PROYEK EDFF UNTUK SIAPA?

PROYEK EDFF UNTUK SIAPA?

Sudah 4,6 tahun tragedi memilukan yang merenggut ratusan ribu nyawa manusia yang tidak berdosa di Aceh dan Nias. Di tengah ratapan para sanak keluarga yang ditinggalkan kita patut berucap syukur atas perhatian dunia yang memberikan bantuan melalui tangan LSM baik lokal maupun asing. Berbagai bentuk bantuan mulai dari perbaikan infrastruktur seperti pembangunan perumahan bagi korban tsunami, pendidikan, rehabilitasi mental, dan lain-lain.

6 April 2009, ditandai dengan berakhirnya masa tugas Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR NAD-Nias) maka proses rehab rekon pun berakhir pula.
Sebelumnya, satu persatu LSM yang awalnya mencapai ratusan jumlahnya telah meninggalkan Aceh dan kembali ke negara mereka masing-masing.
Kini hanya ada beberapa yang masih bertahan dan kebanyakan adalah yang memang sudah terlebih dulu eksis di Indonesia jauh sebelum tsunami dan berkantor di Jakarta.

Ketakutan masyarakat Aceh sepeninggal LSM asing sebenarnya tidak perlu terjadi apabila masyarakat tidak lagi berharap hidup dari bantuan materil mereka.
Sudah saatnya bangkit bersama-sama menata kembali kehidupan seperti saat sebelum tsunami memporak-porandakan sebagian wilayah NAD-Nias.

Aceh memiliki kekayaan alam dari hasil laut, hutan, tambang, pertanian dan masih jauh lebih baik dibanding wilayah lain di Indonesia termasuk Pulau Jawa yang masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan meski sudah bekerja keras.

Apalagi kepergian LSM luar tidak terjadi secara mendadak dan masih ada yang tetap berjalan untuk program pasca tsunami.

Masyarakat Aceh, khususnya korban tsunami masih bisa bernafas lega karena pada 2009-2011, negara-negara Eropa yang tergabung dalam Multi Donors Fund (MDF), berjanji akan membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat Aceh dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 500 miliar.
Economic Development Financing Facility (EDFF) akan membiayai serangkaian subproyek dalam mendorong pemulihan ekonomi pascatsunami serta pembangunan ekonomi jangka panjang yang merata dan berkesinambungan di Aceh.

Jika Aceh mampu memanfaatkan bantuan tersebut maka dana yang akan diberikan merupakan titik awal pembelajaran kemandirian masyarakat terutama LSM-LSM lokal yang ada untuk bersama-sama meningkatkan perekonomian Aceh melalui sektor perkebunan, perikanan, pertanian yang bisa menjadi lahan bisnis yang menguntungkan.

Untuk pengerjaan proyek ini, PMU sebagai unit pengelola dana telah mengundang secara terbuka para Sub-project Implementing Entities/SIE yang terdiri dari berbagai LSM baik asing, lokal, asosiasi, sektor swasta untuk meneruskan proses pembangunan di Aceh dari berbagai sektor secara berkesinambungan.
Namun komite seleksi yang terdiri dari pemerintah provinsi Aceh, pemerintah pusat, dan anggota masyarakat akademis yang dilibatkan dalam memilih sub proyek harus selektif dalam membantu menentukan sub proyek yang akan bekerja nanti.

Spesifikasi Pemilihan Proyek

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dimana selain mengatasi hambatan bisnis , termasuk sarana dan prasarana, maka penciptaan lapangan kerja juga perlu mendapat prioritas.

Bagaimana mengurangi ketergantungan Aceh terhadap Sumatera Utara dari berbagai sektor seperti yang selama ini terjadi. Pada sektor pertanian misalnya, upaya apa yang dapat dilakukan guna menekan tingginya arus keluar gabah Aceh ke Medan. Tersedianya beberapa bahan pokok untuk konsumsi lokal tanpa seluruhnya menerima pasokan dari Sumatera Utara.

Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana meningkatkan perekonomian dari sektor-sektor yang ada tanpa merusak sistem yang telah dibentuk oleh petani sebelumnya.

Jika sebelum proyek EDFF masyarakat petani sudah menanam misalkan kedelai maka tidak perlu berhenti dan beralih menanam jenis palawija lain mengingat komoditi tersebut juga dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan dan bahan baku bagi industri makanan lainnya.
Apa upaya yang dilakukan agar produksi meningkat serta menjadikan komoditi yang telah mereka pilih sebelumnya menjadi sebuah bisnis pertanian yang memiliki prospek yang cerah ke depannya.

Penganekaragaman tanaman palawija perlu digalakkan dan kita bisa memetik pelajaran berharga dari apa yang pernah dialami saudara kita para petani di Tanah Karo beberapa tahun silam. Saat itu masing-masing petani hanya menanam satu jenis tanaman saja dan apa yang terjadi saat panen, harga komoditi tersebut turun drastis dan mereka mengalami kerugian besar bahkan ada yang nekad mengakhiri hidupnya.

Kita tidak ingin hal tersebut terjadi di Aceh dan untuk itu pihak yang berkompeten dalam mengambil keputusan baik itu Project Management Unit (PMU) maupun Worldbank harus berhati-hati dalam memutuskan siapa pemenang proyek ini. Perlu difikirkan lebih jauh lagi apa manfaat dan resikonya ke depan.

Teks Photo: salah satu area pertanian yang dulunya terparah dilanda tsunami di kawasan Aceh Besar-photo by: Marni

Teks Photo: salah satu area pertanian yang dulunya terparah dilanda tsunami di kawasan Aceh Besar-photo by: Marni

Terciptanya Lapangan Kerja Lokal

” Para negara yang tergabung di dalam Multi Donor Fund untuk Aceh akan menghibahkan dana tersebut bagi pemberdayaa ekonomi masyarakat Aceh yang menjadi korban konflik dan tsunami pada 2009-2011.
Setelah empat tahun proses rehab-rekon, masyarakat Aceh sudah bisa menatap kembali masa depannya, setelah pihak BRR bersama 400 lembaga dan negara donor, telah membangun rumah dan berbagai fasilitas umum dan sosial. Namun, masyarakat Aceh, terutama para korban tsunami dan konflik, masih sangat membutuhkan modal dan lapangan kerja, supaya mereka bisa hidup tenang bersama keluarganya, demikian Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar. (Serambi 27 May 2009 dengan judul ” MDF Bantu Rp.500 M untuk Ekonomi Aceh” )

Dari pernyataan Wagub tersebut bahwa modal usaha dan lapangan kerja memegang peranan penting dalam mensejahterakan ekonomi masyarakat.

Terciptanya lapangan kerja sebagai salah satu sasaran dari proyek ini harus benar-benar terlaksana mengingat pasca BRR dan NGO, saat masa tanggap darurat dan masa sekarang sudah jauh berbeda.

Pada masa emergency para pencari kerja yang berasal dari luar daerah banyak mendominasi sejumlah LSM asing yang ada. Kini saatnya pula para sub proyek yang mendapat dana EDFF menyerap tenaga kerja lokal dan mampu menciptakan lapangan usaha bagi masyarakat.

Hal ini guna mencegah terjadinya kecemburuan sosial seperti yang terjadi di masa lalu saat industri-industri besar masih berdiri megah di kawasan industri Lhokseumawe.

25 Juni 2009 batas akhir penerimaan proposal untuk proyek EDFF, melihat dari kriteria yang ditetapkan bagi para kandidat, kita masih menaruh harapan para LSM lokal, asosiasi lokal dan yayasan lokal atau LSM yang memiliki tenaga kerja lokal mendapat prioritas agar proses kemandirian bisa terlaksana dan ketergantungan masyarakat terhadap LSM asing akan berkurang.

Saatnya dunia mempercayakan LSM lokal untuk mengelola serta membangun daerah nya sendiri sehingga rasa cemas saat ditinggalkan oleh NGO asing pasca tsunami berangsur hilang.

Jangan sampai proyek ini malah menjadikan masyarakat Aceh sebagai korban kepentingan segelintir oknum yang bekerja hanya untuk mendapatkan keuntungan dan pergi begitu saja setelah dana di Aceh menipis karena yang rugi adalah orang Aceh sendiri.

Proyek ini tidak perlu merubah mata pencaharian masyarakat yang awalnya petani pala menjadi kopi, dari petani kedelai menjadi palawija lain yang tidak bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan, atau dari nelayan tangkap menjadi budidaya. Namun yang terpenting adalah bagaimana meningkatkan produksi dan ekonomi masyarakat dari sektor yang ada baik pertanian, perkebunan, perikanan, dan sebagainya.**

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s