkan waktu mencari tau siapa Mano dan Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra melalui mesin pencari Google. Ratusan berita dan komentar para pembaca dengan sudut pandang berbeda menyoal penganiayaan itu. Ada yang membela habis-habisan sementara sebagian malah menyalahkan keputusan menikah di usia dini hanya karena ingin kekayaan.

Saya telusuri halaman berita satu persatu mulai perkenalan Mano dan Tengku, bahkan pengakuannya yang dibantah oleh Fakhri. Lebih menarik lagi, salah satu blog beralamat http://www.toughlane.blogspot.com berupaya mempengaruhi pembaca dengan membeberkan sisi kelam kehidupan Daisy ibu Mano. Dikatakan bahwa Mano telah memfitnah suaminya dan ibunya adalah seorang penipu yang memanfaatkan kecantikan anaknya demi uang.

Situs yang tidak diketahui siapa pemiliknya itu nampaknya benar-benar tidak ingin nama baik keluarga Raja di negeri Kelantan yang terkenal taat dan agamais itu tercemar hanya karena seorang Mano yang menurut keluarga raja sebagai wanita yang tidak jelas keturunannya.

Jika saja Kelantan merenungi baris demi baris tulisan yang ada maka banyak sekali hikmah dan pelajaran yang bisa diambil.

Kita kesampingkan soal rasa kebangsaan dan lebih melihat dari sisi martabat dan nama baik keluarga. Andai benar seperti yang telah diungkapkan suami Mano bahwa Daisy melahirkan anak yang tidak jelas siapa bapaknya, seharusnya seorang anak raja pun lebih berhati-hati memilih pendamping hidup.

Apalagi mantan kekasih Ardi Bakrie itu sudah terbiasa hidup bebas dan bersenang-senang diatas harta kekayaan milik orang lain.
Kecantikan wajahnya membuat lelaki berduit itu kabarnya tidak segan-segan membawa keluarga Mano pelesiran hingga ke luar negeri.

Tapi penyesalan the King from Kelantan sudah sangat terlambat karena kecantikan Mano membuat puteranya lupa memikirkan garis keturunan calon istri yang akhirnya membuat marwah keluarga raja menjadi tercoreng.

Sangat tidak logik, Malaysia yang sangat lihai dan cerdik dalam urusan ”jiplak” dan “ curi” produk hasil karya leluhur bangsa kita. Kalau dihitung-hitung mulai dari batik, tarian, lagu dan lain-lain bahkan Pulau Sipadan-Ligitan sudah dikuasai. Mudah-mudahan saja tidak sampai merebut Ambalat nantinya.

Namun mengapa istilah bibit, bebet, bobot, yang belum memiliki hak patent di negeri ini tidak ditiru oleh Malaysia dalam mencari menantu.

Saya terus membuka situs dalam negeri dan membaca komentar demi komentar. Ternyata tidak semua membenarkan sikap trio Mano yang terdiri dari Ibu dan dua puterinya ini. Sebagian malah sependapat dengan blog tak dikenal yang membela keluarga kerajaan. Daisy telah memperalat anak sendiri demi kilauan harta. Setelah Mano menikah otomatis ia harus taat pada aturan hidup di lingkungan istana dan tidak bisa sembarangan menghambur-hamburkan uang sehingga apa yang diharapkan Daisy dari Mano tidak kesampaian.
Daisy jengkel dan marah apalagi Mano adalah tulang punggung keluarga.
Begitu hebatnya seorang Manohra Odelia Pinot sehingga kasusnya oleh sebagian masyarakat Indonesia disetarakan dengan sengketa Ambalat.

Permasalahan Mano harus diselesaikan karena telah mencoreng harga diri anak bangsa.
Demikian pernyataan warga masyarakat yang merasa nama baik Indonesia sudah tercoreng oleh penganiayaan dan perlakuan putera Kelantan tersebut.
Besarnya perhatian yang diberikan sehingga wanita yang mendapat gelar Cik Puan Temenggung (CPT) Manohara tidak lepas dari perbincangan hangat.
Terkadang emosi yang dituangkan lewat media oleh ”simpatisan” Mano terlalu berlebihan sampai-sampai tidak lagi memikirkan, bagaimana jika seandainya pula kasus Mano justru mencoreng nama baik negeri ini…? Andai apa yang dibeberkan pada situs misterius itu ternyata benar.
Berikut kutipan tulisan memalukan yang saya ambil dari blog di atas:

“Memang membuat fitnah, menipu, mencuri adalah kerja asal Dasiy Fajarina dan diperturunkan kepada anak-anaknya, diatas kecantikan wajah Manohara George Mann diambil kesempatan oleh Dasiy untuk memperdagangkan mencari wang untuk menyara hidup mereka setelah rumahtangga bersama Pinot dihancurkan oleh keborosan Dasiy fajarina,.”

Tidak bisa dipastikan apakah tulisan tersebut dapat dipercaya kebenarannya namun uraian tersebut menjadi sebuah peringatan bagi kita untuk tidak terlalu larut dan emosi.

Antara TKW dan  Manohara
Penyiksaan, penganiayaan, atau kekerasan terhadap siapapun dan di belahan bumi sebelah manapun merupakan perbuatan kriminal dari sisi hukum, dan kejam dari sisi kemanusiaan. Saya setuju pelakunya harus dihukum setimpal dengan perbuatan yang dilakukan apabila segala tuduhan terbukti.

Namun selain Mano yang terbilang cantik, bukankah sebelumnya telah banyak kasus yang sama menimpa para TKW kita di luar sana…?
Mereka berasal dari keluarga miskin dengan penampilan ngedeso, lugu dan berwajah pas-pas an pula.

Tidak sedikit, mungkin ribuan yang bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga mengalami penyiksaan baik secara fisik dan mental. Mulai dari dipukul, ditendang, ditolak dari ketinggian seperti yang dialami beberapa TKW kita, disetrika, diperkosa hingga dibunuh.

Terlepas dari kesalahan yang dilakukan, siksaan yang mereka terima sungguh tidak manusiawi. Kasus ini terus menerus terjadi.Ironisnya, jalur hukum yang ditempuh selalu berujung ketidakpuasan si korban. Andai terbuktipun hukuman yang dijatuhkan terhadap si pelaku sangat tidak sebanding dengan cacat tubuh yang diderita korban.

TKW yang bekerja sebagai PRT alias Pembantu Rumah Tangga adalah orang-orang yang buta akan prosedural. Tidak tahu apa itu laskar merah putih, advocate, kedutaan besar, tim relawan anti kekerasan dan apapun namanya yang mengatasnamaka aktifis kemanusiaan.

Pergi dengan sejuta harapan untuk merubah ekonomi keluarga, namun pulang dengan wajah babak belur bahkan cacat seumur hidup sehingga kepulangannyapun hanya kian menambah beban bagi keluarga.
Jauh berbeda dengan Manohara yang awalnya hanya segelintir orang saja yang mengenalnya, akhirnya menjadi begitu terkenal. Si cantik yang awalnya lantang menyuarakan keadilan dan penegakan hukum kini sibuk melakukan syuting sinetron dan membintangi beberapa iklan. Meski masih menjadi tanya apakah kebenaran ada dipihak mereka atau sebaliknya…?

Kasus Mano bukan hanya menyita perhatian kalangan sesama artis, tetapi telah membuka mata setiap orang. Bukan tidak mungkin seribu Adam di negeri ini menanti penuh harap untuk menggantikan posisi Tengku dan mempersunting Mano. Silih berganti pengacara beken tampil di media, demikian juga para aktivis, artis dengan beragam komentar.

Bahkan sebuah stasiun televisi swasta tertua di negeri ini langsung menayangkan sinetron ”Manohara” yang diperankan sendiri oleh wanita cantik tersebut.

Saya lagi-lagi berpikir, begitu banyak wanita korban penyiksaan di negeri jiran yang menjadi pahlawan devisa, andai saja setiap kasus penganiayaan yang mereka alami dipublikasikan dalam bentuk sinetron yang diperankan sendiri oleh korbannya, akan banyak para PRT yang menjadi artis seperti Manohara.

Sayang mereka tidak secantik Manohara meski memiliki kisah yang lebih tragis dan memilukan. **

***

LIA EDEN…………..(Pandangan Pribadi untuk Tokoh Kontroversial)

slamet1

Dr.Slamet Widodo

Lia Eden ditangkap. Wanita yang mengaku malaikat Jibril itu kembali dijadikan tersangka. Dia dituding melakukan pelecehan agama karena menyebarkan ‘maklumat’ yang berisi penghapusan agama. Salahkah dia?

Keyakinan memang milik pribadi. Di relung terdalam rasa yakin itu bersembunyi. Baik dan buruk menjadi hak prerogatif. Tidak untuk diwacanakan dan didiskusikan, tetapi untuk dijalani ‘secara pribadi’. Sebab diskusi soal kebaikan itu bukan kebaikan, tapi sekadar diplomasi agar kelihatan seperti baik.
Sebagai hak pribadi, privasi keyakinan jadi terganggu dan mengganggu tatkala ditularkan. Dia bakal tersandung berbagai pranata hukum dan ‘keyakinan’ seperti yang menimpa Al Hallaj atau Syech Siti Jenar. Juga mendatangkan situasi tidak aman dan tentram sebagai dasar prinsip keyakinan. Kisruh konsekuensinya karena kontras dengan tempat dan waktu.
Lia Aminuddin dengan komunitas Kaum Eden terkena itu. Wanita kelahiran Surabaya ini harus menerima risiko setelah ‘tidak dipedulikan’ saat mengaku Jibril, menyebut Imam Mahdi, Al-Masih atau Bunda Maria yang melahirkan Yesus Kristus. Hukum cukup jeli membedakan hak pribadi dan ‘hak’ orang banyak.

Tapi ketika ‘privasi keyakinan’ itu dipublikasikan dan bersinggungan dengan agama yang lain, hukum negara pun menjeratnya. Lia harus menerima itu. Dia divonis bersalah dan meringkuk di penjara, yang kini setelah bebas tersandung kembali kasus serupa.
‘Kerajaan tuhan’ (t kecil) memang bukan monopoli Lia. Di negeri ini, ratusan ‘kerajaan’ sama tersebar di mana-mana. Berpuluh-puluh tahun mengitari Nusantara membuka mata saya untuk tidak gampang kaget saban mendengar peristiwa yang mengagetkan. Sebab selama dalam perjalanan itu saya sering melihat dan bersinggungan dengan sosok yang mengaku sebagai kiai sampai nabi, dari yang merasa menjadi dewa hingga tuhan.
Di Fatukopa Pulau Timor, misalnya, penduduknya percaya batu cadas berdiri garang di kampung ini sebagai situs kapal Nabi Nuh. Mereka menggelar ritus naik bukit tegak lurus untuk menyembah tuhan, uis neno, tuhan yang tampak, yaitu matahari. Itu salah satu tuhan selain uis pah (tuhan tanah) dan uis oel (tuhan air).

Di pedalaman Pulau Haruku saya juga sempat ‘terlibat’ ‘ritus jubah putih’ yang meyakini telapak tangan yang membekas di bukit kapur di daerah bekas pangkalan Jepang di perang dunia kedua itu sebagai telapak Sayyidina Ali. Ritus ini amat memacu jantung karena dilakukan secara sembunyi, bisu, dan dalam keheningan belantara sepi.
Di teluk Saleman Pulau Seram ritus sejenis juga rutin terjadi. Penduduk setempat percaya sebagai keturunan kelelawar. Mereka menggelar upacara sakral dengan mentato wajah bagi calon panglima perang. Dan binatang yang jumlahnya jutaan yang keluar dari gua di daerah ini harus dikuburkan jika gagal terbang menyeberangi lautan di sore hari.

Di Papua maupun di Pulau Yamdena, patung yang dibuat bukanlah sekadar karya seni. Patung itu disakralkan karena diyakini sebagai awal mula manusia hidup di dunia. Kisah yang mirip dongeng Pinokio si hidung panjang itu diyakini benar. Dan itu ‘sah’ karena tidak ‘menempel’ ke agama yang punya legalitas di negeri ini, dan tidak ditular-tularkan ke pemeluk keyakinan lain, serta ‘tidak berbahaya’.
Disebut berbahaya, karena banyak ‘sekte’ macam ini yang menggelar ‘upacara kematian massal’. Misalnya seperti sekte ‘Kuil Rakyat’ (People’s Temple) yang dipandegani Jim Jones di Jamestown Amerika Serikat. Di tahun 1978 sang panutan ini mengajak pengikut melakukan bunuhdiri massal. Begitu juga dengan sekte Ranting Daud yang didirikan David Koresh. Mereka rela melepas nyawa daripada diinterogasi petugas keamanan.
Namun kenapa mantan ‘pemeluk agama samawi’ itu ‘terjerumus’ memasuki wilayah yang bukan ‘maqomnya’, mengaku sebagai manusia yang mendapat wahyu? Mungkin pendapat Syeh Abdul Kadir Jailani (Jilani) bisa dijadikan patokan untuk menjawab itu. “Jika engkau merasa mendapat wahyu’ rujukkan dengan Alquran dan hadis. Jika tidak sesuai itu ulah setan, tapi kalau sesuai itu adalah egomu. Kesombonganmu.”
Adakah Lia dan tokoh-tokoh ‘sempalan’ itu sombong? Jawabnya ada dalam hati kita masing-masing. Yang jelas, fanatisme sempit membuat hati kita tertutup. Tertutup dari kebenaran. Kebenaran Tuhan.

Naudzubillahi mindzalik !.**

:http://www.new.facebook.com/pr…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s