sHOrT sToRy

ayah

AMBISI

CERPEN OLEH: SUMARNI DAHLAN

Kokok ayam mengejutkan aku dari tidur. Kubelalakkan mata ke arah jarum jam yang tergantung di dinding untuk memastikan jam berapa sekarang. Astaga..ternyata sudah jam sebelas siang.

Perlahan aku turun dari ranjang dan berjalan menuju cermin yang terletak di sudut meja belajar. Mataku terlihat sedikit sembab dan memerah. Mungkin karena semalaman aku menangis setelah mendengar keputusan yang mau tidak mau harus kuterima. Saat ini ayah sedang tidak punya uang dan cita-citaku untuk melanjutkan pendidikan di IPDN selepas SMU cuma tinggal kenangan.

Aku tidak habis pikir, dulunya ayah begitu mendukung agar aku bisa menjadi salah seorang penghuni Jatinangor. “Kamu harus menjaga kesehatanmu In,” demikian ayah selalu mengingatkan. Aku tetap memegang nasihat itu karena salah satu syarat untuk dapat diterima di sana adalah sehat jasmani disamping embel-embel uang tentunya.

Waktu aku masih duduk di bangku SMP ibu pernah bercerita bahwa ayah sudah mempersiapkan uang dua ratus juta rupiah untuk menunjang kelulusanku. Wah jumlah yang tidak sedikit, aku sempat kaget mendengarnya. Akan tetapi ibu berusaha menjelaskan kondisi sekarang ini semuanya harus didorong dengan duit. Yang penting sebagai anak sulung dari tiga bersaudara jangan mengecewakan harapan orangtua. Ayah ingin aku bisa mengikuti jejak Paman Roni adik bungsunya yang mampu melanjutkan pendidikan di STPDN sepuluh tahun silam.

Sekarang paman sudah menduduki jabatan penting di salah satu instansi pemerintahan di Jakarta. Prestasi paman cukup membanggakan. Baru beberapa tahun bekerja di kantor walikota. Paman melanjutkan ke Institut Ilmu Pemerintahan atau dikenal dengan IIP. Bangga…itulah yang dirasakan keluarga ayah saat itu termasuk kakek yang sehari-harinya cuma seorang pedagang kecil di desa.

Itu dulu, keputusan ayah beberapa waktu lalu sangat jauh berbeda dengan sekarang. Alasannya ayah gagal terpilih menjadi caleg pada pemilihan legislatif beberapa bulan lalu. Kalau dari pertama aku tahu ayah telah menggadaikan masa depanku hanya untuk sebuah kursi, pasti jauh sebelumnya aku larang. Semula aku tidak tahu kalau pencalonan diri ayah membutuhkan dana yang begitu besar. Sampai-sampai uang yang selama ini ia persiapkan untuk pendidikanku amblas. Ibu hanya tertunduk dengan wajah muram sambil menekuri lantai.

Ia terlihat pasrah. Tak ada pembelaan atau sekedar memberi dukungan terhadap cita-citaku. “Sudahlah In, kamu tetap bisa kuliah di sinikan? Aku diam tanpa memberi jawaban walau cuma sebuah anggukan atau gelengan kepala. Ayah terlalu berambisi untuk menjadi pemimpin padahal dua bulan lagi aku tamat sekolah. “In, ayah harap kamu bisa mengerti,”ujar ayah tadi malam. Dadaku terasa sesak, tenggorokanku sakit dan aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Ayah bukan lagi figur yang aku banggakan. Tega-teganya merusak masa depan anaknya sendiri hanya demi memenuhi ambisinya tanpa mau tahu ambisiku. Tanpa menunggu waktu lama aku bangkit dan berlari menuju kamar. Bummm! Kuhempas pintu dengan sekuat tenaga. Aku menangis dan menangis.

***

Setelah merapikan tempat tidur kuambil handuk dan langsung masuk ke kamar mandi. Melewati ruang tengah nampak ayah tengah duduk ditemani ibu. Aku pura-pura tidak melihat. Rasanya kekecewaanku kian merebak saat melihat wajah ayah. Hatiku benar-benar terluka.

Sehabis mandi dan berpakaian aku langsung pergi ke rumah Vina teman dekatku. Kuketuk perlahan pintu rumah bercat biru. Beberapa menit kemudian Vina muncul dengan wajah yang tidak kalah murungnya. Aku heran, tidak biasanya ia bersikap seperti ini. “Rumahmu sepi, semuanya pada ke mana,”tanyaku. Vina diam dan menatapku dengan tatapan yang sama sekali tidak aku mengerti. “Orangtuaku ke Parapat. Om Han masuk rumah sakit,”jelas Vina sambil meletakkan punggungnya ke kursi di sebelahku.

Aku duduk di teras bersama Vina sambil menumpahkan semua uneg-uneg yang ada. “Kamu tidak boleh begitu, In. Seharusnya kamu bisa menerima kenyataan karena ayahmu pasti lebih tertekan lagi”. Vina menceritakan masalah yang sama yang menimpa keluarganya. Om Han juga gagal menjadi anggota legislatif di daerah pemilihannya dan sekarang malah masuk rumah sakit. Celakanya lagi, seluruh harta dan perusahaan sudah ia gadaikan. Sekarang untuk biaya perawatan saja orangtua Vinalah yang terpaksa menanggung. Mana anak om Han masih kecil-kecil dan butuh biaya untuk sekolah.

“Ayahmu tidak sampai seperti itukan? Vina balik bertanya. Aku mengangguk dan berusaha mencerna setiap kata-kata yang dilontarkan sahabat karibku.

Tiba-tiba telepon berdering. Vina berlari ke dalam sementara aku masih merenung membandingkan antara ayah dan om Han. Belum habis lamunanku Vina mucul dengan wajah pucat pasi. “Kenapa Vin? Tanyaku. Om Han meninggal. Ia mengalami defresi dan jantungnya tidak tertolong lagi”. Vina terduduk lemas.

Sekelebat wajah muncul di pelupuk mataku. Ayah seperti itukah yang ia rasakan? Timbul rasa berdosaku karena telah memusuhi ayah. Bukankah aku masih bisa kuliah dan ayah tetap melakukan aktifitas sehari-harinya sebagai seorang pengusaha…?

Kuraih tas sandang yang terletak di meja. Aku ingin segera pulang dan memeluk ayah. Aku takut kehilangannya. Tanpa ayah siapa lagi yang akan membiayai pendidikanku nanti. “Maapkan aku ayah,” bisikku lirih.

***

Aku langsung pulang setelah mengantarkan Vina ke stasiun kereta api. Sampai di rumah, suasana tampak sepi. Kuketuk pintu beberapa kali namun tidak satu pun yang membukakan pintu. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi. Nomor handphone ayah, cepat-cepat kutekan ‘yes’. “Halo,,,” Sejenak mendengar suara si penelponn aku seolah tak percaya. Ayah terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa.

***

Aku bergegas ke tempat praktek dokter yang disebutkan ibu. Di ruang praktek ibu nampak menangis. “Ada apa bu? kenapa tiba-tiba semuanya jadi begini, tanyaku. “Bukankah ayah masih bisa berobat rutin ke psikiater, sambungku lagi. “Sudah tiga bulan Pak Rahmad menjadi pasien tetap di sini. Tapi tidak ada kemajuan dan ini salah satu jalan terbaik, “dokter menjelaskan.

Aku tidak bisa menahan air mata dan langsung menjatuhkan kepalaku di pundak ibu. Ternyata diam-diam ayah berusaha mengatasi permasalahannya sendiri. Tanpa sepengetahuan aku, ibu dan adikku. “Berdoalah, mudah-mudahan bapak masih bisa disembuhkan,”sambung dokter lagi.

Saat ini kepalaku rasanya mau pecah. Tidak tahu apalagi yang harus kuperbuat. Antara rasa kecewa, perasaan berdosa pada ayah dan yang membuat aku pusing tujuh keliling, siapa yang akan menghidupi kami selama ayah di rumah sakit. Pandanganku tiba-tiba kabur dan aku jatuh tak sadarkan diri.*

***

cerpen-putus

PUTUS

CERPEN OLEH: SUMARNI DAHLAN

Di sebuah cafe tenda, suatu sore. “menikah itu nggak segampang membalik telapak tangan, Nin,”ucap Dodi sambil menyedot juice semangka pesanannya yang baru saja diantar. Lutut Ninin terasa lemas mendengar jawaban kekasihnya itu.

Ternyata apa yang dibayangkan tentang Dodi tidak seperti kenyataan. Kebaikan dan perhatiannya selama ini hanya sebatas ucapan saja.Buktinya, diajak serius tidak mau.

Ninin diam sambil membolak-balik tangannya yang basah oleh titik-titik air yang membekas di permukaan gelas.Berbagai pikiran berkecamuk di hatinya, jangan-jangan laki-laki yang duduk di hadapannya ini seorang banci (tentu bukan dalam arti yang sebenarnya). Ditatapnya nasi goreng dan minuman yang baru saja diletakkan waitress. Pengunjung café datang silih berganti namun kedua pasangan ini tidak juga beranjak.

Puih…!” Ninin menyemburkan serat semangka. Juice di café ini memang tidak terlalu halus.Ada apa sayang? ” tanya Dodi.(Hah sayang?) Ninin untuk pertama kalinya merasa muak mendengar kata sayang yang ditujukan padanya.Sayang apa, cuma di mulut saja. Katanya cuma aku wanita di dunia ini yang paling ia cintai selain ibunya, tapi sekarang, terbukti: its all funk’n hell bullsitch.Kata sayangnya cuma omong kosong. Cuma kata-kata manis yang diucapkan demi sebuah kegombalan.

Ninin melarikan diri dari tatapan mata Dodi. Dihelanya nafas panjang.”Ayo pulang, udah malam,” ujarnya pelan.Ia berdiri lantas melangkah tanpa memperdulikan ekspresi wajah Dodi yang berubah.Di atas sepeda motor Ninin bungkam seribu bahasa. Sekilas terlintas dalam benaknya untuk mengakhiri saja kasih mereka. Nanti, nanti sesampai di rumah.Untuk apa meneruskan hubungan dengan laki-laki yang tidak punya keseriusan. Enaknya mau tapi takut pada komitmen, menghindari tanggungjawab, dasar pengecut…!, Ninin terus menggerutu dalam hati.

Kalau memang ada keseriusan, apa sih susahnya menikah? Masalahnya apa? Toh, hubungan itu tidak mendapat masalah berarti. Orang-orang tua sudah setuju. Lantas apa? Biaya? Keterlaluan.Hakekat menikah itu pada dasarnya adalah meresmikan hubungan secaar sah dan untuk menghindarkan fitnah. Itu saja. Lagi pula sejak dulu Ninin sama sekali tidak pernah membayangkan pesta pesta besar-besaran.

Sepeda motor keluaran tahun 80-an itu berhenti persis di depan sebuah rumah yang di temboknya bertuliskan angka 155R. Ninin turun. Tidak seperti biasanya, kali ini tak didaratkannya kecupan di pipi Dodi. Dia langsung melangkah, bahkan tanpa mengucapkan barang sepatah kata. Dan ini tentu saja membuat Dodi heran.Nin!:” panggilnya. Ninin menoleh, ekspresi wajahnya datar.Kamu kenapa sih?” Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas panjang.

Sesungguhnya saat itu sedang ada perang di hatinya, antara kemarahan dan rasa sayang. Dodi yang mencla-mencle membuat kesabarannya habis. Sebagai wanita seharusnya dia berada dalam posisi menunggu. Dimanapun begitu, dalam sejarah cinta maupun sejarah dunia, bahwa seorang laki-lakilah yang seharusnya datang dan mengucapkan kata minta” would you married me” (Bukan sebaliknya). Dodi tidak, dia bukan saja tak pernah mengucapkan kata itu, tapi bahkan selalu berusaha menghindar bila dirinya sudah mulai menyinggung tentang pernikahan.

Sepertinya dia terkesan enggan untuk melanjutkan ke tahap yang lebih serius. Dan kini, ketika Dodi secara terus terang menyatakan sikapnya, Ninin benar-benar merasa harga dirinya telah diinjak-injak.Namun begitulah, kemarahan rupanya belum cukup hebat untuk membuatnya lancar berbicara. Ninin harus menguatkan dirinya kembali. Aku harus mengatakannya . Harus! Harus! Harus.“‘Nin! Kamu belum jawab pertanyaanku.

Kamu marah sama aku?” Ninin berdiri menatap Dodi dengan pandangan mata yang menusuk. Sekelebat perasaan (cinta?) yang melintas ia tepiskan.“Dod!” Ninin merasakan suaranya jadi sumbang dan bergetar.Ya, sayang”Sepertinya hubungan kita cukup sampai di sini saja”. Dodi nampak terperanjat. Matanya terpelotot, sebatang rokok yang terselip di bibirnya terjatuh.”Apa?”Kita putus”Maksud kamu..?”Ya maksud aku, kita putus. Putus, kamu dan aku. Kita tidak usah pacaran lagi”.

Matahari melorot jauh ke barat. Ninin melihat wajah Dodi memucat. “Tapi kenapa?”.Suara Dodi tidak setegas tadi. Tampak ujung-ujung bibirnya bergerak turun naik. Ninin mendengus. “Huh lucu sekali.

Seharusnya kamu tidak perlu menanyakan itu. Kamu sudah tahu jawabannya”“Jadi sekarang bagaimana?”Bagaimana apalagi. Ya putus. Mulai sekarang kita tidak punya hubungan apa-apalagi selain sebagai sahabat. Itu pun kalau kamu mau”.

Hari semakin jatuh ke dalam senja. Lampu-lampu mulai dinyalakan. Dalam ketemaraman itu Dodi menatap nanar punggung Ninin sampai menghilang di balik pintu. Dia merasakan berdirinya jadi limbung. Nun jauh entah dari mana, samar-samar telinganya mendengar suara nyanyian burung malam.
***

Ninin mengetik kata ‘banci’ pada telepon genggamnya. Kata itu ia ketik untuk menggantikan kata “sayang’ yang selama ini ia wakilkan atas nomor telepon genggam Dodi. Bayangan kejadian sore tadi masih bagai di rewind bermain di matanya. Dodi yang untuk sekian kalinya berusaha menghindar.

Jauh di dalam hatinya, Ninin sesungguhnya agak menyesal. Bagaimanapun hubungannya dengan Dodi sudah berjalan cukup lama. Suka dan duka mereka lewati bersama. Memang sayang sekali jika kemudian kisah itu harus berakhir dengan kepedhan. Tapi kemarahan lebih kuat mengendalikan dirinya.

Persetan dengan dia! Peduli amat dengan sontoloyo itu! Dia pikir di dunia ini laki-laki cuma dirinya!Tiba-tiba telepon genggam itu berdering. Terbaca tulisan yang baru ia ketik tadi. Ninin mendengus. Ringtone memperdengarkan potongan nada dari lagu ‘Cinta Kita’ vokalnya Reza Artamevia. Mendengar nada itu, Ninin membara lagi. Kemarahan rupanya telah benar-benar menguasainya. Cinta, taik kucing dengan cinta.

Maka kembali ia mengutak-atik telepon genggamnya. Ringtone diganti dengan nada lain, “Putus Saja” masih dari penyanyi yang sama. Putus? Ninin tertawa terbahak-bahak. Ha..ha..ha kebetulan sekali.Lani, teman sekamarnya yang sejak tadi sibuk membolak-balik sebuah majalah remaja merasa heran.(Ada apa dengan Ninin, kok seperti orang setengah sinting begitu?)“Woi berisik!” teraknya sambil turun perlahan dari ranjang mendekati Ninin.

Matanya memandang ke arah yang sama dengan Ninin. Ya ampun… Lani menggeleng-gelengkan kepalanya. Kawannya ini ulahnya memang ada-ada saja.Dulu ia juga pernah melakukan hal yang sama waktu seorang cowok mencobanya menggoda lewat telepon. Dia menyimpan nomor laki-laki itu dengan tulisan ‘Gila’.Jam di dinding berdentang sebelas kali. Ninin pun tertidur.

***
Hari pertama sebagai wanita single. Jam tujuh lebih lima belas menit. Ninin yang duduk di beranda depan sambil mengunyah sepotong roti lapis coklat kacang pelan-pelan merasakan desir-desir aneh di dadanya. Pagi datang tanpa bunyi klakson, tanpa asap kelabu dari motor butut Dodi yang biasanya pada jam-jam begini sudah menunggu di depan pintu pagar.

Yang membuat Ninin merasa aneh atau barangkali lebih tepat, kesal adalah sebuah SMS yang masuk ke telepon genggamnya seusai Subuh tadi. Isinya sebenarnya biasa saja. Apa kabar sahabat, udah ma’em belon? Memang sama sekali tidak istimewa. Hanya dua kalimat tanya. Tapi baginya, SMS itu jadi luar biasa karena yang mengirimnya tak lain dan tak bukan adalah Dodi, pacarnya (eh, mantan pacarnya). Kemarin dia masih mengirimkan SMS dengan kata sayang di belakang kalimat. Tapi kini kata sayang itu diganti dengan kata sahabat.

Begitulah yang terjadi pada hari-hari berikutnya. Sampai datang hari sabtu malam minggu, malam yang dianggap istimewa terutama oleh kaum muda. SMS masuk lagi. Ninin yang sedang menyaksikan pertandingan Liga Itali Seri A dengan malas meraih handphone nya. Sent:.21.32 Sender: Banci Message: Halo sahabat, Selamat malam minggu. Lagi ngapain ? Ninin menarik nafas dalam-dalam, lantas menghembuskannya dengan tidak terlalu lega. Lama-lama kesel juga menghadapi Dodi.

Kata ‘sahabat’ itu seolah-olah mengejek dirinya. Dengan geram bercampur perasaan yang sulit ia jelaskan, Ninin balik mengirim SMS pada Dodi. “Kamu memang ga sayang aku kan? Makanya waktu aku bilang kita cuma sahabat kamu setuju.Tak lama telepon genggamnya berdering lagi.Sent: 21.44Sender: Banci Message: Lho.emang aku salah tulis ya? Kan kamu yang minta kita jadi sahabat?

Perasaan Ninin semakin tak karuan. Tangannya gemetar saat mengetik kalimat yang akan ia kirimkan balik pada Dodi.Tentu saja aku sayang sama kamu sebagai sahabat. Kalau kamu gimana? Sayang nggak sama sahabatmu ini?Tapi entah mengapa SMS itu tidak jadi ia kirimkan. Dia tidak mau kalimat itu nantinya justru akan membuat Dodi salah paham. Dikiranya aku masih berharap, masih cinta, masih sayang. Huh, tak usah ya.(Ninin saat itu sesungguhnya sedang berusaha menenangkan perasaan yang sedang bergejolak hebat di dadanya. Namun ia akhirnya menyerah. Ia tak kuat.

Nalurinya sebagai seorang yang pernah terkasih dan mengasihi muncul. Ia menangis, sambil membenamkan wajahnya pada bantal. Teganya Dodi menganggap dirinya cuma sebagai sahabat.

***

Besoknya sewaktu bangun tidur diliriknya layar telepon genggamnya. Tidak ada tanda-tanda SMS masuk. Ninin memejamkan matanya. Pelupuknya terasa bergetar dan perlahan menghangat.Ninin tak kuasa lagi mengingkari perasaannya. Diraihnya telepon genggam itu, ditukarnya kembali tulisan ‘banci’ dengan ‘sayang’. “Baiklah aku masih mencintainya. Nanti kalau berjumpa aku akan minta maaf padanya karena sudah menurutkan hati panas,” gumamnya sendirian .

Namun sampai tiga hari Dodi tetap tidak menghubunginya. Ninin jadi bertanya-tanya apakah mungkin Dodi menganggap serius ucapannya? Ninin jadi serba salah, jangankan makan, tidur malam pun jadi tidak nyenyak. Sebentar-sebentar ia terbangun, namun SMS yang diharapkannya tetap tidak masuk juga.Kemana Dodi pergi? Untuk menghubunginya duluan, Ninin merasa kurang pantas atau barangkali lebih tepat, gengsi. Ninin berangkat sendirian.

Lani yang masih kuliah memasuki semester akhir itu sedang malas. Katanya tidak ada kuliah penting. Namun Ninin tahu, kemalasan itu lebih disebabkan oleh rencana pergi nonton dengan pacarnya siang nanti. Kemarin didengarnya Lani janjian saat bicara dengan pacarnya di handphone.

***

Dari ujung gang sebuah mobil melaju cukup kencang dari arah samping kiri dan nyaris menyerempetnya. Ninin berdiri dengan kaki yang gemetaran dan lututnya seketika terasa lemas. . Mobil itu berhenti. Seorang laki-laki turun dan langsung mengembangkan senyum kecut. Namun kemudian, begitu melihat wajah Ninin air mukanya langsung berubah.

Eh, kamu Ninin,kan?”Ninin menatap laki-laki bertubuh tegap yang berdiri sambil terus cengengesan di hadapannya.Siapa ya”Masih ingat aku nggak? Ninin mengerutkan dahinya. Memang sekilas dia seperti mengenalnya. Wajahnya tidak terlalu asing.

Kamu…,kamu, kita pernah satu sekolah,ya? Laki-laki itu semakin cerah wajahnya.Ya, kita satu kampus bahkan pernah satu ruang kelas lagi”.Dulu aku duduk di belakang kamu? Aku sering nanya tulisan di papan tulis sama kamu karena mataku agak kabur”eghh. Soni…Soni ya? Soni! (Laki-laki itu mengangguk dengan bersemangat) Aduh kamu sekarang lain sekali. Lebih kurusan”Kamu mau kemana”Ke kantor”Aku antar, ya”.

Di mobil suasana akrab dengan cepat mengalir kembali. Membicarakan kenangan masa lalu memang selalu menyenangkan bahkan untuk kenangan yang menyedihkan sekalipun.Mereka tertawa-tawa saat mengingat tingkah teman-teman. Ada Rizal yang selalu serius. Ada Saut yang sok play boy, gonta-ganti pacar tapi tidak satu pun yang berumur panjang.

Ada Pak Asu (Aswadin) nama sebenarnya. Dosen kriminal yang gagap itu. Ninin dan Soni tertawa terbahak-bahak mengingat saat diadakan pembahasan tentang penganiayaan. Pak Asu hanya terbengong di depan kelas dengan ekspresi wajah yang bukan main bodohnya tatkala seorang teman mereka bernama Gandhi menjelaskan opini dengan menyebutkan perilaku itu sebagai penganiayaan dengan benda tumpul.Suasana semakin tak karuan karena Soni kembali mengungkit soal cinta terpendam seorang dosen yang kabarnya sampai sekarang belum menikah.Eh, Nin. Kita mau ngadain reuni. Kamu datang, ya.

Acaranya dijamin begini (Soni mengacungkan jempolnya). Gila-gilaan. Kita booking cottage. Acaranya satu hari penuh dari pagi sampai pagi lagi”Ninin mengangguk entah kenapa pikirannya terasa tenang. Kalau dulu ia harus minta ijin dulu sama pacarnya, tapi sekarang tidak. Ninin bebas menentukan pilihan.

Sejenak, kesedihan kembali merambat di dadanya. Ya ya, dia bahagia sekaligus bersedih. Ah mengapa ini harus terjadi? Tapi biarlah, mana tahu dengan reuni ia bisa menghapuskan semua kenangan bersama Dodi.

***

Mobil berhenti tepat di sebuah komplek gedung perkantoran. “Thanks, Son. Kapan-kapan singgah, itu kantorku nomor 67. Sampai jumpa di reuni nanti”. Soni mengangguk sambil menggeleng-gelengkan kepala.Nin…!”Panggil Soni sebelum menutup kaca mobilnya.Apa?”Di acara nanti kamu pasangan sama aku ya”.Ninin mencibir.
***

(Sudah dimuat di Majalah DOR Medan)

—–
Baca….! Cerita Seram Pemenang di Radio di CAS FM


Awalnya, se “kuku”pun aku tak percaya dengan sesuatu berbau takhyul apalagi makhluk yang disebut “hantu”. Menurutku makhluk-makluk itu hanya ada di dalam cerita film buah imajinasi sutradara belaka.

Tapi ketidak percayaanku teruji setelah aku mengalami peristiwa aneh ketika bekerja pada salah satu perusahaan elektronik di Malaysia. Rentetan kejadian silih berganti selama tiga tahun menimpa kami tanpa terkecuali apakah ia pekerja tempatan atau asing termasuk Indonesia, Bangladesh, Thailand dan Filipina.

Di bagian AI atau Auto Insert, jadwal kerja terbagi tiga yakni pukul tiga sore sampai sebelas malam, pukul sebelas malam hingga tujuh pagi dan tujuh pagi hingga tiga sore

Semuanya terbagi atas lima grup dan aku masuk dalam grup A yang masing-masing grup dikepalai oleh seorang Supervisor, dua orang tekhnisi dan lima operator termasuk aku.

Cek Zamzami, demikian kami memanggil supervisorku yang notabene orang Melayu. Baik, punya loyalitas tinggi terhadap karyawan serta pintar, itulah yang dapat kami temui dari kepribadian sehari-harinya.

***

07 Januari 1997, pertama kali shiftku dipercaya bekerja malam setelah satu bulan penuh menjalani training yang diberikan perusahaan. Sehabis meeting bersama Supervisor dan beberapa tekhnisi kami dibagi tugas mengontrol masing-masing satu mesin auto untuk komponen elektronik.

Mungkin masih sedikit asing bekerja pada malam hari dan malam itu jam baru menunjukkan pukul 11.30. Ketika aku sedang asyik menyaksikan feeder demi feeder yang bergerak memasukkan komponen elektronik ke dalam sebuah PCB, tiba-tiba mesin autoku berhenti. Kucoba menerapkan ilmu yang kuperoleh ketika training tentang beberapa problem yang mungkin bakal kami alami saat menjaga mesin auto insert.

Aku berputar kearah belakang mesin sambil mengamati satu persatu feeder dan komponen yang ada di dalamnya. Ah…ternyata part atau komponennya habis.

Aku langsung berinisiatif memberitahu supervisorku.

Perlahan kubuka pintu ruangan, nampak ia tengah tertidur pulas sementara sebuah buku terjatuh di lantai . Meski sedikit ragu kucoba membangunkan sambil memanggil namanya dengan suara yang sedikit gemetar karena pengaruh suhu udara malam hari yang kian dingin ditambah temperatur AC yang terlalu kuat.

Kugoyang sandaran kursinya dan ia nampak terkejut sembari mengusap kedua kelopak mata sambil menguap. Dengan sedikit malas ia bangkit dari kursi dan melangkah menuju gudang belakang.

Aku pun kembali ke tempat semula dan sambil menunggu komponen yang atang, sesekali aku bernyanyi-nyanyi kecil mengusir kantukku yang mulai menyerang.

Cuaca kian dingin dan sekian lama menunggu supervisorku belum juga muncul.

Kulirik pergelangan tangan dan jam sudah menunjukkan pukul 12.19 lewat tengah malam. Berarti sudah empat puluh menit berlalu namun ia belum juga kembali dari gudang.

Aku heran, bukankah letak gudang tidak terlalu jauh, hanya melewati satu pintu yang menghubungkan ruang mesin dan gudang.

Bahkan seingat aku, waktu training siang hari beberapa hari lalu cek zamzami hanya butuh waktu lima menit saja lalu kembali. Belum habis bermain dengan pikiran sendiri tiba-tiba mataku terarah ke mesin dua tepatnya di belakangku.

Kemana Rini? Mataku mencoba mengitari ruangan namun bayangnya pun tidak kelihatan. Kudekati mesin itu sambil melogok ke bawah siapa tau ia duduk terhalang mesin. Di atas lantai Rini nampak tergeletak pulas sementara mesin autonya tetap bekerja. Aku sedikit membungkuk dan mengamatinya sesaat sebelum mencoba membangunkan Rini tapi ia tetap tidak terbangun.

Dengan kesal kutinggalkan Rini sambil menggerutu sendirian. Suasana kian terasa sunyi kakiku terus melangkah ke mesin berikutnya, yah hitung-hitung membuang rasa kantuk sambil menunggu cek Zamzami.

Namun alangkah kagetnya aku karena Ira pun tergeletak di lantai dalam posisi yang sama seperti Rini.

Aku mulai bertanya-tanya, mengapa kedua temanku sama-sama tertidur. Kukitari mesin lain namun tidak seorangpun berdiri di sisi mesin masing-masing. Dari jauh aku melihat bayang-bayang tubuh terbaring di lantai. Aku penasaran, dan kudekati mesin berikutnya, Masya Allah…teman lain tergeletak tak sadarkan diri. Aku mulai panik dan bulu kudukku tiba-tiba meremang. Berarti di ruangan ini tinggal aku sendiri.

Tanpa pikir panjang aku berlari ke ruang tekhnisi yang letaknya bersebelahan dengan ruang supervisor.

Braaaak….”, kudorong keras pintu dan apa yang kulihat di dalam tidak jauh berbeda dengan pemandangan di luar. Kedua tekhnisi itu tergeletak pulas di kaki meja.

Kubalikkan tubuh dan dengan tergesa-gesa meraih pintu lalu keluar menuju ruang Cek Zamzami tapi ruangan tersebut tetap kosong.

Dengan memberanikan diri aku menuju gudang belakang sambil sesekali memanggil namanya. Nafasku mulai turun naik menahan takut.

Di gudang kuterobos satu persatu rak yang berjejer rapi namun orang yang kucari tetap tidak nampak.

Aku keluar menuju halaman parkir belakang dan dari jauh sebuah forklift dan beberapa kotak belum dibongkar terlihat samar.

Kupandangi seluruh penjuru tak terkecuali tempat yang gelap sekalipun.

Baru beberapa langkah berjalan, kakiku terganjal sesuatu.

Kucoba meraba dengan ujung sepatu sambil mataku perlahan menatap ke bawah.

Astaga…! sesosok tubuh lagi.

Jantungku semakin tidak karuan. Tangan mulai kaku, lututku gemetar namun kuberanikan diri untuk mencari tau siapa.

Cek Zamzami…! pekikku.

Kepalaku terasa pusing dan mata berkunang-kunang selanjutnya aku tidak tahu apa-apa lagi.

***

Pagi harinya aku mendapati tubuhku sudah berada di ruang yang serba putih.

Kugerakkan kedua kaki namun terasa lemah sekali, dan kucoba mengingat apa yang terjadi namun ingatanku blank.

Kamu pingsan Rit, samar-samar suara itu sampai di telingaku.

Kutatap wajah itu lekat-lekat ternyata Rini. Seketika itu juga ingatanku pulih dan terbayang peristiwa tadi malam.

Mana Ira?, tanyaku.

Sudah pulang, kamu istirahat saja dulu, katanya sambil membetulkan letak selimutku.

Kejadian itu sudah satu minggu berlalu dan kami berjanji untuk melupakan saja karena toh akan menambah rasa takut.

Beberapa senior kami berkata bahwa pabrik tempat kami bekerja ini memang sering mengalami hal-hal yang aneh dan terkadang hampir tidak bisa dipercaya oleh akal manusia normal.

Setelah seminggu shift malam, akhirnya kami off digantikan oleh grup lainnya.

Tanpa diduga, hal yang sama juga menimpa mereka yang tentunya mengundang rasa takut giliran shift berikutnya.

Anehnya, mereka yang tertidur sama sekali tidak tahu bawa teman lainnya juga tertidur dalam waktu yang sama karena saat ia terjaga semua teman juga terjaga.

Setelah mendengar cerita teman yang menjadi saksi malam itu barulah mereka tahu duduk persoalannya.

Sementara cek Zamzami dengan malu- malu menceritakan peristiwa seram yang dialaminya di gudang belakang.

Ketika ia akan mengambil barang yang habis untuk mesinku, terdengar suara seseorang memanggilnya. Ia mengira itu suaraku lalu keluar mengikuti arah yang datang. Anehnya suara itu tidak juga berhenti dan terus berpindah dari satu sudut ke sudut lainnya. Di belakang kontainer nampak seorang wanita melambaikan tangan dan seperti terhipnotis ia berjalan mendekatinya.

Selang beberapa meter ke depan, wanita itu terlihat melayang ke atas kotak di sebelah kiri dan hilang begitu saja.

***

Peristiwa seram dan penuh misteri di Auto insert itu sudah tiga bulan berlalu,. Malam ini grupku kembali mendapat giliran. Setelah masuk waktu istirahat kedua tepatnya pukul 2.30 malam, aku berniat buang air kecil.

Ke toilet yuk, ajakku yang disambut gelengan kepala Rini.

Minumku belum habis, sahutnya.

Aku berlari ke toilet dengan sedikit tergesa-gesa agar tidak tertinggal sendirian di sana atau setidak-tidaknnya setelah buang air kecil aku masih bisa menyambung istirahat lagi.

Di toilet ada empat kamar kecil dan ketika satu pintu akan kudorong terdengar suara air dari dalam.

“Ada orang,” gumamku.

Aku masuk ke kamar kecil berikutnya dan beberapa menit kemudian aku keluar dan bercermin sambil mencuci muka di wastafel. Dari pantulan cermin aku melihat seorang teman membetulkan jilbabnya sambi membelakangi aku.

Aku yakin pasti dia kerja di bagian produksi.

Jam istirahat juga ya..? tanyaku.

Ia diam saja seolah tidak mendengar pertanyaanku. Tangannya terus membersihkan air yang membasahi pinggiran bajunya.

Kuulangi pertanyaan yang sama namun ia tetap cuek.

Tidak puas hanya melihat wajahnya dari kaca aku menoleh ke belakang.

Tapi…. kemana wanita itu?

Aku tidak ambil pusing, mungkin ia sudah keluar dari toilet dan tidak ingin menjawab pertanyaanku.

Kembali aku memercikkan air ke wajah dan kedua kelopak mata lalu mengeringkannya dengan tissue.

Tanpa sengaja dari cermin aku kembali wanita tadi masih berdiri di belakangku.

Kutoleh ke belakang tapi pemandangan yang aku lihat di cermin sangat jauh berbeda. Tidak satu makhluk pun berada di ruang toilet selain aku.

Berkali-kali aku melihat di cermin dan menoleh ke belakang dan hal itu pula yang terjadi.

Cepat-cepat kuraih pintu keluar toilet dan dengan langkah seribu aku berlari ke ruang kerja.

Aku hanya butuh waktu beberapa saat untuk menyusun kembali nafasku yang tadi terdengar naik turun dan berjanji untuk tidak menceritakan pengalaman itu kepada teman lainnya agar tidak tertular rasa takut.

Peristiwa lainnya juga terjadi, seorang teman kesurupan setelah keluar dari toilet melompat-lompat di atas meja dan tubuhnya terlihat ringan seperti kapas.

Hingga masa kontrakku berakhir misteri tentang siapa wanita yang sering muncul di pabrik itu belum juga terkuak.

Berbagai cerita simpang siur namun tidak satu pun dapat menghentikan peristiwa seram di pabrik yang letaknya masih di kawasan industri besar dan di tengah kota itu. Namun cerita yang boleh dikatakan mendekati kebenaran datang dari guard atau penjaga pabrik yang usianya sudah kepala enam yang mengatakan kalau dulu ada seorang wanita yang mati bunuh diri dengan memasukkan kepalanya ke dalam sebuah mesin auto karena masalah keluarga.

Mungkinkah posisi aku bekerja memang menggantikan wanita yang telah mati itu…?

Atau jangan-jangan mesin autoku lah yang telah membelah kepalanya hingga nyawanya melayang.*** (seperti yang diceritakan oleh, Rita dan aku menuangkannya lewat tulisan)

***

cerpen-misteri-1

LELAKI YANG BERDIRI DI TENGAH JALAN

Cerpen Oleh: Sumarni Dahlan

Pukul 22.00

Mamat masih duduk di kantin belakang rumah sakit sambil menikmati secangkir kopi pahit dan goreng pisang panas.
Dari radio Trasistor milik si empunya kantin terdengar lagu disco dangdut. Laki-laki tua berbadan tambun itu mengetukkan jari-jari tangannya di atas meja mengikuti ketukan-ketukan nada lagu yang memang menghentak.

“Nggak banyak kerjaan hari ini, pak?” tanya Rohmah, pemilik kantin, satu-satunya di rumah sakit yang besar tetapi kurang terawat itu.
“Nggak Mah. Mudah-mudahan malam ini aku bisa tidur nyenyak,” jawabnya sambil mencomot sebiji goreng pisang. Makanan rakyat yang dipotong tidak seberapa besar itu masuk sekaligus ke dalam mulutnya.
Belum selesai ia mengunyah, tiba-tiba didengarnya seseorang memanggil. “Pak, Pak Mamat..!”
Laki-laki itu langsung celingukan, mencari dari mana asal suara tadi. Di salah satu sudut yang agak gelap, tampak seorang laki-laki berpakaian serba putih sedang melambaikan tangan.
Mamat langsung menarik nafas panjang. “Sirna sudah tidu r malamku,” gumamnya.

Mamat dalam usia 50 tahun, adalah petugas pengantar jenazah di rumah sakit ini. Telah dihabiskannya lebih dari separuh umurnya untuk pekerjaan yang menurut anggapan sebagian besar orang menyeramkan .
“Kamu nggak salah, Mat?” tanya teman-temannya ketika ia menerima pekerjaan itu 27 tahun lalu.
“Memangnya kenapa?”
“Kamu tidak takut?”
“Tidak”
“Yang kamu bawa itu mayat!”
“Memangnya kenapa?”
Mamat muda memang dikenal sebagai laki-laki pemberani.
Konon katanya, Mamat mewarisi keberanian leluhurnya, panglima perang salah satu kerajaan di tanah Jawa.
Tiada satu kengerianpun yang bisa menyurutkan langkahnya.
“Leluhurku telah melewati seribu macam pertempuran. Dengan gagah berani menghadapi setiap musuh-musuhnya. Dia tak gentar meskipun ilmu musuhnya lebih tinggi dibanding ilmunya.
Dengan semangat membara mereka ia hadapi.
“ Leluhurku adalah satu diantara dua pendekar yang berhasil selamat saat berhadapan dengan Aryo penangsang”.
Maka ketika datang tawaran sebagai pengantar jenazah, tanpa pikir panjang dia menerimanya.
“Mayat adalah mayat, sesosok tubuh dingin yang terbujur kaku setelah ditinggal ruh. Tak ada yang perlu ditakutkan dari seonggok bangkai,”pikirnya.

“Pak Mamat! cepat sedikit, pak!”
Lamunan laki-laki itu langsung buyar.
Segera dia berdiri. Tak lupa sebentuk peci kumal teman dekatnya selama bertahun-tahun yang tadi ia lepas dan diubah fungsinya menjadi kipas, ditemplokkan lagi ke kepalanya yang sudah ditaburi uban.
“Mah…, utang dulu ya,”ujarnya sesaat sebelum berlalu.
Rohmah hanya tersenyum kecut. Dia sudah maklum. Setiap tanggung bulan, kebanyakan pegawai di rumah sakit ini memang selalu menghutanginya.
Tapi biasanya, hutang-hutang itu akan mereka bayar setelah gajian. Semuanya tepat waktu. Tepat janji meski pun tetap ada saja yang brengsek, mengubar tarsok.

***
Pukul 22.15
Mayat telah dinaikkan. Mamat melihat tubuh yang terbujur kaku di belakang melalui kaca spion. Besar betul mayat itu. Barangkali di balik bungkusan kain putih terdapat tubuh yang tambun, seperti tubuhnya.

Mamat menghela nafas panjang. Digeleng-gelengkan dia punya kepala. Dibacanya lagi tulisan yang tertera pada secarik kertas lusuh, lecek dan sudah berwarna kecoklatan yang diberikan oleh Tono, petugas kamar mayat yang memanggilnya tadi. Tertera sebuah alamat, jalan anu, nomor sekian.

Namun yang membuat Mamat gundah gulana adalah tulisan yang paling bawah. Dicetak dengan huruf besar-besar. Benar, dia tidak salah baca. Tulisannya memang benar, Sidikalang. Gila, malam-malam begini dia harus pergi ke kota kecil yang terletak di balik gunung.

Perjalanan ke Sidikalang bukanlah perjalanan menyenangkan. Selain memakan waktu berjam-jam, rutenya juga agak berat. Jalan turun naik, berbelok-belok dengan hutan dan jurang di kedua sisinya.
Pelan-pelan sebuah perasaan aneh mulai menyerangnya. Tiba-tiba kuduknya serasa berdiri. Apakah ini disebut perasaan takut? Akh…tidak! Aku tidak boleh takut, batin Mamat. Ini memalukan. Para eluhur akan menertawakanku.
Mamat sebisa mungkin berusaha membuang jauh-jauh rasa itu. Ia berusaha dengan keras meski pun pada sisi benaknya yang lain sekeping demi sekeping mulai terbayang wajah seorang lelaki yang hancur berantakan.
Kata-kata Tono tadi kembali terngiang di telinganya.
“Pemuda ini kecelakaan. Korban tabrak lari. Sepeda motor yang ia kendarai diserempet truk gandeng yang membawa peti kemas, ia terpental ke aspal dan terguling-guling sebelum akhirnya berhenti setelah kepalanya menghantam trotoar

***

Desa yang dituju ternyata masih jauh dan sedikit agak ke pelosok.
Mamat menyetir mobil pelan-pelan. Jalan kampung itu tidak hanya sempit dan tidak beraspal, tapi juga Tak ada secercah cahayapun. Beranda-beranda rumah juga gelap. Langit-langit juga hitam.
Tak ada bulan, tak ada bintang.Awan tebal bergulung-gulung, bergerak perlahan seperti berparade. Penerangan hanyalah sekelompok kunang-kunang kuning yang beterbangan terus berkelipan. Dari tape mobil terdengar alunan lagu pop tahun 70-an, dinyanyikan oleh entah siapa. Disampul kaset memang tertulis nama Engelbert Humperdick, tapi Mamat tahu pasti kalau suara yang kini mengalun dengan sedikit sumbang ini bukanlah suara penyanyi berambut indah tersebut. Kaset ini dibelinya di kaki lima. Sepuluh ribu tiga.

Malam semakin sunyi dan dingin.Mamat sudah menutup jendela rapat-rapat, tapi tetap saja kedua lututnya bergetar. Gigi-giginya juga mulai bergemerutuk. Dengan sebelah tangannya Mamat membuka laci mobil dan meraih jaket tebal yang ia simpan di sana.
Cepat dikenakannya jaket itu. Nah, sekarang sedikit terasa lebih hangat. Sekali-kali Mamat melihat orang lewat.Semuanya berbaju kaus, bersarung yang diselempangkan di bahu, bercelana pendek dan tanpa alas kaki. Apakah mereka tak merasakan seperti yang aku rasakan?

Satu jam kemudian, sampailah ia ke rumah duka. Terlihat beberapa orang bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri mobil jenazah. Pak Mamat keluar dari mobil.
“Saya dari Medan. Benar ini rumah keluarga Merah Surbakti?”
Orang-orang itu mengangguk. Mamat membuka pintu belakang dan mayat itupun segera diangkat.
Tangis pecah. Orang-orang yang menunggu di dalam meratap dengan bahasa yang Mamat tidak mengerti.
Perpisahan adalah kesedihan. Kesedihan adalah tangis.
“Anak ini adalah harapan keluarga,”ujar seseorang. “Begitu ya?”
“Ya, dia baru saja lulus sarjana. Bapak tahu, di kampung ini yang menjadi sarjana belum banyak. Jadi tidaklah mengherankan kalau orang tuanya bangga bukan main.
“Mereka mengadakan pesta besar-besaran ketika itu. Seluruh orang kampung diundang”.Dan kebanggaan tadi semakin berlipat-lipat setelah dalam waktu yang tidak terlalu lama, anak ini berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan di Medan.
“Dimana itu tepatnya.., ha…di Belawan.”Tiga hari yang lalu dia pergi untuk keperluan…, apa ya namanya?”Wawancara?”.
“Ya ya, wawancara”

***

Pukul 2.44
Mamat merasakan sepi semakin membekap.
Dia tidak mengerti kenapa. Toh sekarang dan tadi tidak ada bedanya.
Tadi suasananya juga sepi. Jalanan sepi. Kendaraan melintas satu-satu.
Di dalam mobil pun dia hanya ditemani sesosok mayat yang terbujur kaku.
Tapi mengapa sekarang perasaannya jadi seperti ini? Mamat seperti merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya.
Kaset yang sontoloyo tadi diputar lagi, dengan volume yang lebih keras.
“Terdengar suara yang berat. Mamat melihat sampul kaset. Dalam keremangan, terbacanya tulisan Nat King Cole.Nat King Cole? Tidak salah? Kalau saja suara Nat sebuntet ini, adalah sangat mustahil. the aulum leaves” bisa mendunia dan dinyanyikan dengan penghayatan yang begitu mendalam oleh ribuan penyanyi di kolong jagat.
Tapi Mamat tidak mau berpusing-pusing kenapa orang merekam lagu yang payah itu mencatut nama seorang legenda jazz pula.
Peduli amat. Mamat bukan seorang pengamat musik. Dia hanya seorang pengantar mayat. Dan dia kini kesepian, juga mengantuk.
Mamat ikut menyanyikan lagu itu. Ia menyanyi keras-keras.
Gerimis turun. Mobil membelok pelan di tikungan tajam di kawasan Bandar Baru. Mamat berusaha untuk tetap berkonsentrasi.
Jalanan justru lebih licin oleh hujan yang tidak turun berderai-derai.

Tiba-tiba, agak jauh di depan, di tengah badan jalan menurun, samar-samar Mamat melihat sesosok tubuh.
Deg, jantungnya seperti terpukul. Rampok! Mamat mengurangi laju mobilnya. Dia telah bersiap siaga. Mamat sudah sering mendengar bahwa di kawasan ini memang sering terjadi perampokan.
Mobil-mobilnya dibawa lari. Tapi apalah yang bisa diharapkan dari sebuah mobil ambulance?

Gerimis berubah menjadi hujan. Butir-butirnya yang besar menghantam kaca jendela mobil, memperdengarkan suara tok-tok-tok yang keras. Jalanan yang telah sepenuhnya basah membiaskan pendar-pendar kuning dari sorot lampu. Sosok tubuh itu melambai. Mamat menajamkan penglihatannya. Tangan itu hanya melambai. Tak terlihat pisau. Tak terlihat pistol.
“Mau apa orang ini?”pikir Mamat.
Diberhentikannya mobil tepat di depan sosok tubuh itu, yang ternyata seorang laki-laki yang masih sangat muda.
“Boleh numpang, Pak? Saya kehujanan”.
Mamat merasa lehernya seperti bergerak sendiri. Dia mengangguk dan laki-laki itu
langsung masuk.Jok seketika basah kuyup.
Di jalan, mereka hanya diam membisu.
Sesekali Mamat melirik laki-laki itu. Wajahnya pias, putih seperti kapas. Tubuhnya yang tambun tampak gemetaran.
“Mau pakai jaket,? tanya Mamat.
Laki-laki muda itu menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Sungguh misterius.
Mobil terus melaju. Hujan perlahan mulai reda. Tapi halilintar masih ada. Langit yang gelap sebentar-sebentar menyala.
“Adik ini mau ke mana?” tanya Mamat.
Laki-laki muda itu lagi-lagi menggeleng.
“Ke tempat yang jauh sekali”.
Mamat sebenarnya tidak mengerti akan maksud dari kata-kata tersebut.
Tapi dia mengangguk saja. Laki-laki muda itu sorot matanya kosong.
Dia memang menatap lurus ke depan, seperti melihat sesuatu dengan seksama, namun mata itu kosong, benar-benar kosong.
“Pak, panggil laki-laki itu tiba-tiba.
“Saya mau turun di depan sana”.
Walau heran, Mamat menghentikan juga mobilnya. Ditebarnya pandangan ke luar.
Tidak ada rumah. Tidak ada juga jalan yang barangkali saja menuju ke sebuah kampung. Di luar hanya ada hutan. Hanya ada bayang-bayang pepohonan yang hitam kekar seperti sosok-sosok raksasa dalam kisah wayang purwa.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena bapak sudah mau mengantarkan saya sampai sejauh ini,”ujarnya.
Mamat bertambah heran. Bukankah dia baru saja naik? Paling cuma baru beberapa ratus meter saja. Lantas kenapa laki-laki ini mengatakan bahwa dia sudah diantarkan sampai jauh sekali?

“Ah adik bisa saja. Adikkan baru saja naik,”jawab Mamat sembaritersenyum.
“Tidak, pak. Bapak sudah mengantarkan saya sejak tadi”.
Mamat mulai merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi di sini. Bulu kuduknya tanpa ia sadari berdiri. Mamat masih terheran-heran.
Sesaat laki-laki itu melambaikan tangannya sambil berteriak, terimakasih, pak.
““Terimakasih atas tiga jam perjalanan yang menyenangkan.
Saya suka Engelbert Humperdick, dia idola saya”.
Laki-laki itu berjalan menjauh.
Mamat duduk terpaku. Diantara suara gerimis yang perlahan-lahan kembali menjadi hujan, samar-samar didengarnya alunan sebuah lagu.
Oh…please realese me Let me go
(Sudah dimuat di Majalah D&R Medan )
****

Surtini cerpen
‘SURTINI’

Cerpen Oleh: Sumarni Dahlan

 

 

 
Sebuah angkot jurusan Pinang Baris-Amplas via Tanjung Sari berhenti persis di sebuah warung makan yang sejak tiga bulan terakhir dipenuhi pembeli. Turun seorang gadis berseragam SMU.
Setelah membayar ongkos (tanpa melihat kiri dan kanan) ia langsung masuk ke warung.
Seorang wanita paruh baya yang sejak tadi memperhatikan kedatangan gadis manis berambut lurus itu terlihat menyunggingkan sebentuk senyuman.

“Assalamualaikum, bu…”sapa gadis itu sembari menyibakkan poni yang menjuntai di keningnya. Diraihnya tangan wanita tadi, lantas diciumnya dengan takzim.
“Waalaikum salam” Gadis berparas cukup manis itu menatap sekeliling. Keningya tampak agak berkerut. “Bagaimana warung kita hari ini, bu, ramai?”
“Lumayan. Dari pagi sampai siang tadi ibu bahkan tidak sempat bernafas. Orang datang tak berhenti.
Malah tadi ada yang minta berlangganan sebulan penuh.
Ini berarti kita sudah punya 20 orang langganan tetap.”
“Syukurlah kalau begitu,” ujar gadis berseragam itu (sebelumnya menarik nafas panjang tanda lega).
“Soalnya Surti lihat, kenapa sepi sekali”

Warung Bu Suryo, perempuan paruh baya itu memang sudah tampak sepi. Hanya ada dua meja terisi.
Tapi keadaan ini bisa dimaklumi mengingat saat itu jam menunjukkan pukul 15.15 wib. Sudah lewat jam makan siang. Warung-warung, khususnya warung nasi biasanya ramai pada saat makan siang.
***
Genap satu tahun setelah suaminya meninggal dunia. Bu Suryo terpaksa meninggalkan desa kecil di pinggiran kota Kuala Simpang, Aceh Tamiang. Sungguh miris, bersama ratusan keluarga lainnya, mereka harus lari dari ‘tanah’ kelahiran mereka sendiri.
Puluhan tahun sudah mereka mendiami lokasi transmigrasi. Datang dari berbagai daerah dengan berbagai latar belakang profesi. Mereka mengolah tanah yang tandus menjadi daerah pertanian yang subur dan menghasilkan.

Mereka juga beternak, mulai dari ayam, lembu hingga kerbau.
Hasilnya dijual dengan harga cukup tinggi di ibukota kecamatan.
Tapi apa mau dikata, konflik berkepanjangan yang kian lama kian mengancam keselamatan (terutama kaum pendatang) pada akhirnya membuat mereka terpaksa memutuskan untuk hengkang.
Siapa yang mampu hidup ditengah teror.
Bahkan hampir setiap pagi ditemukan mayat-mayat tergeletak tak bernyawa.
Melulu dengan dada atau kepala berlubang akibat ditembus peluru.
Nyawa manusia sepertinya tidak lebih berharga dibanding nyawa seekor kambing.
Namun begitu, masih ada saja yang bersikeras untuk tetap bertahan.Surtini adalah satu dari sekian orang yang tidak ingin menyingkir dari tanah itu.
Ia bahkan pernah mengatakan, jika kiranya sang ibu pergi bersama pengungsi lain, maka dirinya akan tetap bertahan.
Bukankah ini tanah dari buyut-buyut kita dulu, bu,? tanyanya dengan polos.
“Sudahlah, Surti. Kamu ini masih terlalu muda untuk membicarakan masalah politik. Bagaimanapun kita harus meninggalkan daerah ini. Kalau tidak ingin bernasib sama seperti ayahmu”.
“Tapi , Bu…”
““Tidak ada tapi-tapian,”potong Bu Suryo cepat.
Ia benar-benar tidak ingin nasib buruk menimpa keluarganya. Setelah kematian suaminya yang diculik tiga orang tak dikenal di tengah malam buta, ia selalu dilanda rasa takut.
Beberapa hari kemudian Pak Suryo ditemukan di sebuah kawasan perkebunan tidak jauh dari batas desa.
Tubuhnya sudah kaku dengan lebam di sana sini. Dua lubang menganga di bagian belakang kepala.
Bu Suryo sampai sekarang tidak mengerti mengapa suaminya dibunuh. Suaminya hanya seorang Kepala Desa.
Masih segar dalam ingatannya, betapa malam berhujan itu pintu rumah mereka digedor orang.
Gedorannya cukup keras. Ada tiga orang pria di sana. Tinggi besar, tegap, dengan sapu tangan menutup sebagian wajah mereka.
Setelah bercakap-cakap sejenak ketiga laki-laki itu kemudian membawa pergi suaminya.
Pak Suryo tidak sempat mengucapkan sepatah kata pun padanya yang berdiri di depan pintu.
Hanya matanya tampak berkaca dengan binar memancarkan kecemasan.
Malam menelan mobil jeep itu dalam kekelaman.
***
Tapi memulai kehidupan baru (terlebih di kota Medan) bukanlah hal yang mudah. Medan adalah kota yang terkenal keras.
Persaingan di sini sangat ketat, hampir mirip dengan Jakarta.
Hanya yang kuat atau berkemampuanlah yang bisa tetap bertahan. Yang berada di luar kriteria itu harap minggir saja sebelum benar-benar tergilas.
Kesulitan Bu Suryo sendiri semakin berlipat karena dia harus berperan ganda, menjadi ibu sekaligus ayah bagi ketiga putra-putrinya.
Pengungsi asal Aceh di Medan agak buruk namanya.
Masyarakat terkesan sinis pada mereka.
Jangankan diterima dengan tangan terbuka. Para pengungsi sangat sulit untuk mendapatkan tempat yang layak. Tentunya tidak berlaku bagi yang berkantong tebal. Mereka bisa membeli rumah-rumah mewah di beberapa perumahan elit.
Hal ini juga yang terjadi pada bu Suryo dan ketiga anaknya.
Selama berminggu-minggu mereka hanya luntang lantung ke sana ke mari. Sebentar bergabung dengan para pengungsi lain di lokasi penampungan. Lantas menggelandang lagi. Sementara uang simpanan terus berkurang.
Kaum pengungsi adalah kaum yang paling menderita di dunia.
Sudah tergerus oleh alam (angin, hujan dan sebagainya), mereka masih juga harus berhadapan dengan berbagai macam pungli, baik yang dilakukan oleh preman maupun petugas nakal.
Untunglah, berkat bantuan seorang kenalan yang sudah duluan eksodus, mereka akhirnya berhasil mendapatkan rumah kontrakan yang harganya cukup miring.
Rumah itu lumayan besar. Kamarnya tiga, letaknya pun strategis di pinggir jalan utama menuju pinggiran kota.
Bu Suryo mengangankan kalau di rumah itu kelak dia akan membuka usaha.
Singkat cerita, atas usul kenalan yang menolongnya tadi, Bu Suryo membuka usaha warung nasi khas Aceh. Menu andalannya apalagi kalau bukan gulai kepala ikan kakap.
Selain itu, di sana juga bisa di dapat berbagai macam jajanan semacam mie dan kue-kue. Atas izin Allah SWT dan berkat keuletannya bersama ketiga putra-putrinya, warung itu lama kelamaan ramai dikunjungi pembeli.
***
Satu masalah yang mengganjal adalah soal keberadaan mereka.
Warga sekitar nyata terlihat kurang bersahabat.
Hal yang sama dirasakan pula oleh ketiga anaknya.
Mereka selalu mendapat cemoohan di sekolah.
“Bu..kenapa orang-orang di sini membenci kita?”
Ia sendiri heran, di tengah kota besar seperti Medan masyarakatnya masih ada yang membedakan antara satu suku dengan lainnya.
Apakah karena mereka berasal dari Aceh?
Taruhlah keadaan di sana memang sedang bergejolak. Tapi kenapa mesti rakyat kecil yang sudah menderita malah jadi korban?
Kalau Medan tidak bisa menerima, kemana lagi kami harus menyingkir?
Kemarin Yanto, anak bungsunya pulang dengan seragam robek-robek.
Ketika ditanya anak itu bilang ia berkelahi.
Yanto disela senguknya menjelaskan, ini semua akibat cemoohan teman sekelas.
Bu Suryo sudah berkali-kali menjelaskan pada ketiga putra-putrinya bahwa hal kecil jangan terlalu diambil pusing.
Tapi memberitahu mereka sia-sia saja. Ketiga anaknya sama sekali tidak pernah mau mengerti. Bahkan ia pernah memberitahu kepada ketiga anaknya bahwa mereka berdarah Jawa, tapi apa jawaban yang diterimanya: “Kalau tinggal di Aceh, ya orang Aceh,” jawab mereka serempak.
Bu Suryo sebenarnya bangga akan keteguhan pikiran anak-anaknya. Apalagi Surti. Ia tetap menganggap dusun kecil tempat ia dilahirkan adalah kampung halamannya.
Menurut gadis yang sekarang sudah duduk di bangku kelas tiga SMU itu, bagaimana pun hidup di kampung lebih enak. Masyarakatnya ramah dan suasana kekeluargaan masih kental.
***
Sore itu Surti datang ke sekolah untuk mengikuti bimbingan. Setelah hampir satu jam guru yang ditunggu belum juga datang.
Tiba-tiba seorang siswa masuk membawa kertas pengumuman bawa guru yang akan memberikan pelajaran tambahan berhalangan hadir.
Kontan saja semua siswa bersorak gembira.
Surti langsung menyambar tasnya yang tergeletak di meja. Namun dalam waktu yang bersamaan Esti pun melakukan hal yang sama.
Tabrakan tidak dapat dihindari.
Buku yang sudah berada di tangan Esti terpelanting ke lantai.
“Maap…”
Surti dengan setengah membungkuk mengutip buku yang berserakan di lantai.
Tapi malah Esti menendangnya kembali.
“Kamu nggak punya mata ya…?”
“Aku nggak sengaja, Es, Sorry ya,” ucap Surti dengan wajah memelas.
“Kamu jangan cari gara-gara, ya. Sudah di kampungnya di usir di sIni pun bikin masalah,” Esti lebih dulu memotong.
Mendengar kata-kata itu Surti langsung menghentikan niatnya untuk mengutip buku-buku itu.
Ia bangkit dan menatap tajam ke arah Esti.
“Apa kamu bilang?
Ia mulai tidak bisa menahan emosinya.
Kata-kata Esti seolah mengejeknya.
Esti kemudian mencibir sambil tersenyum sinis. Darah Surti langsung naik. Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Esti sudah keterlaluan. Entah kekuatan apa yang merasuki jiwa Surti tiba-tiba diterkamnya tubuh Esti yang memang sejak lama sudah menampakkan sikap permusuhan padanya.
Leher putih mulus itu dikepitnya kuat-kuat dengan kedua belah tangan.
Terang saja yang dicekik menjadi susah bernafas.
Dicobanya menolak tubuh Surti agar cengkaraman itu terlepas tapi usahanya gagal.

Siswa lain mulai berteriak-teriak. Ada yang kesenangan namun ada pula yang berusaha melerai.
Surti semakin beringas, dengan seluruh tenaga didorongnya tubuh itu hingga terjatuh.
Masih belum puas, diangkatnya sebelah kaki. Buk! Darah segar mengalir dari hidung Esti.
Menyaksikan adegan yang kian mencekam itu salah seorang siswi menarik Surti.
“Sudah Sur…!”
Digoyang-goyangkannya wajah Surti yang sudah benar-benar kerasukan setan.
Namun Surti tidak perduli. Dengan cepat ia melompat ke atas meja sambil berteriak-teriak.
Kalian memang manusia berhati iblis. Jangan mentang-mentang aku pengungsi kalian hina seenaknya. Keluargaku pindah ke sini karena terpaksa. Puluhan tahun lalu kakek nenekku dipaksa meninggalkan Pulau Jawa. Mereka diwajibkan merubah lahan di Aceh agar menjadi tanah pertanian yang subur.
Setelah berhasil, apa yang kami terima?. Rumahku dibakar, ayahku mati tertembak. Sampai di sini kalian perlakukan kami seperti ini…”
Semua siswa tertunduk mendengar teriakan Surti.
Suasana menjadi hening. Surti turun dari atas meja dan melangkah ke luar.
Beberapa guru yang datang setelah mendengar keributan ikut tertunduk.
Surti sudah nekad. Hukuman apapun yang akan dijatuhkan kepala sekolah akan ia terima.
Dikeluarkan dari sekolah…? Ia tidak takut.
Hari ini hatinya lega karena sudah melepaskan semua uneg-uneg yang selama ini mengganjal di hatinya.
Ia sudah cukup sabar menghadapi sikap teman-teman bahkan guru-gurunya di sekolah.
***
Sampai di rumah ia langsung merebahkan diri di atas kasur.
Sesaat pikirannya menerawang jauh ke sebuah desa yang tenang dan sejuk.
Terbayang wajah teman-temannya saat bersekolah di sana dulu.
Mereka semua baik-baik dan ramah. Kenapa suasana menyenangkan itu begitu cepat berlalu?
Sahabat karibnya Mutia yang sampai sekarang masih sering berkirim surat menceritakan keadaan di tanah kelahiran mereka.
Ya, hanya gadis itulah yang masih bertahan di sana.
Teman-temannya yang lain sudah tidak tentu lagi nasib dan keberadaannnya.
Surti terbayang kembali suasana pilu di hari perpisahan tempo hari.
Mutia menangis sambil memeluk tubuh Surti yang dengan langkah berat terpaksa mengikuti kemauan ibunya untuk pindah.
Tiba-tiba ia teringat akan surat sahabatnya yang seminggu lalu baru ia terima tapi belum sempat dibalas.
Surti meraih pena dan kertas.
Dirangkainya baris kata sambil sesekali menyeka air mata yang membasahi kertas.
Surat yang sedikit lembab itu dilipatnya perlahan.
Dalam hati ia bersyukur karena masih memiliki seorang sahabat yang bisa diajak berbagi rasa. Walau hari-harinya hanya diisi desingan peluru. Di tengah suasana yang sedemikian mncekam ia masih dapat berfikir jernih.
Surti kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia terlelap bersama mimpi yang mengobati rasa rindunya pada kampung halaman.
( Sudah dimuat di Majalah DOR Edisi 20 Agustus 2003)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s