The Blue Hearts
KEMANA HATI
Kau berlabuh di dermaga hampa
Meratapi kapal yang pergi berlayar
menuju samudra cinta
Meninggalkan pulau kesendiriannya
Kau terhempas diantara kepingan batu karang
Mengusap pedih lautan luka
Menatap pilu jangkar cinta
Yang ditinggalkan tanpa iba
Kau jauhi samudera bahagia
Yang dipenuhi cinta dan kasih nyata
Diantara hembusan angin dan sentuhan lembut hatinya
Dari seorang hamba yang punya rasa
Yang ingin membawamu kemahligai nyata
Apa yang kau cari di dermaga sana…?
Dermaga keji tanpa rasa
Yang telah memporak-porandakan cita dan cinta
Kau ulurkan tanganmu demi nakhoda berhati durja
Bak seekor musang berbulu domba
***
CATATAN DI HARI IBU
Ibu…maapkan anakmu yang telah menodai kesucian hati seorang ibu
Hari ini aku ingin berbaring di pundakmu sambil menumpahkan semua cerita
Tentang kisah tersembunyi dibalik kebahagiaan lain
Bukan hanya ibu, mungkin semua wanita akan marah dan menentang sikapku
Di sudut hati ini…. tidak terlintas keinginan untuk menyakiti siapapun
Ibu…bukan tak pernah aku mencoba keluar dari lingkaran ini
Tapi ternyata bahagia itu hanya ada ketika aku berjalan
Tanpa sebuah mahligai yang menjanjikan aku
Hanya ibu yang kupercaya untuk mendengarkan semua keluh kesahku
Aku tau, ibu adalah wanita sempurna karena bisa memiliki cinta kasih dari seorang lelaki
sejati
Ibu adalah wanita mulia yang disanjung hingga sang Khalik memisahkan
Andaikan aku bisa memilih…aku juga ingin bahagia sepertimu
Ibu…kita adalah wanita yang tidak bisa lari dari garis kultur
Hanya bisa dipilih namun tidak pantas memilih
Pertaruhan yang pastinya akan menyisakan kekecewaan
Ibu jangan salahkan anakmu
Aku memang gagal meraih kebahagiaan sempurna
Biarkan aku menjalani hari-hari indah dengan kesendirianku
Peluk cium dan rindu
Lewat doa dan siraman bunga di pusaramu…
(seperti yang dikisahkan oleh seorang sahabat dan aku menulisnya dalam ruang ini)
***
SAKIT
Jangan oleskan obat penahan pada lukamu
Karena rasa sakitnya hanya akan hilang sesaat
Tapi obatilah luka itu perlahan-lahan
Maka rasa sakitnya akan hilang dan tidak kembali<
Luka ibarat hati
Bila virus itu masih melekat
Tubuh akan tetap merasa sakit dan tersiksa
Bila hatiterluka
Jangan bohongi diri dan perasaan
Karena…
Rasa itu akan semakin hebat menyerangmu
***
Add comment Desember 6, 2009
sumarnidahlan
Training Business Plan Radio 9-10 Januari 2009
Photo Training Business Plan Radio “Saweu Tani” di Banda Aceh

Pembukaan Training oleh Program Manager Economic Dev Unit (EDU) MercyCorps Banda Aceh

Photo Bersama Peserta Training, Trainer dan MercyCorps

Peserta Training terlihat tekun mempratikkan kembali berbagai materi yang telah diajarkan satu per satu

Diskusi bersama para peserta yang keseluruhan berasal dari RRI Banda Aceh

Game Buaya untuk menghilangkan kejenuhan yang diperlihatkan oleh para peserta yang dibagi atas dua kelompok

Photoku Disela-sela Acara Training

Kata Sambutan dari Panitia Pelaksana Training (MercyCorps) diakhir Acara

Penyerahan Cenderamata oleh MercyCorps kepada RRI Banda Aceh
2 comments Februari 15, 2009
sumarnidahlan
Training Radio Production & Marketing 27-31 Jan 09
Satu minggu terlalu singkat keakraban itu kita lalui. Tapi meski berat, perpisahan akhirnya terjadi dan kita kembali ke aktifitas keseharian masing-masing.
Kami Tim Penyelenggara Training mengucapkan Selamat dan Sukses buat para peserta training, RRI Banda Aceh, Pak Eddy Siswanto (RRI Medan), Uni Lucyanita Usman (RRI Padang), Ibu Fauziah Hasibuan (RRI Sibolga), Uni Rismaniar (RRI B.Tinggi), Ibu Salihah (RRI Lhokseumawe), Zulkarnaen (RRI Lhokseumawe), Pak Kastiono (RRI T.Pinang), Pak Erfan (RRI G.Sitoli), Irwansyah Putra (Aceh TV),Pak Judi Ramdojo (Trainer-Jkt) dan seluruh peserta lainnya.
Semoga kita dapat berkumpul bersama kembali di lain waktu dengan keakraban yang sama. Amin

Photo pembukaan Training Production & Marketing RRI se Sumatera Diselenggarakan oleh RRI Banda Aceh bekerjasama dengan MercyCorps Aceh

FGD Bersama CWS dan ADB Tim tentang ‘Informasi Pertanian”

Para Peserta Berdiskusi untuk Menyusun Strategi Pemasaran dan Penulisan naskah Mini Drama

Refreshing Setelah Seharian Training ke Berbagai Objek Wisata Tsunami. Peserta Berada di Perumahan Persahabatan Tiongkok-Indonesia yang merupakan Rumah Bantuan untuk Para Korban Tsunami .

Malam Keakraban di RRI Banda Aceh (tuan rumah) bersama para peserta Training RRI se Sumatera dihadiri peserta dari RRI Padang, RRI Bukit Tinggi, RRI Medan, RRI Sibolga, RRI Lhokseumawe, RRI Gunung Sitoli, dan RRI Tanjung Pinang Kepulauan Riau , Aceh TV,dan MercyCorps.

Pak Eddy Sukmana (Kacab RRI Banda Aceh, diam2 punya bakat nyanyi juga nih …soal suara sekelas Uthalikumahuwa, mus mujiono …he..he)

Lismawarni Arrahman (RRI Banda Aceh) waduh—waduh…lagu “Terlena” nya bikin semua jadi terlena.

Amboi2…Uni Lucy (RRI Padang) Suaranyo Indak jauh beda sama Ermy Kulit. Pasti si Uda jatuh bangun mandanga suaro uni. Kalaulah Iwan (Aceh TV) jadi manantu, untuang bana dapek mertuo pandai banyanyi…(just a kidding uni…)

Bung Eddy Siswanto (RRI Medan). Bukan cuma teater, bakat nyanyi Pak Edy ruarrrrrrr biasa. Ternyata RRI semua orang pilihan ya.Bravo…RRI !

Yahhhh… daripada kalah telak 9-0 dari RRI, aku mewakili coprs ku(Mercy) ikutan nyumbang suara juga.
Ga perduli jilbab miring kiri kanan, yang penting unjuk kebolehan.Kalau kalah pun paling2 Be Te alias Beda2 Tipis lah….

Tuh kan…buktinya Pak Eddy Sukmana aja sampe bengong denger lagu “Cinta” aku.(Narsis..pak) Aku harus ngebuktiin kalau Mercy juga ga kalah sama RRI. Kapan2 undang lagi ya pak…

Anak2 Manis dipaksa nyanyi bareng oleh Pak Guru Judi (Trainer). Kok Soleram Pak…?

Pak…pak…, Pak Hardi (Kasubsi Penyiaran RRI Banda Aceh). Nyanyi atau baca doa nih pak.Kalau nunduk terusss penonton pulang Bapak tinggal sendirian.

PSK yang serba bisa ikutan unjuk kebolehan. Mo di ruang tertutup…? OK. Di lapangan…? OK juga. Di pentas apalagi. Rekan2 RRI memanggilnya dengan Singkatan “PSK” yang kalau dipanjangkan adalah nama beliau yaitu Pirak Sibayak Ketaren. Selain mengisi program acara “Nada dan Lagu” Sabtu Malam Pk.21.00 Wib Bersama Mas Titok (Musisi Aceh) secara Live di RRI Banda Aceh, Keesokan paginya Pak PSK menjadi instruktur senam massal di Lapangan Blang Padang setiap minggu pagi. Hebat..hebat. Kabarnya ..menu yang disuguhkan malam itu adalah hasil kombinasi kerja antara Ibu Kacab dengan PSK.

Antara nyanyi dan mengaji ga ada bedanya. Tapi ga perlu dengar suaranya, cukup liat wajah yang rada mirip bintang Bolywood kita jadi terhibur. Sehari-hari dipanggil Muha(Mercy) kalau ngobrol dengan beliau harus serius mendengar karena suaranya berteriak aja seperti bisik2. He…he..Muha…Muha

Di sela-sela ngantuk dan boring, Pak Judi (Trainer) selalu membuat suasana menjadi hidup kembali. Para peserta digiring ke luar ruangan dan secara kelompok menyelesaikan PR sambil menikmati Secangkir kopi dan kue-kue. Nah ….kalau ada yang mau njepret kamera, semua pada ambil posisi buat nampang.
1 comment Februari 13, 2009
sumarnidahlan
Daily Misery in Palestine
Let the people know:

Respecting American and British pacifist resisters (such as American Rachel Corrie) :

grievous…!

Israel brute….!

cutthroat….!Masya Allah

Israel ruthless…!

Truly inhumane…!Oh Israel….

barbarous….!

Who’s?

Add comment Januari 7, 2009
sumarnidahlan
Pojok Senyum :”His name is also effort”
![]()
Wakidjan begitu terpesonanya dengan permainan piano Nadine. Sambil
bertepuktangan, ia berteriak, “Not a play! Not a play!”
Nadine bengong. “Not a play?”
“Yes. Not a play. Bukan main.”
Tukidjo yang menemani Wakidjan terperangah. “Bukan main itu bukan not a
play, Djan.”
“Your granny (Mbahmu). Humanly I have check my dictionary kok.”(Orang
saya sudah periksa di kamus kok).
Lalu berpaling ke Nadine. “Lady, let’s corner (Mojok yuk). But don’t
think that are nots (Jangan berpikir yang bukan-bukan) . I just want a meal
together.” (Saya cuma mau makan bersama).
“Ngaco kamu, Djan,” Tukidjo tambah gemes.
“Don’t be surplus (Jangan berlebihan), Djo. Be wrong a little is OK
toch?” (Salah sedikit OK toh).
Nadine cuman senyum kecil. “I would love to, but …”
“Sorry if my friend make you not delicious (Maaf kalau teman saya bikin
kamu jadi nggak enak)” sambut Wakidjan ramah.
“Different river, maybe (Lain kali barangkali). I will not be various
kok.”
(Saya nggak akan macam-macam kok).
Setelah Nadine pergi, Wakidjan menatap Tukidjo dengan sebal. “Disturbing
aja sih, Djo. Does the language belong to your ancestor?” (Ganggu aja
sih. Emang itu bahasa punya moyang lu).
Tukidjo cari kalimat penutup. “Just itchy Djan, because you speak
English as delicious as your belly button.” (Gatel aja, Djan, soalnya kamu
ngomong Inggris seenak udelmu dewe).
Wakidjan cuman bisa merutuk dalam hati, “His name is also effort.”
(Namanya juga usaha)
nb : (from mail by mail)
Ga tau siapa yang memulai dan dari mana asal usulnya tapi guyonan “english rusak” ini bergulir di semua mail rekan- sekantorku .
Aada yang ngasih komen:” this story right-right delicous alias ceritanya bener2 enak”
Salam aku buat all MC staff in Aceh: Ibu Stania Yasin si penyebar virus cerita, Pak Rizal, Pal Zul, Pak Ridwan, Pak Bambang, Pak Isnaini, dll yang susah buat disebutin atu-atu.
Add comment Desember 21, 2008
sumarnidahlan
LIA EDEN…………..(Pandangan Pribadi untuk Tokoh Kontroversial)
|
Dr.Slamet Widodo Lia Eden ditangkap. Wanita yang mengaku malaikat Jibril itu kembali dijadikan tersangka. Dia dituding melakukan pelecehan agama karena menyebarkan ‘maklumat’ yang berisi penghapusan agama. Salahkah dia? Keyakinan memang milik pribadi. Di relung terdalam rasa yakin itu bersembunyi. Baik dan buruk menjadi hak prerogatif. Tidak untuk diwacanakan dan didiskusikan, tetapi untuk dijalani ‘secara pribadi’. Sebab diskusi soal kebaikan itu bukan kebaikan, tapi sekadar diplomasi agar kelihatan seperti baik. Tapi ketika ‘privasi keyakinan’ itu dipublikasikan dan bersinggungan dengan agama yang lain, hukum negara pun menjeratnya. Lia harus menerima itu. Dia divonis bersalah dan meringkuk di penjara, yang kini setelah bebas tersandung kembali kasus serupa.
Di pedalaman Pulau Haruku saya juga sempat ‘terlibat’ ‘ritus jubah putih’ yang meyakini telapak tangan yang membekas di bukit kapur di daerah bekas pangkalan Jepang di perang dunia kedua itu sebagai telapak Sayyidina Ali. Ritus ini amat memacu jantung karena dilakukan secara sembunyi, bisu, dan dalam keheningan belantara sepi.
Di Papua maupun di Pulau Yamdena, patung yang dibuat bukanlah sekadar karya seni. Patung itu disakralkan karena diyakini sebagai awal mula manusia hidup di dunia. Kisah yang mirip dongeng Pinokio si hidung panjang itu diyakini benar. Dan itu ‘sah’ karena tidak ‘menempel’ ke agama yang punya legalitas di negeri ini, dan tidak ditular-tularkan ke pemeluk keyakinan lain, serta ‘tidak berbahaya’. Naudzubillahi mindzalik ! |
1 comment Desember 19, 2008
sumarnidahlan
Tsunami Heritage and Transportation Guide in Banda Aceh
Warisan Tsunami dan Panduan
Menuju Objek Wisata
Banda Aceh
Oleh: Sumarni Dahlan
Banda Aceh merupakan ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang memiliki berbagai bangunan peninggalan kerajaan Aceh dimasa kejayaannya. Bukan hanya objek wisata sejarah, setelah terjadinya musibah tsunami 26 Desember 2004 lalu, kota Banda Aceh dan sekitarnya banyak dikunjungi para wisatawan yang ingin menyaksikan reruntuhan akibat hantaman ombak tsunami.
Tulisan ini mungkin akan membantu kita untuk menelusuri berbagai objek wisata yang ada mengingat satu objek dengan objek lainnya saling berdekatan.
Penulis menjadikan Terminal Keudah sebagai titik awal perjalanan karena letaknya di pusat kota Banda Aceh agar tidak membingungkan para wisatawan dan tarif angkutan bisa berubah sesuai ketentuan yang berlaku.
1.Objek Wisata Sejarah
Perjalanan dimulai dari Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di pusat kota untuk memudahkan para wisatawan karena sebagian besar objek wisata sejarah yang ada di Banda Aceh terdapat di sekitar Masjid Raya tepatnya Kecamatan Baiturrahman.
1.1 Masjid Raya Baiturrahman
(The Grand Mosque Baiturrahman)

Berada di pusat kota Banda Aceh, bangunan yang memiliki ornamen luar biasa indah ini sudah berdiri megah sejak abad ke XII. Masjid ini pernah terbakar beberapa kali ketika Belanda menyerang Kutaraja (Banda Aceh) tepatnya tahun 1883, namun untuk menarik simpati masyarakat Aceh pemerintah Kolonial Belanda membangunnya kembali. Belum lengkap rasanya apabila sudah menginjakkan kaki di Banda Aceh namun tidak berkunjung atau melihat langsung bangunan ini. Saat tsunami, sedikitpun rusak bangunan aslinya bahkan para warga sekitar masjid raya menyelamatkan diri dengan berlindung di dalam masjid. Karena letaknya yang strategis maka untuk mencapai lokasi bangunan tidaklah sulit, cukup dengan menaiki becak dari terminal angkutan Keudah atau labi-labi (angkutan umum) yang setiap hari lalu lalang di pusat kota, bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja.
Trayek Angkutan labi-labi yang melewati kawasan Masjid Raya:
-Terminal Keudah- Keutapang Dua
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah-Lampeuneurut
-Terminal Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ulee Lheu
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata).
Tarif angkutan Rp.2000 dan Rp.5000 bila menggunakan becak bermotor.
1.2. Museum Aceh
(Aceh Museum)
Masih di kawasan Baiturrahman, beberapa ratus meter ke depan (dari samping kanan Bharata Dept Store) terdapat musium Aceh yang merupakan bangunan tradisional Aceh pada masa Gubernur Militer Belanda, Van Swart
1914. Di depannya mengalir Sungai Krueng Aceh dan apabila sungai tersebut memiliki sarana transportasi seperti perahu atau sampan maka setelah melewati Rumoh Aceh kita bisa menikmati indahnya Meuligo atau pendopo serta gunongan. Di samping kanan terdapat sebuah jam besar yang dikenal dengan sebutan lonceng Cakra Donya. Dari sejarah diketahui bahwa lonceng tersebut merupakan hadiah dari raja Cina, Dinasti Ming yang diantar oleh Laksamana Cheng Ho tepatnya tahun 1414. Pada lonceng terdapat tulisan “Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Tjo”. Bangunan ini berada tidak jauh dari masjid Raya dan bisa ditempuh dengan jalan kaki saja atau menaiki becak bermotor.Untuk menuju lokasi bisa juga dengan menumpangi becak bermotor karena kendaraan umum tidak melintas di jalan STA.Mahmudsyah.
Namun bisa juga menaiki angkutan umum:
- Jurusan Terminal Keudah-Lambaro
- Terminal Keudah-Seulimum
- Terminal Keudah-Indrapuri
- Termina Keudah-Montasik
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-JlT.Chik Di Tiro . Lalu turun setelah jembatan di persimpangan jalan STA.Mahmudsyah-Jl.T.Chik Di Tiro Tarif angkutan tetap yakni Rp.2000 dan Rp.7000 bila menggunakan becak mesin.
1.3. Makam Sultan Iskandar
(The Grave of Sultan Iskandar Muda)
Photo by: Marni.D
Di sebelah musium Aceh terdapat makam Sultan Iskandarmuda, seorang raja yang kejayaannnya hingga mencapai semenanjung Malaysia dan sekitarnya. Iskandarmuda merupakan raja yang sangat berwibawa dan bijaksana bahkan ia mampu menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan pada masa itu.Terletak di Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baturrahman tepatnya Komplek Baperis. Untuk menjangkau lokasi dapat melalui Jalan Sultan Mahmudsyah, di depan Pendopo Gubernur. Makam ini berbatasan dengan Kompleks Makam Kandang Meuh dan Gedung Museum Negeri Aceh di sebelah Utara, gedung urusan rumah tangga gubernuran di sebelah selatan, Kelurahan Peuniti di sebelah timur dan asrama TNI AD di sebelah barat. Tidak ada angkutan umum melintasi jalan tersebut namun bisa dengan menumpangi:
1.4 . Makam Kandang XII
(The Graves Kandang Meuh XII)
Photo by:Marni.D
Komplek pemakan terdapat di Kelurahan Keraton, Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh. Ada 12 makam Sultan terdapat di komplek ini diantaranya:Makam Sultan Ali Mughayatsyah, Sultan Alaidin Riayatsyah al Qahar dan Sultan Salahuddin Riayatsyah. Komplek pemakaman terukir baik dan terawat serta terletak di tempat cukup strategis yakni di Jalan Sultan Alaidin Mansursyah, berjarak 200 meter dari pendopo Gubernur ke arah barat. Makam dapat dikunjungi setiap hari namun tidak ada penjaga khusus makam tersebut. Tidak ada angkutan umum melintasi jalan tersebut namun bisa dengan menumpangi labi-labi:
- Jurusan Terminal Keudah-Lambaro
- Terminal Keudah-Seulimum
- Terminal Keudah-Indrapuri
- Terminal Keudah-Montasik
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-JlT.Chik Di Tiro . Lalu turun setelah jembatan di persimpangan jalan STA.Mahmudsyah-Jl.T.Chik Di Tiro Tarif angkutan tetap yakni Rp.2000 dan Rp.7000 bila menggunakan becak mesin.
1.5 Komplek Makam Kandang Meuh
(The Kandang Meuh Grave)
Photo by: Marni.D
Masih di lokasi yang sama, di komplek Baperis dan Komplek Museum Negeri Aceh terdapat Makam Kadang Meuh.Dua raja Aceh, yang pertama disebut Kandang Meuh dan satu lagi disebut Komplek Makam Sultan Ibrahim Mansursyah.Yang dimakamkan di komplek tersebut adalah Putri Raja anak Raja Bengkulu, Sultan Alaidin Mahmudsyah, Raja Darussalam, Tuanku Zainal Abidin, dan lain-lain.Sedang di komplek Makam Sutan Ibrahim Mansur syah dimakamkan antara lain:Pocut Rumoh Geudong (istri Sultan Ibrahim Mansur), Pocut Sri Banun (anak Sultan Ibrahim Mansur), Sultan Muhammadsyah (anak sultan Mahmud syah), Sultan Husein al Johar al alam syah (anak sultan Mahmud syah), Putro Binen (Kakak sultan Ibrahim Mansur syah, dll.Tidak ada angkutan umum melintasi jalan tersebut namun bisa dengan menumpangi labi-labi:
- Jurusan Terminal Keudah-Lambaro
- Terminal Keudah-Seulimum
- Terminal Keudah-Indrapuri
- Terminal Keudah-Montasik
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-JlT.Chik Di Tiro . Lalu turun setelah jembatan di persimpangan jalan STA.Mahmudsyah-Jl.T.Chik Di Tiro
Tarif angkutan tetap yakni Rp.2000 dan Rp.7000 bila menggunakan becak mesin
1.6. Pendopo Gubernur
(The Govermor Hall)
Di luar Komplek Baperis (bersisian ) terdapat bangunan tempat kediaman Gubernur yang merupakan jejak peninggalan kolonialisme di Banda Aceh. Letaknya di ujung Jalan STA Mahmudsyah dan bangunan memiliki nilai historis-arkeologis yang cukup tinggi dan layak dijadikan sebagai bangunan cagar budaya. Sungai kecil yang bermuara di Krueng Aceh dahulu dimanfaatkan oleh sekoci-sekoci kapal perang Belanda untuk menghubungkan tempat pendaratan di pelabuhan Ulee Lheu dengan kediaman Komandan Militer dan Sipil Belanda.Tahun 1987 gedung tersebut diganti dengan sebutan Meuligo (Mahligai Aceh).Hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke halaman Pendopo dan itu pu apabila ada acara gubernuran.Meski tsunami menghantam hampir seluruh kawasan kota, namun bangunan tidak mengalami kerusakan sama sekali bahkan tidak tersentuh air.Tidak ada angkutan umum melintasi jalan tersebut namun bisa dengan menumpangi labi-labi:
- Jurusan Terminal Keudah-Lambaro
- Terminal Keudah-Seulimum
- Terminal Keudah-Indrapuri
- Terminal Keudah-Montasik
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-JlT.Chik Di Tiro . Lalu turun setelah jembatan di persimpangan jalan STA.Mahmudsyah-Jl.T.Chik Di Tiro
Tarif angkutan tetap yakni Rp.2000 dan Rp.7000 bila menggunakan becak mesin.
1.7. Gunongan
(Gunongan Princess Playground))
Bila masih ingin menikmati beberapa bangunan bersejarah, melalui samping kiri pendopo perjalanan dilanjutkan ke arah Neusu Jaya yang merupakan Komplek Militer Iskandarmuda. Dari kejauhan nampak Gunongan, Disebut gunongan karena bentuknya persis gunung buatan.Sultan Iskandar Muda 1608-1636) sengaja membangun tempat bermain tersebut untuk sang pemaisuri yang disuntingnya dari negeri Pahang Malaysia. Gunongan merupakan wujud kecintaan sang Raja kepada ”Putro Phang” yang jauh dari keluarga.
Trayek Angkutan labi-labi untuk mencapai lokasi:
-Terminal Keudah- Keutapang Dua
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah-Lampeuneurut
-Terminal Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ulee Lheu
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.T.Umar.
Tarif angkutan Rp.2000 dan Rp.10.000 bila menggunakan becak bermotor.
1.8 Taman Budaya
Bersebelahan dengan gunongan tepatnya di Jalan Teuku Umar, sebuah gedung budaya atau lebih dikenal dengan sebutan Taman Budaya berdiri megah. Di sini tempat berlangsungnya pagelaran seni dan tempat berkumpulnya seniman-seniman Aceh. Bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari gunongan atau dari Terminal Keudah menaiki labi-labi.
Trayek Angkutan labi-labi untuk mencapai lokasi:
-Terminal Keudah- Keutapang Dua
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah-Lampeuneurut
-Terminal Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ulee Lheu
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.T.Umar. Tarif angkutan Rp.2000 dan Rp.10.000 bila menggunakan becak bermotor.
1.8. Kerhoff
(Dutch Graves)

Photo by: Marni.D
Merupakan areal pekuburan tempat peristirahatan terakhir para serdadu Belanda saat peperangan melawan Kerajaan Aceh Darussalam yang disebut Kerkhoff. Ada lebih kurang 2.200 orang serdadu termasuk Jendral Kohler yang tewas diterjang peluru pejuang Aceh di depan Masjid Raya dan keseluruhannya dikuburkan di tempat tersebut. Saat tsunami, komplek pekuburan dipenuhi mayat dan sampah yang memakan waktu yang cukup lama untuk membersihkannya. Letaknya tidak jauh dari Simpang Jam menuju Ulee Lheue dan pintu utama terletak di depan Blang Padang.
Trayek angkutan yang melewati lokasi:
-Terminal Keudah- Ulee Lhue
Tarif angkutan hanya 2000 rupiah dan 10.000 rupiah menggunakan becak bermotor
1.9.Perpustakaan Ali Hasjmi
(Ali Hasjmi Libary)
Agar tidak bolak-balik yang memakan waktu dan biaya juga tenaga yang banyak, masih ada satu tempat lagi yang menarik untuk dikunjungi yakni sebuah taman baca yang terletak di Jalan Sudirman Banda Aceh. Bangunan ini merupakan tempat tinggal seorang ulama, Budayawan Aceh dan Politikus yang cukup terkenal .Prof.DR.Ali Hasjmi wafat pada 18 Januari 1998 di Rumah sakit Umum dr Zainoel Abidin, Banda Aceh. karena serangan jantung.
Yayasan Pendidikan Ali Hsjmi diresmikan oleh Prof.DR.Emil Salim, Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup saat itu.
Ali Hasjmy mewakafkan bangunan berupa rumah, dan seluruh buku, baskah-naskah, album photo sejarah di atas tanah seluas 3000m2 kepada Yayasan.
Tidak heran bila kita memasuki ruangan, di dalamnya terdapat berbagai macam koleksi photo kegiatan almarhum Ali Hasjmi, naskah kuno, piagam, dan plakat. Selain itu terdapat koleksi benda-benda antik seperti guci.Ali Hasjmi sangat produktif menulis dan ada 50 buah buku karyanya. Diantara beberapa ruang baca yang paling menarik adalah Ruang Khazanah Dunia Melayu Raya yang berkoleksi buku-buku rumpun Melayu Asia Tenggara.
Trayek Angkutan labi-labi untuk mencapai lokasi:
-Terminal Keudah- Keutapang Dua
-Terminal Keudah- Mata Ie
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.T.Umar- Simpang Tiga- Jalan Sudirman.
Tarif angkutan Rp.2000
1.10. Taman Sari
(Playground Taman Sari)
Di Pinto Khop yang berada tidak jauh dari gunongan terdapat taman bermain anak-anak sehingga tempat ini ramai dikunjungi terutama pada sore hari atau hari libur. Letaknya memanjang di sebelah selatan Masjid Baiturahman dulu di taman ini berdiri Hotel Aceh tempat Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh pengusaha Aceh. Namun Hotel bersejarah ini sudah tidak ada.
Trayek angkutan yang melintasi lokasi:
-Terminal Keudah- Mata Ie
-Termina; Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah Ule Lheue turun di depan Kantor Walikota
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U.Turun di depan kntor Walikota Tarif angkutan Rp.2000 dan becak bermotor Rp.5000
1.11. Tugu Kemerdekaan
(Liberty National Monument)
Masih di Komplek Taman Sari berdiri Tugu Kemerdakaan yang memiliki sejarah tersendiri. Pada perayaan HUT Kemerdekaan RI tempat ini digunakan untuk mengadakan berbagai acara perlombaan seperti panjat pinang, dan sebagainya.
Trayek angkutan yang melintasi lokasi:
-Terminal Keudah- Mata Ie
Terminal Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah Ule Lheue
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U.Turun di depan Kantor Walikota. Tarif angkutan Rp.2000 dan becak bermotor Rp.5000
1.12. Monumen RI 001
(The Monument RI Seulawah)
Rakyat Aceh memiliki andil yang cukup besar dalam dunia penerbangan kita. Di saat seluruh wilayah RI dikuasai Belanda, Aceh yag tidak tertaklukkan menjadi modal bagi perjuangan RI. Rasa sosial masyarakat Aceh yang cukup tinggi mereka menyumbangkan harta benda termasuk emas untuk membeli dua buah pesawat yang diprakarsai masyarakat dan Soekarno dalam pertemuan di Hotel Atjeh seharga $ 120.000 atau 25 kg emas.Replika DC3 Seulawah Agam kini dapat dilihat di Blang Padang, Banda Aceh.Tidak jauh dari monumen RI terdapat lokasi terdamparnya kapal milik PLTD Apung. Trayek angkutan yang melewati lokasi:
-Terminal Keudah- Ulee Lhue
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.ST.Iskandarmuda.
Tarif angkutan hanya 2000 rupiah dan 10.000 rupiah menggunakan becak bermotor.
1.13 Makam Syiah Kuala
(Syiah Kuala Grave)
Setelah seharian penuh melakukan perjalanan menikmati berbagai objek bersejarah di sekitar Masjid Raya, keesokan harinya perjalanan dilanjutkan ke objek wisata yang lokasinya agak jauh dari kota Banda AcehDi Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala terdapat makam seorang ulama besar Kerajaan Aceh Darussalam yang hidup di abad 16 Masehi. Syech Abdurrauf bin Ali Al Jawi Al Fansuri Al Singkili yang diberi gelar kehormatan Teungku Syiah Kuala.Beliau hidup pada masa kejayaan Sultanah Ratu Safiatuddinsyah dan makamnya banyak diziarahi terutama oleh umat Islam dari berbagai penjuru tanah air maupun negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan beberapa negara Islam lainnya.Saat tsunami, objek wisata tersebut banyak mengalami kehancuran dan kini telah dilakukan perbaikan.Memang lokasinya jauh dari pusat kota sekitar 5 km dan apabila ingin berkunjung ke Makam tersebut harus menggunakan kendaraan pribadi atau carteran karena tidak ada angkutan umum yang melintas di sana.
1.14. Kopelma Darussalam
(Syiah Kuala University Monument)
Dari Makam Syiah Kuala perjalanan beralih ke Kopelma Darussalam sebagai pusat pendidikan di Aceh khusunya Banda Aceh. Konon beberapa waktu lalu, Darussalam adalah pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan di nusantara dan wilayah Asia tepatnya saat kerajaan dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Menururt sejarah, Kopelma (Komplek Pelajar dan Mahasiswa) dimulai dengan terbentuknya sebuah badan atau yayasan bernama Yayasan Dana Kesejahteraan (YDKA) tanggal 21 April 1958. Kopelma diresmikan oleh Menteri agama RI K.H Moh Ilyas tanggal 17 agustus 1958 dan dilakukan pula peletakan batu pertama pembangunan Unsyiah. Setahun kemudian Kopelma Darussalam diresmikan oleh Soekarno dengan pembukaan Fakulas Ekonomi sebagai embrio Unsyiah. Presiden RI menoreh perbuatan bermakna pada tugu tersebut:Tekad bulat melahirkan perbuatan yang nyata, Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita. Selain Universitas Syiah Kuala, di Komplek tersebut terdapat pula IAIN Ar Raniry sebuah perguruan tinggi islam ternama.
Trayek angkutan yang melintasi lokasi:
-Terminal Keudah- Darussalam
-Terminal Keudah-Tungkop
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.. Cut Mutia-Jl.R.Supratman-Jl.T.Panglima Polem-Jl.T.Daud Beureueh-Jl.T.Nyak Arief. Tarif angkutan hanya 2000 rupiah.
1.15 .Makam Tgk. Turki
(Tgk.Turkey Grave’s and Mosque)
Komplek makam kuno peninggalan Turki terletak berbarengan dengan Masjid Turki yang terletak di Desa Bitai, Kecamatan Jaya Baru.Luas areal 500 m2 dan berada di tengah-tengah perkampungan penduduk. Di sekitar makam itu terdapat mesjid kuno yang bangunannya mirip seperti bangunan Turki dengan status tanah wakaf.Pada masa dulu, Bitai merupakan perkampungan yang ditempati para ulama Islam dari Pasai Pidie dan Ulama itu berasal dari Negara Baitul Muhadis dan Turki.Pada saat wafatnya Raja Salahuddin, orang Turki memberikan wasiat bahwa pada saat meninggal dunia mereka minta dimakamkan saling berdekatan yaitu di Komplek Situs Makam Tuanku Di Bitai.
Sebagai wilayah terparah dilanda tsunami, korban yang hilang tidaklah sedikit namun atas bantuan Turki melalui palang merah dan bulan sabit merah telah dibangun perumahan perrmanen type-45 untuk korban tsunami di Desa Bitai dan sekiarnya. Memasuki Desa Bitai kita bisa menyaksikan rumah-rumah bantuan bulan sabit merah Turki yang begitu unik dan khas. Juga dilakukan rehab rekon terhadap makam dan masjid Turki dengan gaya bangunan yang mewah dan indah.
Bila ingin mencapai lokasi harus menggunakan mobil carteran karena letak lokasi jauh dari jalan raya namun kondisi jalan sudah baik.
2.Objek Wisata Baru
(New object after tsunami)
Musibah yang terjadi di kota Banda Aceh hanya dapat di kenang lewat sejarah karena beberapa hari setelah tsunami baik pemerintah dan berbagai NGO dalam dan luarnegeri terus melakukan perbaikan struktur dan infrastruktur yang porak-poranda. Boleh dikatakan, saat ini keadaan di Banda Aceh sudah mulai normal dan aktifitas berjalan seperti sedia kala. Namun ada beberapa jejak yang tertinggal dari kedahsyatan gelombang tsunami yang bisa dijadikan sebagai objek wisata tsunami.
2.1. PLTD Apung
(Floating Power Plant)
Photo by: Stania Yasin
Kapal yang semula didatangkan dari Kalimantan untuk mengisi pasokan listrik itu di tempatkan di pelabuhan Ulee Lheu. Namun terjangan tsunami yang sangat hebat, kapal yang berbobot 3600 ton ikut terseret ke daratan sejauh 4-5 km tepatnya di desa Punge Blang Cut Kecamatan Jaya Baru. Sangatlah mustahil kapal seberat itu bisa bergerak melewati rumah penduduk namun kenyataan seperti itulah yang terjadi. Untuk menariknya kembali ke posisi semula adalah hal yang tidak mungkin dilakukan apalagi di sekitar lokasi sudah berdiri kembali rumah-rumah penduduk.Meski masih ada keberatan penduduk karena tapak rumah mereka tertindih oleh kapal tersebut, namun lokasi paling ramai dikunjungi wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara. Terletak di perkampungan penduduk dan untukmencapai lokasi bisa dengan menggunakan labi-labi jurusan Uleee Lheue turun di simpang Punge Blang Cut ata agar lebih mudah menaiki Becak bermotor dengan tarif Rp.25. 000 dari terminal Keudah.
2.2. .Kuburan Massal
(Massive cemetry for tsunami sacrifice)
Kuburan massal yang terletak di Lambaro dan Ulee Lheu merupakan saksi sejarah begitu banyaknya warga yang menjadi korban sehingga mereka diberikan tempat peristirahatan secara massal. Keluarga yang tidak menemui mayat sanak saudaranya hanya bisa mendatangi kuburan massal untuk mendoakan mereka di alam sana.
Trayek angkutan yang melewati lokasi:
-Terminal Keudah- Ulee Lhue
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.ST.Iskandarmuda.
Tarif angkutan hanya 5000 rupiah dan 25.000 rupiah menggunakan becak bermotor.
2.3. Masjid Baiturrahim
(The local Mosque Baiturrahim)
Letaknya tepat di bibir pantai Ulee Lhueue namun sebuah keajaiban yang sulit diterima akal sehat manusia terjadi saat tsunami. Dengan kuasa Allah Masjid Baiturrahim yang jaraknya hanya 50 meter dari laut masih tetap berdiri.
Trayek angkutan yang melewati lokasi:
-Terminal Keudah- Ulee Lhue menuju pelabuhan
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.ST.Iskandarmuda. Tarif angkutan hanya 5000 rupiah dan 25.000 rupiah menggunakan becak bermotor.
2.4. Daerah Tsunami
(Tsunami Disaster Area)
Photo by:Marni.D
Kehancuran yang mencapai 75% dari luas daerah yang ada merupakan sebuah objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi selain kehidupan masyarakat Aceh yang Islami yang dikaitkan dengan ketabahan mereka dalam menghadapi musibah. Boleh dikatakan, Banda Aceh merupakan daerah wisata tsunami dan setiap wisatawan yang datang akan mengunjungi seluruh kota untuk menyaksikan kawasan yang pernah hancur akibat tsunami disamping wisata sejarah.
3.Wisata Kuliner
3.1 Kopi Ulee Kareng
(The Famous Coffee Ulee Kareeng)
Photo by: Marni.D
Ada beberapa keunikan yang terlihat apabila kita menginjakkan kaki di kota Banda Aceh. Di sana-sini banyak warung kopi yang tidak pernah sepi dari pengunjung diantaranya di sekitar Jalan T.Iskandar Ulee Kareng, Reks Peunayong dan Pasar Aceh (masih di kawasan Masjid Raya) bahkan di seluruh kota Banda Aceh. Mengunjungi warung kopi sudah mengakar dalam diri masyarakat Aceh walau di saat konflik sekali pun warung kopi menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan rasa cemas dan takut.
Dikala aman warung kopi juga bermanfaat untuk tempat membicarakan masalah bisnis, politik dan bertukar inspirasi. Bahkan setelah tsunami, warung kopi pulalah yang menjadi tempat menghilangkan rasa lelah para relawan yang datang dalam rangka rehab rekon kota Banda Aceh.Hampir di sepanjang jalan Ulee Kareng terdapat warung kopi dan untuk menjangkau lokasi cukup dengan menaiki angkutan umum dari terminal Keudah jurusan Ulee Kareng dengan membayar ongkos 2000 rupiah.
Bukan hanya di tempat asalnya, kopi Ulee kareng yang sudah sangat terkenal ini juga bisa dinikmati di beberapa warung kopi yang ada di pusat kota yang bisa ditempuh dengan jalan kaki saja.Warung kopi biasanya ramai pada pagi hari, dan semakin ramai menjelang sore dan malam hari. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati cita rasa kopi tapi terkadang mereka sengaja datang untuk menemui rekan dan bahkan pada malam hari banyak kaum adam yang lebih memilih nonton siaran langsung sepak bola dengan menggunakan layar lebar yang banyak terpasang di setiap warung hingga dini hari.
3.2 Reks Peunayong
(Snack Area in Banda Aceh)
Photo by: Marni.D
Letaknya persis di kota Peunayong, dan kawasan ini lebih dikenal sebagai pusat jajanan malam dimana di sekitarnya terdapat beberapa penginapan seperti Hotel Medan, Hotel Parapat, Hotel Cakradonya, Hotel Sultan. Kawasan Reks bak sebuah magnit yang mampu menarik animo setiap orang untuk menghabiskan waktu di sana.
Semakin malam, para pengunjung kian ramai dan untuk lebih menghidupkan suasana, beberapa waktu lalu, Pemko Banda Aceh berniat membangun sebuah pentas di pojok area untuk para insan seni mengingat kawasan tersebut dikelola oleh para seniman dan budayawan Aceh seperti Hasbi Burman (Presiden Reks), Udin Pelor, dll.Tidaklah sulit untuk mencari dimana letak kawasan karena angkutan umum jurusan Darussalam, Ulee Kareng setiap saat melintas di tempat itu dengan ongkos angkutan rata-rata 2000 rupiah.
3.3 Souvenir dan Makanan Khas
(souvenir and traditional meal in aceh)
Sejak kurun waktu yang cukup lama kota Banda Aceh dikenal hasil kerajinannya seperti mainan kalung Pinto Aceh, Rencong, tas motif Aceh dan makanan khas yaitu dendeng Aceh yang dapat dibeli di toko-toko yang ada di Peunayong, Simpang Surabaya dan Pasar Aceh.
Sebelum tsunami, semua jenis souvenir tersebut dapat di beli di Pasar Aceh sebagai pusat perbelanjaan tradisional namun saat ini para penjual belum memiliki satu tempat khusus namun demikian toko souvenir terdapat dimana-mana seperti Peunayong, Neusu Jaya dan Pasar Aceh sendiri. Untuk kawasan Peunayong bisa dijangkau dengan menaiki angkutan umum labi-labi trayek Darussalam dan Ulee Kareng (2000 rupiah), sedang kawasan Neusu Jaya menggunakan angkutan umum trayek Lampeunurut (2000 rupiah). (*)
Warning..!
Its my original article, photo and survey.
Do not copy without Permission.
If U need to copy this article or photo pls type my original name.
Thank you: Sumarni Dahlan
Add comment Desember 18, 2008
sumarnidahlan
My Poems
PAK TUA
Waktu itu aku sempat membencimu
Hingga butakan mata dari sesungging senyummu
Ketika kata sanggah dilontarkan
Sesosok tubuh akan hilang misterius
Siapa dalangnya…?
Meski tau bibir kami hanya bungkam seribu bahasa
Waktu itu tak pernah ada sengketa
Konon lagi teriakan lantang yang dibayar dengan rupiah
Dari bibir para mahasiswa berbalut seragam almamaternya
Yang dengan beringas merusak dan melontarkan sumpah serapah palsunya
Menghabiskan waktu menimba ilmu di depan Gedung pemerintah
Seolah “Unjuk Rasa” mata kuliah utamanya
Tak ada politikus yang cuma bisa menghujat
Ketika dirinya terjungkal oleh lawan politiknya
Tak ada selebritis muslimah yang berbusana separuh dada
Dengan bangga merubah kepercayaannya
Waktu itu aku sempat membencimu
Ketika negeri ini dijajah oleh kearoganan kroni-kronimu
Serta anak cucumu yang hidup bergelimangan harta
Namun tak ada bangunan yang rusak akibat dendam dan kekecewaan
Dari seorang yang tersayat rasa menyaksikan ketidakadilan
Kini aku hanya bisa mengenangmu
Ketika negeri ini dipenuhi oleh kepalsuan dan keegoan para elit politik
Yang memperalat kaum lemah demi memenuhi kemauannya
Wahai Bapak Reformasi:
Inikah maumu…?
Sang pahlawan wong cilik:
Diammu ternyata bukan emas
Kamu sang penebar pesona:
Sampai dimana sikap sabarmu…?
Kita sudah tidak punya orang tua lagi
Yang melambaikan tangan dengan senyum damainya
Bumi pertiwi menangis dan meratap pilu
Ternyata …belum saatnya kebebasan itu ada
*****
RESAH”KU” ORANG KAYA
Ingin kutulis satu janji
Di atas hamparan kertas permadani bertintakan emas murni
Tika lusuhmu dihiasi airmata mendatangi singgasana mewahku
Tika sosokmu yang berpijak pada sandal berhiaskan tali aksesoris peniti
Rendah tubuhmu saat menunggu papasan Tygerku
“Orang miskin…!” Tuluskah senyum dan sikap ramahmu…?
Tanpa harap imbalan dari balik saku celanaku
Andaiku diiringi rona ragu
Jika nanti hartaku digoyang fitnah dan issu
Oleh KPK kah itu
Atau bencana yang dikirim oleh Nya
Akankah rengekmu di subuh buta dulu berbalik kata yang berbisa…?
Atau setiamu tetap bersamaku.
***
UNTUK SI BURUNG MERAK
Ketika Sayap Indahmu
Menyusun Baris demi Baris
Aku hanya terkagum dan bermimpi
Andai satu saat nanti sayap indahmu dapat kumiliki
Aku lahir saat kepakmu
Menghantam Wajah-wajah palsu sang penguasa negeri
Hingga rela terkurung dibalik jeruji
Kucoba hirup udara nafasmu
Agar menyatu dalam jiwaku
Kususun kata dengan segenap imajinasiku
Agar menjadi rangkaian bermakna
Kini hembusan nafasmu terhenti
Namun keindahan itu tak akan pernah pudar
Kau kembali ke singgasana Nya
Selamat jalan sang Merak
Ijinkan kami terbang bersama rangkaian kata
Menyambung hari dan mimpi anak negeri
***
Medan 07 Agustus 2009
***
SURATAN
Kucoba usik janji hati
Dari ketertutupan dan keperihan masa lalu
Kuingin buka pintu nan usang
Namun Badai menghantam dan merusak ruang itu
Kadang kutak mampu menghalaunya dari pikir dan lamunku
Yang setiap saat bermain di sela sibuk maupun sepiku
Yang terkadang mengalirkan kristal bening ditanpa sadarku
Kupasrah dan tak kuasa
Bila badai itu menghancurkan rasa dan asaku
Menjadi penghalang ingin dan harapku
Menjauhkan mimpi nyataku
Meracuni hati dan waktuku
Namun tak kubiarkan ruang itu kosong dan hampa
Kubulatkan tekad dan sumpahku
Melawan takdir dan suratan
***
“KEMANA HATI…”
Kau berlabuh di dermaga hampa
Meratapi kapal yang pergi berlayar
menuju samudra cinta
Meninggalkan pulau kesendiriannya
Kau terhempas diantara kepingan batu karang
Mengusap pedih lautan luka
Menatap pilu jangkar cinta
Yang ditinggalkan tanpa iba
Kau jauhi samudera bahagia
Yang dipenuhi cinta dan kasih nyata
Diantara hembusan angin dan sentuhan lembut hatinya
Dari seorang hamba yang punya rasa
Yang ingin membawamu kemahligai nyata
Ntah apa yang kau cari di dermaga sana
Dermaga keji dan tanpa rasa
Yang telah memporak-porandakan cita dan cinta
Kau ulurkan tanganmu pada nakhoda berhati durja
Bak seekor musang berbulu domba
***
GORESAN DARI SAHABAT
Cinta Bunda
Di sudut itu…ada senyum selalu menyambutmu
Ada tangan, sentiasa menggenggammu
Mengalirkan kekuatan dalam rapuh
Tangan yang siap membantu, melindungi dari bahaya
Atau sekedar mengusikmu
Di sini…ada hati penuh cinta dan kasih tulus
Tempat bermanja, menangis saat kepedihan bersahabat
Meski ikhlas terlupakan saat dirimu dalam bahagia
Anakku sayang…Hanya di sini, di tempat ini
Yang teraman untukmu
Di luar sana…banyak musang-musang liar ber rok mini
ular berbisa yang melengkapi jas mereka dengan dasi-dasi importnya
Atau…
Singa-singa buas
Menutup tubuh mereka dengan kebaya
Bahkan atribut keagamaan
Datanglah padaku yang penuh cinta, keikhlasan
Anakku sayang
(FIFI DAMIRI)
***
“Sujudku”
Adakah waktuTuk ganti galau hati
Adakah tempat luang tuk kuteriakkan rindu pada sepi
Hati yang sering jauh dari sabar & tawakkal
Dalam kekuatan jiwa yang sulit menginsyafi dosa
Hati ini yang kian merindu dan……..
Disetiap jedah waktu
Ingin dipenuhi amal ibadah
Penuh harap, pengampunanMu (Fifi Damiri)

4 comments Oktober 22, 2008
sumarnidahlan
Jeritan Hati
Goresan ini kuterima via sms dari seorang sahabat yang juga seniorku.
LUKA
Rongga dada ini begitu penuh oleh kisi-kisi
tertumpang tindih tiada beraturan
Saling menokak sampai sudut yang paling dalam
Tiada hati untuk menjaga
Agar sisi-sisinya jangan terluka
Biarlah tetes demi tetes darah teraliri
Hingga tiada akan tersisa
Akhirnya…
Aku hanya bisa melihat orang menangisi kesia-siaanku menghadap NYA.
(Fifi Damiri)
Add comment September 15, 2008
sumarnidahlan
| Previous Posts |














