Untuk si Burung Merak
Ketika Sayap Indahmu
Menyusun Baris demi Baris
Aku hanya terkagum dan bermimpi
Andai satu saat nanti sayap indahmu dapat kumiliki
Aku lahir saat kepakmu
Menghantam Wajah-wajah palsu sang penguasa negeri
Hingga rela terkurung dibalik jeruji
Kucoba hirup udara nafasmu
Agar menyatu dalam jiwaku
Kususun kata dengan segenap imajinasiku
Agar menjadi rangkaian bermakna
Kini hembusan nafasmu telah terhenti
Namun keindahan itu tak akan pernah pudar
Kau kembali ke singgasana Nya
Selamat jalan sang Merak
Ijinkan kami terbang bersama rangkaian kata
Menyambung hari dan mimpi anak negeri
***
Medan 07 Agustus 2009 (Sumarni Dahlan)
Add comment Agustus 12, 2009
sumarnidahlan
Training Business Plan Radio 9-10 Januari 2009
Photo Training Business Plan Radio “Saweu Tani” di Banda Aceh

Pembukaan Training oleh Program Manager Economic Dev Unit (EDU) MercyCorps Banda Aceh

Photo Bersama Peserta Training, Trainer dan MercyCorps

Peserta Training terlihat tekun mempratikkan kembali berbagai materi yang telah diajarkan satu per satu

Diskusi bersama para peserta yang keseluruhan berasal dari RRI Banda Aceh

Game Buaya untuk menghilangkan kejenuhan yang diperlihatkan oleh para peserta yang dibagi atas dua kelompok

Photoku Disela-sela Acara Training

Kata Sambutan dari Panitia Pelaksana Training (MercyCorps) diakhir Acara

Penyerahan Cenderamata oleh MercyCorps kepada RRI Banda Aceh
2 comments Februari 15, 2009
sumarnidahlan
Training Radio Production & Marketing 27-31 Jan 09
Satu minggu terlalu singkat keakraban itu kita lalui. Tapi meski berat, perpisahan akhirnya terjadi dan kita kembali ke aktifitas keseharian masing-masing.
Kami Tim Penyelenggara Training mengucapkan Selamat dan Sukses buat para peserta training, RRI Banda Aceh, Pak Eddy Siswanto (RRI Medan), Uni Lucyanita Usman (RRI Padang), Ibu Fauziah Hasibuan (RRI Sibolga), Uni Rismaniar (RRI B.Tinggi), Ibu Salihah (RRI Lhokseumawe), Zulkarnaen (RRI Lhokseumawe), Pak Kastiono (RRI T.Pinang), Pak Erfan (RRI G.Sitoli), Irwansyah Putra (Aceh TV),Pak Judi Ramdojo (Trainer-Jkt) dan seluruh peserta lainnya.
Semoga kita dapat berkumpul bersama kembali di lain waktu dengan keakraban yang sama. Amin

Photo pembukaan Training Production & Marketing RRI se Sumatera Diselenggarakan oleh RRI Banda Aceh bekerjasama dengan MercyCorps Aceh

FGD Bersama CWS dan ADB Tim tentang ‘Informasi Pertanian”

Para Peserta Berdiskusi untuk Menyusun Strategi Pemasaran dan Penulisan naskah Mini Drama

Refreshing Setelah Seharian Training ke Berbagai Objek Wisata Tsunami. Peserta Berada di Perumahan Persahabatan Tiongkok-Indonesia yang merupakan Rumah Bantuan untuk Para Korban Tsunami .

Malam Keakraban di RRI Banda Aceh (tuan rumah) bersama para peserta Training RRI se Sumatera dihadiri peserta dari RRI Padang, RRI Bukit Tinggi, RRI Medan, RRI Sibolga, RRI Lhokseumawe, RRI Gunung Sitoli, dan RRI Tanjung Pinang Kepulauan Riau , Aceh TV,dan MercyCorps.

Pak Eddy Sukmana (Kacab RRI Banda Aceh, diam2 punya bakat nyanyi juga nih …soal suara sekelas Uthalikumahuwa, mus mujiono …he..he)

Lismawarni Arrahman (RRI Banda Aceh) waduh—waduh…lagu “Terlena” nya bikin semua jadi terlena.

Amboi2…Uni Lucy (RRI Padang) Suaranyo Indak jauh beda sama Ermy Kulit. Pasti si Uda jatuh bangun mandanga suaro uni. Kalaulah Iwan (Aceh TV) jadi manantu, untuang bana dapek mertuo pandai banyanyi…(just a kidding uni…)

Bung Eddy Siswanto (RRI Medan). Bukan cuma teater, bakat nyanyi Pak Edy ruarrrrrrr biasa. Ternyata RRI semua orang pilihan ya.Bravo…RRI !

Yahhhh… daripada kalah telak 9-0 dari RRI, aku mewakili coprs ku(Mercy) ikutan nyumbang suara juga.
Ga perduli jilbab miring kiri kanan, yang penting unjuk kebolehan.Kalau kalah pun paling2 Be Te alias Beda2 Tipis lah….

Tuh kan…buktinya Pak Eddy Sukmana aja sampe bengong denger lagu “Cinta” aku.(Narsis..pak) Aku harus ngebuktiin kalau Mercy juga ga kalah sama RRI. Kapan2 undang lagi ya pak…

Anak2 Manis dipaksa nyanyi bareng oleh Pak Guru Judi (Trainer). Kok Soleram Pak…?

Pak…pak…, Pak Hardi (Kasubsi Penyiaran RRI Banda Aceh). Nyanyi atau baca doa nih pak.Kalau nunduk terusss penonton pulang Bapak tinggal sendirian.

PSK yang serba bisa ikutan unjuk kebolehan. Mo di ruang tertutup…? OK. Di lapangan…? OK juga. Di pentas apalagi. Rekan2 RRI memanggilnya dengan Singkatan “PSK” yang kalau dipanjangkan adalah nama beliau yaitu Pirak Sibayak Ketaren. Selain mengisi program acara “Nada dan Lagu” Sabtu Malam Pk.21.00 Wib Bersama Mas Titok (Musisi Aceh) secara Live di RRI Banda Aceh, Keesokan paginya Pak PSK menjadi instruktur senam massal di Lapangan Blang Padang setiap minggu pagi. Hebat..hebat. Kabarnya ..menu yang disuguhkan malam itu adalah hasil kombinasi kerja antara Ibu Kacab dengan PSK.

Antara nyanyi dan mengaji ga ada bedanya. Tapi ga perlu dengar suaranya, cukup liat wajah yang rada mirip bintang Bolywood kita jadi terhibur. Sehari-hari dipanggil Muha(Mercy) kalau ngobrol dengan beliau harus serius mendengar karena suaranya berteriak aja seperti bisik2. He…he..Muha…Muha

Di sela-sela ngantuk dan boring, Pak Judi (Trainer) selalu membuat suasana menjadi hidup kembali. Para peserta digiring ke luar ruangan dan secara kelompok menyelesaikan PR sambil menikmati Secangkir kopi dan kue-kue. Nah ….kalau ada yang mau njepret kamera, semua pada ambil posisi buat nampang.
1 comment Februari 13, 2009
sumarnidahlan
PAK TUA
Waktu itu aku sempat membencimu
Hingga butakan mata dari sesungging senyummu
Ketika kata sanggah dilontarkan
Sesosok tubuh akan lenyap misterius
Siapa dalangnya…?
Meski tau bibir kami hanya bungkam seribu bahasa
Waktu itu tak pernah ada sengketa
Konon lagi teriakan lantang yang dibayar dengan rupiah
Dari bibir para mahasiswa berbalut seragam almamaternya
Yang dengan beringas merusak dan melontarkan sumpah serapah palsunya
Menghabiskan waktu menimba ilmu di depan Gedung pemerintah
Seolah “Unjuk Rasa” mata kuliah utamanya
Tak ada politikus yang cuma bisa menghujat
Ketika dirinya terjungkal oleh lawan politiknya
Tak ada selebritis muslimah yang berbusana separuh dada
Dengan bangga merubah kepercayaannya
Waktu itu aku sempat membencimu
Ketika negeri ini dijajah oleh kearoganan kroni-kronimu
Serta anak cucumu yang hidup bergelimangan harta
Namun tak ada bangunan yang rusak akibat dendam dan kekecewaan
Dari seorang yang tersayat rasa menyaksikan ketidakadilan
Kini aku hanya bisa mengenangmu
Ketika negeri ini dipenuhi oleh kepalsuan dan keegoan para elit politik
Yang memperalat kaum lemah demi memenuhi kemauannya
Wahai Bapak Reformasi:
Inikah maumu…?
Sang pahlawan wong cilik:
Diammu ternyata bukan emas
Kamu sang penebar pesona:
Sampai dimana sikap sabarmu…?
Kita sudah tidak punya orang tua lagi
Yang melambaikan tangan dengan senyum damainya
Bumi pertiwi menangis dan meratap pilu
Ternyata …belum saatnya kebebasan itu ada
Add comment Februari 11, 2009
sumarnidahlan
SURATAN
Kucoba usik janji hati
Dari ketertutupan dan keperihan masa lalu
Kuingin buka pintu nan usang
Namun Badai menghantam dan merusak ruang itu
Kadang kutak mampu menghalaunya dari pikir dan lamunku
Yang setiap saat bermain di sela sibuk maupun sepiku
Yang terkadang mengalirkan kristal bening ditanpa sadarku
Kupasrah dan tak kuasa
Bila badai itu menghancurkan rasa dan asaku
Menjadi penghalang ingin dan harapku
Menjauhkan mimpi nyataku
Meracuni hati dan waktuku
Namun tak kubiarkan ruang itu kosong dan hampa
Kubulatkan tekad dan sumpahku
Melawan takdir dan suratan
Add comment Februari 4, 2009
sumarnidahlan
Daily Misery in Palestine
Let the people know:

Respecting American and British pacifist resisters (such as American Rachel Corrie) :

grievous…!

Israel brute….!

cutthroat….!Masya Allah

Israel ruthless…!

Truly inhumane…!Oh Israel….

barbarous….!

Who’s?

Add comment Januari 7, 2009
sumarnidahlan
Jeritan Hati: “Kemana Hati…”
Kau berlabuh di dermaga hampa
Meratapi kapal yang pergi berlayar
menuju samudra cinta
Meninggalkan pulau kesendiriannya
Kau terhempas diantara kepingan batu karang
Mengusap pedih lautan luka
Menatap pilu jangkar cinta
Yang ditinggalkan tanpa iba
Kau jauhi samudera bahagia
Yang dipenuhi cinta dan kasih nyata
Diantara hembusan angin dan sentuhan lembut hatinya
Dari seorang hamba yang punya rasa
Yang ingin membawamu kemahligai nyata
Apa yang kau cari di dermaga sana…?
Dermaga keji tanpa rasa
Yang telah memporak-porandakan cita dan cinta
Kau ulurkan tanganmu demi nakhoda berhati durja
Bak seekor musang berbulu domba
***
2 comments Desember 23, 2008
sumarnidahlan
Catatan di Hari Ibu
Ibu…maapkan anakmu yang telah menodai kesucian hati seorang ibu
Hari ini aku ingin berbaring di pundakmu sambil menumpahkan semua cerita
Tentang kisah tersembunyi dibalik kebahagiaan lain
Bukan hanya ibu, mungkin semua wanita akan marah dan menentang sikapku
Di sudut hati ini…. tidak terlintas keinginan untuk menyakiti siapapun
Ibu…bukan tak pernah aku mencoba keluar dari lingkaran ini
Tapi ternyata bahagia itu hanya ada ketika aku berjalan
Tanpa sebuah mahligai yang menjanjikan aku
Hanya ibu yang kupercaya untuk mendengarkan semua keluh kesahku
Aku tau, ibu adalah wanita sempurna karena bisa memiliki cinta kasih dari seorang lelaki sejati
Ibu adalah wanita mulia yang disanjung hingga sang Khalik memisahkan
Andaikan aku bisa memilih…aku juga ingin bahagia sepertimu
Ibu…kita adalah wanita yang tidak bisa lari dari garis kultur
Hanya bisa dipilih namun tidak pantas memilih
Pertaruhan yang pastinya akan menyisakan kekecewaan
Ibu jangan salahkan anakmu
Aku memang gagal meraih kebahagiaan sempurna
Biarkan aku menjalani hari-hari indah dengan kesendirianku
Peluk cium dan rindu
Lewat doa dan siraman bunga di pusaramu…
4 comments Desember 22, 2008
sumarnidahlan
Pojok Senyum :”His name is also effort”
![]()
Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil
bertepuktangan, ia berteriak, “Not a play! Not a play!”
Nadine bengong. “Not a play?”
“Yes. Not a play. Bukan main.”
Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah. “Bukan main itu bukan not a
play, Djan.”
“Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.”(Orang
saya sudah periksa di kamus kok).
Lalu berpaling ke Nadine. “Lady, let’s corner (Mojok yuk). But don’t
think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan) . I just want a meal
together.” (Saya cuma mau makan bersama).
“Ngaco kamu, Djan,” Tukidjo tambah gemes.
“Don’t be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK
toch?” (Salah sedikit OK toh).
Nadine cuman senyum kecil. “I would love to, but …”
“Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin
kamu jadi nggak enak)” sambut Wakidjan ramah.
“Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various
kok.”
(Saya nggak akan macam-macam kok).
Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. “Disturbing
aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor?” (Ganggu aja
sih. Emang itu bahasa punya moyang lu).
Tukidjo cari kalimat penutup. “Just itchy Djan, because you speak
English as delicious as your belly button.” (Gatel aja, Djan, soalnya kamu
ngomong Inggris seenak udelmu dewe).
Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, “His name is also effort.”
(Namanya juga usaha)
nb : (from mail by mail)
Ga tau siapa yang memulai dan dari mana asal usulnya tapi guyonan “english rusak” ini bergulir di semua mail rekan- sekantorku .
Aada yang ngasih komen:” this story right-right delicous alias ceritanya bener2 enak”
Salam aku buat all MC staff in Aceh: Ibu Stania Yasin si penyebar virus cerita, Pak Rizal, Pal Zul, Pak Ridwan, Pak Bambang, Pak Isnaini, dll yang susah buat disebutin atu-atu.
Add comment Desember 21, 2008
sumarnidahlan
LIA EDEN…………..(Pandangan Pribadi untuk Tokoh Kontroversial)
|
Dr.Slamet Widodo Lia Eden ditangkap. Wanita yang mengaku malaikat Jibril itu kembali dijadikan tersangka. Dia dituding melakukan pelecehan agama karena menyebarkan ‘maklumat’ yang berisi penghapusan agama. Salahkah dia? Keyakinan memang milik pribadi. Di relung terdalam rasa yakin itu bersembunyi. Baik dan buruk menjadi hak prerogatif. Tidak untuk diwacanakan dan didiskusikan, tetapi untuk dijalani ‘secara pribadi’. Sebab diskusi soal kebaikan itu bukan kebaikan, tapi sekadar diplomasi agar kelihatan seperti baik. Tapi ketika ‘privasi keyakinan’ itu dipublikasikan dan bersinggungan dengan agama yang lain, hukum negara pun menjeratnya. Lia harus menerima itu. Dia divonis bersalah dan meringkuk di penjara, yang kini setelah bebas tersandung kembali kasus serupa.
Di pedalaman Pulau Haruku saya juga sempat ‘terlibat’ ‘ritus jubah putih’ yang meyakini telapak tangan yang membekas di bukit kapur di daerah bekas pangkalan Jepang di perang dunia kedua itu sebagai telapak Sayyidina Ali. Ritus ini amat memacu jantung karena dilakukan secara sembunyi, bisu, dan dalam keheningan belantara sepi.
Di Papua maupun di Pulau Yamdena, patung yang dibuat bukanlah sekadar karya seni. Patung itu disakralkan karena diyakini sebagai awal mula manusia hidup di dunia. Kisah yang mirip dongeng Pinokio si hidung panjang itu diyakini benar. Dan itu ‘sah’ karena tidak ‘menempel’ ke agama yang punya legalitas di negeri ini, dan tidak ditular-tularkan ke pemeluk keyakinan lain, serta ‘tidak berbahaya’. Naudzubillahi mindzalik ! |
1 comment Desember 19, 2008
sumarnidahlan
| Previous Posts |
