PEDESTRIANISASI KOTA WISATA BERSEJARAH

Sarana pedestrian yang baik sangat mendukung bagi pejalan kaki untuk menikmati udara yang bebas polusi
Jalan kaki merupakan alternatif moda perjalanan yang dapat menghemat energi karena tidak membutuhkan bahan bakar minyak dan bebas polusi.
Sesuai dengan tujuannya yakni memberikan lingkungan pedestrian yang baik, udara bersih, tidak berisik dan nyaman, pedestrian juga dapat mencegah kemacetan lalu lintas seperti yang sering terjadi pada jam-jam tertentu.
*Pedestrian Kawasan Wisata
Menelusuri kota Banda Aceh mengingatkan kita pada sebuah kota kecil bersejarah di semenanjung Malaysia. Kota Malaka atau tepatnya Bandar Hilir ini memiliki berbagai objek bersejarah diantaranya museum budaya, bangunan Stadhuys yang memiliki seni arsitek Belanda, peninggalan portugis, dan berbagai objek yang menarik lainnya.
Dengan hanya berjalan kaki, kita bisa menikmati suasana asri sambil duduk melepas lelah di sudut taman. Kawasan ini memiliki pelayanan pedestrian yang cukup disamping sarana transportasi tempoe doeloe yang disebut “andong”. Kereta yang ditarik oleh seekor sapi tersebut membawa pengunjung berkeliling area untuk berbelanja baik souvenir maupun sekedar berkeliling area objek wisata termasuk pusat perbelanjaan Mahkota Parade.
Jika Banda Aceh sebagai ibukota Serambi Mekah kita ibaratkan Kota Malaka, sedang kawasan Baiturrahman adalah Bandar Hilir yang memiliki berbagai bangunan bersejarah. Sementara pusat perbelanjaan Pante Pirak atau Pasar Atjeh adalah “Mahkota Parade”nya. Maka akan terciptalah kota wisata sejarah yang sangat menarik seperti Malaka.
Adalah sangat mendukung karena kota Banda Aceh memiliki beragam peninggalan sejarah seperti Masjid Raya Baiturrahman, Museum Aceh, Makam Sultan Iskandar Muda, Makam Kandang Meuh, Makam Kandang XII, Pendopo Gubernur, Gunongan, Kerkhoff, Taman Sari, Tugu Kemerdekaan, Monumen RI dan beberapa objek menarik lainnya.
Tidak jauh dari kawasan Baiturrahman masih ada beberapa objek wisata lainnya yang mencatat sejarah baru sebagai kawasan wisata tsunami.
Berita terseretnya kapal berbobot 3600 ton sejauh empat kilo meter telah menyebar luas ke berbagai negara.
Bahkan sebagian mengatakan peristiwa ini merupakan salah satu dari sekian keajaiban dunia.
Kalau dulu, tidak lengkap rasanya menjejakkan kaki ke kota Banda Aceh kalau tidak melihat dari dekat Masjid Raya Baiturrahman.
Saat ini objek wisata yang harus dikunjungi bertambah, salah satunya adalah PLTD Apung.
Sayangnya untuk mencapai objek tersebut kawasan ini belum terpenuhi sarana pedestrian yang memadai. Siang hari udara menyengat yang membuat para wisatawan enggan untuk melangkahkan kaki meski jaraknya cukup dekat dengan objek bersejarah lain seperti Kerkhoff dan monumen RI.
Tidak tertatanya sistem pedestrian yang menghubungkan ruang-ruang terbuka hijau menuju objek wisata baru ini membuat suasana tidak nyaman. Pengunjung yang datangpun hanya sekedar melihat dan tidak ingin berlama-lama lalu meninggalkan lokasi.
Kalau saja kawasan wisata ini tertata rapi, asri dan dapat dimanfaatkan untuk duduk sambil menikmati jajanan kecil, alangkah nyamannya mengunjungi lokasi tersebut.
Pedestrianisasi Kawasan Perkotaan
Pertumbuhan ekonomi kota Banda Aceh meningkat pesat pasca tsunami diiringi dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor khususnya sepeda motor.
Hal ini dipengaruhi kehadiran BRR dan sejumlah NGO yang membantu proses rehab rekon. Sewa rumah melambung yang dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan tinggal maupun kantor. Demikian pula harga makanan selangit termasuk ongkos transport yang berlipat ganda melebihi biasanya baik angkutan umum, becak dan taksi. Uang seolah gampang diperoleh manakala masyarakat masih terus mendapat bantuan termasuk kebutuhan pokok seperti makanan dan lain-lain. Mereka yang cepat tanggap akan berusaha memanfaatkan situasi ini dengan membuka usaha apa saja yang tentunya menghasilkan uang.
Seiring dengan akan berakhirnya tugas BRR di Aceh dan Nias, pemerintah setempat perlu memikirkan bagaimana kondisi kota Banda Aceh pasca BRR dan NGO.
Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi dimana masyarakat baik pedagang, relawan yang semula terbiasa dengan pendapatan tinggi karena berkurangnya jumlah NGO yang ada. Masyarakat akan kembali ke kehidupan normal bahkan bukan tidak mungkin, mereka akan meninggalkan pola hidup konsumtid dan dalam keadaan terpaksa, menjual kendaraan mereka karena faktor ekonomi atau dengan pertimbangan tidak diperlukan lagi. Ketiadaan kendaraan pribadi mendorong mereka untuk kembali memilih angkutan labi-labi disamping becak bermotor sementara pelayanan transportasi belum mampu menjangkau 89 kelurahan yang ada.
Kenyataan yang terlihat di lapangan, labi-labi sebagai sarana tranportasi umum hanya melintasi jalan protokol dan warga terpaksa berjalan kaki dari pemukiman ke tepi jalan.Ironisnya lagi, setelah lelah berjalan mereka harus berdiri di terik matahari menunggu angkutan yang lewat. Ini disebabkan karena ketiadaan sarana pendukung seperti halte, bangku atau setidaknya pepohonan sekedar tempat berteduh.
Pada seminar “Studi Pengembangan Sistem Transportasi Intermoda dan Sistem Pedestrian Kota Banda Aceh 2007-2008, PT Qorina Konsultan Indonesia sebagai salah satu konsultan tata ruang yang ditunjuk oleh Satker Penataan Ruang dan Permukiman BRR NAD-Nias untuk proyek ini memaparkan hasil surveynya. Dikatakan, pedestrian juga dapat menjadi escape building sesuai kondisi yang ada mengingat masyarakat Aceh masih trauma akibat bencana tsunami.
Dalam pembahasan yang dihadiri berbagai elemen terkait transportasi baik dari pihak Organda, Dinas perhubungan, para ahli, dosen dan lain-lain disinggung pula tentang beberapa sarana pedestrian yang kondisinya sangat memprihatinkan. Trotoar yang menganga di sana sini, meski tertutup akan tetapi sangat berbahaya bagi pejalan kaki. Ibarat enjotan (ayunan), ketika satu sisi dipijak maka sisi lainnya akan terjungkit ke atas.
Padahal trotoar sangat dibutuhkan oleh si pejalan kaki terutama saat darurat seperti yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Saat early warning system tiba-tiba berbunyi, seluruh warga panik dan berupaya menyelamatkan diri. Mereka berlari di trotoar dan terjatuh ke dalam lubang akibat kondisi trotoar yang sudah rusak akibat tsunami.
Untuk menciptakan Banda Aceh sebagai kota pejalan kaki memang masih jauh dari harapan. Kendalanya adalah sistem pedestrian yang belum tertata rapi. Pemandangan yang lazim terlihat tiap pagi bahkan siang dan sore hari, para pelajar yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar harus menyeberang jalan sendirian tanpa bantuan orang lain akibat ketiadaan jembatan penyeberangan. Ini sungguh berbahaya bagi keselamatan mereka apalagi kesadaran para pengemudi kendaraan terutama angkutan umum di kota Banda Aceh masih sangat kurang.
Bukan hanya faktor ketiadaan sarana pendukung pedestrian, beberapa permasalahan lain juga sangat mengganggu sistem pedestrian. Kehadiran pedagang kaki lima di seputaran Masjid Raya misalnya, telah merubah fungsikan area yang ada. Sedianya tempat pejalan kaki malah digunakan untuk berdagang.
Kawasan lain seperti jalur antara terminal angkutan labi-labi menuju pasar Aceh, letaknya tidak terlalu jauh namun ketiadaan sarana pedestrian yang baik menyebabkan jarang sekali terlihat orang berjalan kaki.
Pergerakan pedestrian di beberapa lokasi seperti Simpang Lima, perempatan Jalan Diponegoro, pertigaan jalan STA.Mahmudsyah-jalan Pante Pirak-Jalan Diponegoro secara keseluruhan tingkat pelayanan pedestrian masih sangat buruk.
Dari pusat kota menuju pusat perbelanjaan Pante Pirak misalnya, tidak ada ruang terbuka hijau yang menarik minat warga yang berada di pusat kota persisnya di kawasan Masjid Raya untuk berjalan kaki.Padahal angkutan umum labi-labi tidak melewati kawasan tersebut dan posisinya pun tidak jauh.Sarana untuk pedestrian seperti tempat duduk untuk melepas lelah setelah berjalan belum mencukupi.
Keamanan juga perlu menjadi pertimbangan untuk pedestrian terutama pada malam hari, kondisi jalan yang gelap gulita akan membuat rasa takut pejalan kaki.
Terlepas dari persoalan minim tidaknya pejalan kaki, pedestrian memang sangat mendukung terciptanya lingkungan aman, nyaman demi terwujdnya kota wisata bersejarah dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Islami.
Lihat saja kota Malaka yang mayoritas turunan Tionghoanya hidup berdampingan dengan bangsa Melayu dan menjadi pemeluk Islam yang taat pula.
***
(Penulis adalah Pekerja Media dan ikut dalam Tim “Studi Pengembangan Sistem Transportasi Intermoda dan Sistem Pedestrian Kota Banda Aceh” PT.Qorina Konsultan Ind-Satker Penataan Ruang dan Permukiman BRR-NAD Nias)
***
PROYEK EDFF UNTUK SIAPA?
Sudah 4,6 tahun tragedi memilukan yang merenggut ratusan ribu nyawa manusia yang tidak berdosa di Aceh dan Nias. Di tengah ratapan para sanak keluarga yang ditinggalkan kita patut berucap syukur atas perhatian dunia yang memberikan bantuan melalui tangan LSM baik lokal maupun asing. Berbagai bentuk bantuan mulai dari perbaikan infrastruktur seperti pembangunan perumahan bagi korban tsunami, pendidikan, rehabilitasi mental, dan lain-lain.
6 April 2009, ditandai dengan berakhirnya masa tugas Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR NAD-Nias) maka proses rehab rekon pun berakhir pula.
Sebelumnya, satu persatu LSM yang awalnya mencapai ratusan jumlahnya telah meninggalkan Aceh dan kembali ke negara mereka masing-masing.
Kini hanya ada beberapa yang masih bertahan dan kebanyakan adalah yang memang sudah terlebih dulu eksis di Indonesia jauh sebelum tsunami dan berkantor di Jakarta.
Ketakutan masyarakat Aceh sepeninggal LSM asing sebenarnya tidak perlu terjadi apabila masyarakat tidak lagi berharap hidup dari bantuan materil mereka.
Sudah saatnya bangkit bersama-sama menata kembali kehidupan seperti saat sebelum tsunami memporak-porandakan sebagian wilayah NAD-Nias.
Aceh memiliki kekayaan alam dari hasil laut, hutan, tambang, pertanian dan masih jauh lebih baik dibanding wilayah lain di Indonesia termasuk Pulau Jawa yang masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan meski sudah bekerja keras.
Apalagi kepergian LSM luar tidak terjadi secara mendadak dan masih ada yang tetap berjalan untuk program pasca tsunami.
Masyarakat Aceh, khususnya korban tsunami masih bisa bernafas lega karena pada 2009-2011, negara-negara Eropa yang tergabung dalam Multi Donors Fund (MDF), berjanji akan membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat Aceh dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp 500 miliar.
Economic Development Financing Facility (EDFF) akan membiayai serangkaian subproyek dalam mendorong pemulihan ekonomi pascatsunami serta pembangunan ekonomi jangka panjang yang merata dan berkesinambungan di Aceh.
Jika Aceh mampu memanfaatkan bantuan tersebut maka dana yang akan diberikan merupakan titik awal pembelajaran kemandirian masyarakat terutama LSM-LSM lokal yang ada untuk bersama-sama meningkatkan perekonomian Aceh melalui sektor perkebunan, perikanan, pertanian yang bisa menjadi lahan bisnis yang menguntungkan.
Untuk pengerjaan proyek ini, PMU sebagai unit pengelola dana telah mengundang secara terbuka para Sub-project Implementing Entities/SIE yang terdiri dari berbagai LSM baik asing, lokal, asosiasi, sektor swasta untuk meneruskan proses pembangunan di Aceh dari berbagai sektor secara berkesinambungan.
Namun komite seleksi yang terdiri dari pemerintah provinsi Aceh, pemerintah pusat, dan anggota masyarakat akademis yang dilibatkan dalam memilih sub proyek harus selektif dalam membantu menentukan sub proyek yang akan bekerja nanti.
Spesifikasi Pemilihan Proyek
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dimana selain mengatasi hambatan bisnis , termasuk sarana dan prasarana, maka penciptaan lapangan kerja juga perlu mendapat prioritas.
Bagaimana mengurangi ketergantungan Aceh terhadap Sumatera Utara dari berbagai sektor seperti yang selama ini terjadi. Pada sektor pertanian misalnya, upaya apa yang dapat dilakukan guna menekan tingginya arus keluar gabah Aceh ke Medan. Tersedianya beberapa bahan pokok untuk konsumsi lokal tanpa seluruhnya menerima pasokan dari Sumatera Utara.
Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana meningkatkan perekonomian dari sektor-sektor yang ada tanpa merusak sistem yang telah dibentuk oleh petani sebelumnya.
Jika sebelum proyek EDFF masyarakat petani sudah menanam misalkan kedelai maka tidak perlu berhenti dan beralih menanam jenis palawija lain mengingat komoditi tersebut juga dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan dan bahan baku bagi industri makanan lainnya.
Apa upaya yang dilakukan agar produksi meningkat serta menjadikan komoditi yang telah mereka pilih sebelumnya menjadi sebuah bisnis pertanian yang memiliki prospek yang cerah ke depannya.
Penganekaragaman tanaman palawija perlu digalakkan dan kita bisa memetik pelajaran berharga dari apa yang pernah dialami saudara kita para petani di Tanah Karo beberapa tahun silam. Saat itu masing-masing petani hanya menanam satu jenis tanaman saja dan apa yang terjadi saat panen, harga komoditi tersebut turun drastis dan mereka mengalami kerugian besar bahkan ada yang nekad mengakhiri hidupnya.
Kita tidak ingin hal tersebut terjadi di Aceh dan untuk itu pihak yang berkompeten dalam mengambil keputusan baik itu Project Management Unit (PMU) maupun Worldbank harus berhati-hati dalam memutuskan siapa pemenang proyek ini. Perlu difikirkan lebih jauh lagi apa manfaat dan resikonya ke depan.

Teks Photo: salah satu area pertanian yang dulunya terparah dilanda tsunami di kawasan Aceh Besar-photo by: Marni
Terciptanya Lapangan Kerja Lokal
” Para negara yang tergabung di dalam Multi Donor Fund untuk Aceh akan menghibahkan dana tersebut bagi pemberdayaa ekonomi masyarakat Aceh yang menjadi korban konflik dan tsunami pada 2009-2011.
Setelah empat tahun proses rehab-rekon, masyarakat Aceh sudah bisa menatap kembali masa depannya, setelah pihak BRR bersama 400 lembaga dan negara donor, telah membangun rumah dan berbagai fasilitas umum dan sosial. Namun, masyarakat Aceh, terutama para korban tsunami dan konflik, masih sangat membutuhkan modal dan lapangan kerja, supaya mereka bisa hidup tenang bersama keluarganya, demikian Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar. (Serambi 27 May 2009 dengan judul ” MDF Bantu Rp.500 M untuk Ekonomi Aceh” )
Dari pernyataan Wagub tersebut bahwa modal usaha dan lapangan kerja memegang peranan penting dalam mensejahterakan ekonomi masyarakat.
Terciptanya lapangan kerja sebagai salah satu sasaran dari proyek ini harus benar-benar terlaksana mengingat pasca BRR dan NGO, saat masa tanggap darurat dan masa sekarang sudah jauh berbeda.
Pada masa emergency para pencari kerja yang berasal dari luar daerah banyak mendominasi sejumlah LSM asing yang ada. Kini saatnya pula para sub proyek yang mendapat dana EDFF menyerap tenaga kerja lokal dan mampu menciptakan lapangan usaha bagi masyarakat.
Hal ini guna mencegah terjadinya kecemburuan sosial seperti yang terjadi di masa lalu saat industri-industri besar masih berdiri megah di kawasan industri Lhokseumawe.
25 Juni 2009 batas akhir penerimaan proposal untuk proyek EDFF, melihat dari kriteria yang ditetapkan bagi para kandidat, kita masih menaruh harapan para LSM lokal, asosiasi lokal dan yayasan lokal atau LSM yang memiliki tenaga kerja lokal mendapat prioritas agar proses kemandirian bisa terlaksana dan ketergantungan masyarakat terhadap LSM asing akan berkurang.
Saatnya dunia mempercayakan LSM lokal untuk mengelola serta membangun daerah nya sendiri sehingga rasa cemas saat ditinggalkan oleh NGO asing pasca tsunami berangsur hilang.
Jangan sampai proyek ini malah menjadikan masyarakat Aceh sebagai korban kepentingan segelintir oknum yang bekerja hanya untuk mendapatkan keuntungan dan pergi begitu saja setelah dana di Aceh menipis karena yang rugi adalah orang Aceh sendiri.
Proyek ini tidak perlu merubah mata pencaharian masyarakat yang awalnya petani pala menjadi kopi, dari petani kedelai menjadi palawija lain yang tidak bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan, atau dari nelayan tangkap menjadi budidaya. Namun yang terpenting adalah bagaimana meningkatkan produksi dan ekonomi masyarakat dari sektor yang ada baik pertanian, perkebunan, perikanan, dan sebagainya.
( Sumarni Dahlan)
*****
WARISAN TSUNAMI DAN PANDUAN MENUJU OBJEK WISATA KOTA BANDA ACEH
Tsunami Heritage and Transportation Guide in Banda Aceh
Banda Aceh merupakan ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang memiliki berbagai bangunan peninggalan kerajaan Aceh dimasa kejayaannya.Terletak di ujung paling barat Indonesia dan memiliki berbagai obyek wisata yang sangat menarik. Bukan hanya objek wisata sejarah, setelah terjadinya musibah tsunami 26 Desember 2004 lalu, kota Banda Aceh dan sekitarnya banyak dikunjungi para wisatawan yang ingin menyaksikan reruntuhan akibat hantaman ombak tsunami.
Tulisan ini mungkin akan membantu kita untuk menelusuri berbagai objek wisata yang ada mengingat satu objek dengan objek lainnya saling berdekatan.
Penulis menjadikan Terminal Keudah sebagai titik awal perjalanan karena letaknya di pusat kota Banda Aceh agar tidak membingungkan para wisatawan dan tarif angkutan bisa berubah sesuai ketentuan yang berlaku.
1.Objek Wisata Sejarah
Perjalanan dimulai dari Masjid Raya Baiturrahman yang terletak di pusat kota untuk memudahkan para wisatawan karena sebagian besar objek wisata sejarah yang ada di Banda Aceh terdapat di sekitar Masjid Raya tepatnya Kecamatan Baiturrahman.
1.1.Masjid Raya Baiturrahman

The Grand Mosque Baiturrahman-Photo by Marni
Berada di pusat kota Banda Aceh, bangunan yang memiliki ornamen luar biasa indah ini sudah berdiri megah sejak abad ke XII. Masjid ini pernah terbakar beberapa kali ketika Belanda menyerang Kutaraja (Banda Aceh) tepatnya tahun 1883, namun untuk menarik simpati masyarakat Aceh pemerintah Kolonial Belanda membangunnya kembali. Belum lengkap rasanya apabila sudah menginjakkan kaki di Banda Aceh namun tidak berkunjung atau melihat langsung bangunan ini. Saat tsunami, sedikitpun rusak bangunan aslinya bahkan para warga sekitar masjid raya menyelamatkan diri dengan berlindung di dalam masjid. Karena letaknya yang strategis maka untuk mencapai lokasi bangunan tidaklah sulit, cukup dengan menaiki becak dari terminal angkutan Keudah atau labi-labi (angkutan umum) yang setiap hari lalu lalang di pusat kota, bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki saja.
Trayek Angkutan labi-labi yang melewati kawasan Masjid Raya:
-Terminal Keudah- Keutapang Dua
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah-Lampeuneurut
-Terminal Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ulee Lheu
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata).
Tarif angkutan Rp.2000 dan Rp.5000 bila menggunakan becak bermotor.
1.2. Museum Aceh

Aceh Musium-Photo by Marni
Masih di kawasan Baiturrahman, beberapa ratus meter ke depan (dari samping kanan Bharata Dept Store) terdapat musium Aceh yang merupakan bangunan tradisional Aceh pada masa Gubernur Militer Belanda, Van Swart
1914. Di depannya mengalir Sungai Krueng Aceh dan apabila sungai tersebut memiliki sarana transportasi seperti perahu atau sampan maka setelah melewati Rumoh Aceh kita bisa menikmati indahnya Meuligo atau pendopo serta gunongan. Di samping kanan terdapat sebuah jam besar yang dikenal dengan sebutan lonceng Cakra Donya. Dari sejarah diketahui bahwa lonceng tersebut merupakan hadiah dari raja Cina, Dinasti Ming yang diantar oleh Laksamana Cheng Ho tepatnya tahun 1414. Pada lonceng terdapat tulisan “Sing Fang Niat Toeng Juut Kat Tjo”. Bangunan ini berada tidak jauh dari masjid Raya dan bisa ditempuh dengan jalan kaki saja atau menaiki becak bermotor.Untuk menuju lokasi bisa juga dengan menumpangi becak bermotor karena kendaraan umum tidak melintas di jalan STA.Mahmudsyah.
Namun bisa juga menaiki angkutan umum:
- Jurusan Terminal Keudah-Lambaro
- Terminal Keudah-Seulimum
- Terminal Keudah-Indrapuri
- Termina Keudah-Montasik
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-JlT.Chik Di Tiro . Lalu turun setelah jembatan di persimpangan jalan STA.Mahmudsyah-Jl.T.Chik Di Tiro Tarif angkutan tetap yakni Rp.2000 dan Rp.7000 bila menggunakan becak mesin.
1.3. Makam Sultan Iskandar

The Grave of Sultan Iskandar Muda-Photo by Marni
Di sebelah musium Aceh terdapat makam Sultan Iskandarmuda, seorang raja yang kejayaannnya hingga mencapai semenanjung Malaysia dan sekitarnya. Iskandarmuda merupakan raja yang sangat berwibawa dan bijaksana bahkan ia mampu menjadikan Aceh sebagai pusat perdagangan pada masa itu.Terletak di Kelurahan Peuniti, Kecamatan Baturrahman tepatnya Komplek Baperis. Untuk menjangkau lokasi dapat melalui Jalan Sultan Mahmudsyah, di depan Pendopo Gubernur. Makam ini berbatasan dengan Kompleks Makam Kandang Meuh dan Gedung Museum Negeri Aceh di sebelah Utara, gedung urusan rumah tangga gubernuran di sebelah selatan, Kelurahan Peuniti di sebelah timur dan asrama TNI AD di sebelah barat. Tidak ada angkutan umum melintasi jalan tersebut namun bisa dengan menumpangi:
1.4 . Makam Kandang XII

The Graves Kandang XII-Photo by Marni
Komplek pemakan terdapat di Kelurahan Keraton, Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh. Ada 12 makam Sultan terdapat di komplek ini diantaranya:Makam Sultan Ali Mughayatsyah, Sultan Alaidin Riayatsyah al Qahar dan Sultan Salahuddin Riayatsyah. Komplek pemakaman terukir baik dan terawat serta terletak di tempat cukup strategis yakni di Jalan Sultan Alaidin Mansursyah, berjarak 200 meter dari pendopo Gubernur ke arah barat. Makam dapat dikunjungi setiap hari namun tidak ada penjaga khusus makam tersebut. Tidak ada angkutan umum melintasi jalan tersebut namun bisa dengan menumpangi labi-labi:
- Jurusan Terminal Keudah-Lambaro
- Terminal Keudah-Seulimum
- Terminal Keudah-Indrapuri
- Terminal Keudah-Montasik
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-JlT.Chik Di Tiro . Lalu turun setelah jembatan di persimpangan jalan STA.Mahmudsyah-Jl.T.Chik Di Tiro Tarif angkutan tetap yakni Rp.2000 dan Rp.7000 bila menggunakan becak mesin.
1.5 Komplek Makam Kandang Meuh
(The Kandang Meuh Grave)

The Graves of Makam kandang-Meuh-Photo by Marni
Masih di lokasi yang sama, di komplek Baperis dan Komplek Museum Negeri Aceh terdapat Makam Kadang Meuh.Dua raja Aceh, yang pertama disebut Kandang Meuh dan satu lagi disebut Komplek Makam Sultan Ibrahim Mansursyah.Yang dimakamkan di komplek tersebut adalah Putri Raja anak Raja Bengkulu, Sultan Alaidin Mahmudsyah, Raja Darussalam, Tuanku Zainal Abidin, dan lain-lain.Sedang di komplek Makam Sutan Ibrahim Mansur syah dimakamkan antara lain:Pocut Rumoh Geudong (istri Sultan Ibrahim Mansur), Pocut Sri Banun (anak Sultan Ibrahim Mansur), Sultan Muhammadsyah (anak sultan Mahmud syah), Sultan Husein al Johar al alam syah (anak sultan Mahmud syah), Putro Binen (Kakak sultan Ibrahim Mansur syah, dll.Tidak ada angkutan umum melintasi jalan tersebut namun bisa dengan menumpangi labi-labi:
- Jurusan Terminal Keudah-Lambaro
- Terminal Keudah-Seulimum
- Terminal Keudah-Indrapuri
- Terminal Keudah-Montasik
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-JlT.Chik Di Tiro . Lalu turun setelah jembatan di persimpangan jalan STA.Mahmudsyah-Jl.T.Chik Di Tiro
Tarif angkutan tetap yakni Rp.2000 dan Rp.7000 bila menggunakan becak mesin
1.6. Pendopo Gubernur

The Governor Hall-Photo by Marni
Di luar Komplek Baperis (bersisian ) terdapat bangunan tempat kediaman Gubernur yang merupakan jejak peninggalan kolonialisme di Banda Aceh. Letaknya di ujung Jalan STA Mahmudsyah dan bangunan memiliki nilai historis-arkeologis yang cukup tinggi dan layak dijadikan sebagai bangunan cagar budaya. Sungai kecil yang bermuara di Krueng Aceh dahulu dimanfaatkan oleh sekoci-sekoci kapal perang Belanda untuk menghubungkan tempat pendaratan di pelabuhan Ulee Lheu dengan kediaman Komandan Militer dan Sipil Belanda.Tahun 1987 gedung tersebut diganti dengan sebutan Meuligo (Mahligai Aceh).Hanya orang tertentu saja yang bisa masuk ke halaman Pendopo dan itu pu apabila ada acara gubernuran.Meski tsunami menghantam hampir seluruh kawasan kota, namun bangunan tidak mengalami kerusakan sama sekali bahkan tidak tersentuh air.Tidak ada angkutan umum melintasi jalan tersebut namun bisa dengan menumpangi labi-labi:
- Jurusan Terminal Keudah-Lambaro
- Terminal Keudah-Seulimum
- Terminal Keudah-Indrapuri
- Terminal Keudah-Montasik
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-JlT.Chik Di Tiro . Lalu turun setelah jembatan di persimpangan jalan STA.Mahmudsyah-Jl.T.Chik Di Tiro
Tarif angkutan tetap yakni Rp.2000 dan Rp.7000 bila menggunakan becak mesin.
1.7. Gunongan

The Princess Playground-Photo by Marni
Bila masih ingin menikmati beberapa bangunan bersejarah, melalui samping kiri pendopo perjalanan dilanjutkan ke arah Neusu Jaya yang merupakan Komplek Militer Iskandarmuda. Dari kejauhan nampak Gunongan, Disebut gunongan karena bentuknya persis gunung buatan.Sultan Iskandar Muda 1608-1636) sengaja membangun tempat bermain tersebut untuk sang pemaisuri yang disuntingnya dari negeri Pahang Malaysia. Gunongan merupakan wujud kecintaan sang Raja kepada ”Putro Phang” yang jauh dari keluarga.
Trayek Angkutan labi-labi untuk mencapai lokasi:
-Terminal Keudah- Keutapang Dua
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah-Lampeuneurut
-Terminal Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ulee Lheu
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.T.Umar.
Tarif angkutan Rp.2000 dan Rp.10.000 bila menggunakan becak bermotor.
1.8 Taman Budaya
Bersebelahan dengan gunongan tepatnya di Jalan Teuku Umar, sebuah gedung budaya atau lebih dikenal dengan sebutan Taman Budaya berdiri megah. Di sini tempat berlangsungnya pagelaran seni dan tempat berkumpulnya seniman-seniman Aceh. Bisa dijangkau dengan berjalan kaki dari gunongan atau dari Terminal Keudah menaiki labi-labi.
Trayek Angkutan labi-labi untuk mencapai lokasi:
-Terminal Keudah- Keutapang Dua
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah-Lampeuneurut
-Terminal Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ulee Lheu
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.T.Umar. Tarif angkutan Rp.2000 dan Rp.10.000 bila menggunakan becak bermotor.
1.9. Kerhoff

Dutch Graves-Photo by Marni
Merupakan areal pekuburan tempat peristirahatan terakhir para serdadu Belanda saat peperangan melawan Kerajaan Aceh Darussalam yang disebut Kerkhoff. Ada lebih kurang 2.200 orang serdadu termasuk Jendral Kohler yang tewas diterjang peluru pejuang Aceh di depan Masjid Raya dan keseluruhannya dikuburkan di tempat tersebut. Saat tsunami, komplek pekuburan dipenuhi mayat dan sampah yang memakan waktu yang cukup lama untuk membersihkannya. Letaknya tidak jauh dari Simpang Jam menuju Ulee Lheue dan pintu utama terletak di depan Blang Padang.
Trayek angkutan yang melewati lokasi:
-Terminal Keudah- Ulee Lhue
Tarif angkutan hanya 2000 rupiah dan 10.000 rupiah menggunakan becak bermotor
1.10. Taman Sari

Playground Taman Sari-Photo by Marni
Di Pinto Khop yang berada tidak jauh dari gunongan terdapat taman bermain anak-anak sehingga tempat ini ramai dikunjungi terutama pada sore hari atau hari libur. Letaknya memanjang di sebelah selatan Masjid Baiturahman dulu di taman ini berdiri Hotel Aceh tempat Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh pengusaha Aceh. Namun Hotel bersejarah ini sudah tidak ada.
Trayek angkutan yang melintasi lokasi:
-Terminal Keudah- Mata Ie
-Termina; Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah Ule Lheue turun di depan Kantor Walikota
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U.Turun di depan kntor Walikota Tarif angkutan Rp.2000 dan becak bermotor Rp.5000
1.11. Tugu Kemerdekaan

The Liberty National Monument- Photo by Marni
Masih di Komplek Taman Sari berdiri Tugu Kemerdakaan yang memiliki sejarah tersendiri. Pada perayaan HUT Kemerdekaan RI tempat ini digunakan untuk mengadakan berbagai acara perlombaan seperti panjat pinang, dan sebagainya.
Trayek angkutan yang melintasi lokasi:
-Terminal Keudah- Mata Ie
Terminal Keudah-Lhoknga
-Terminal Keudah-Ajun
-Terminal Keudah Ule Lheue
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U.Turun di depan Kantor Walikota. Tarif angkutan Rp.2000 dan becak bermotor Rp.5000
1.12. Monumen RI 001

The first Indonesia's aircraft-RI Seulawah 001- Purchased from donations aceh people
Rakyat Aceh memiliki andil yang cukup besar dalam dunia penerbangan Indonesia. Di saat seluruh wilayah RI dikuasai Belanda, Aceh yag tidak tertaklukkan menjadi modal bagi perjuangan RI. Rasa sosial masyarakat Aceh yang cukup tinggi mereka menyumbangkan harta benda termasuk emas untuk membeli dua buah pesawat yang diprakarsai masyarakat dan Soekarno dalam pertemuan di Hotel Atjeh seharga $ 120.000 atau 25 kg emas.Replika DC3 Seulawah Agam kini dapat dilihat di Blang Padang, Banda Aceh. Sayangnya Hotel Atjeh yang sangat bersejarah itu, bangunannya sudah tidak ada lagi. Hotel itu dulunya terletak persis di ujung jalan yang menghubungkan Masjid Raya Baiturrahman dengan Taman Sari. Tidak jauh dari monumen RI terdapat lokasi terdamparnya kapal milik PLTD Apung. Trayek angkutan yang melewati lokasi:
-Terminal Keudah- Ulee Lhue
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:
Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.ST.Iskandarmuda.
Tarif angkutan hanya 2000 rupiah dan 10.000 rupiah menggunakan becak bermotor.
1.13 Makam Syiah Kuala

Tengku Syiah Kuala Grave-Photo by Marni
Setelah seharian penuh melakukan perjalanan menikmati berbagai objek bersejarah di sekitar Masjid Raya, keesokan harinya perjalanan dilanjutkan ke objek wisata yang lokasinya agak jauh dari kota Banda AcehDi Desa Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala terdapat makam seorang ulama besar Kerajaan Aceh Darussalam yang hidup di abad 16 Masehi. Syech Abdurrauf bin Ali Al Jawi Al Fansuri Al Singkili yang diberi gelar kehormatan Teungku Syiah Kuala.Beliau hidup pada masa kejayaan Sultanah Ratu Safiatuddinsyah dan makamnya banyak diziarahi terutama oleh umat Islam dari berbagai penjuru tanah air maupun negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan beberapa negara Islam lainnya.Saat tsunami, objek wisata tersebut banyak mengalami kehancuran dan kini telah dilakukan perbaikan.Memang lokasinya jauh dari pusat kota sekitar 5 km dan apabila ingin berkunjung ke Makam tersebut harus menggunakan kendaraan pribadi atau carteran karena tidak ada angkutan umum yang melintas di sana.
1.14. Kopelma Darussalam

Syiah Kuala University Monument- Location in Area Syiah Kuala University-One of State Universities -Darussalam Banda Aceh- Indonesia
Dari Makam Syiah Kuala perjalanan beralih ke Kopelma Darussalam sebagai pusat pendidikan di Aceh khusunya Banda Aceh. Konon beberapa waktu lalu, Darussalam adalah pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan di nusantara dan wilayah Asia tepatnya saat kerajaan dipimpin oleh Sultan Iskandar Muda. Menururt sejarah, Kopelma (Komplek Pelajar dan Mahasiswa) dimulai dengan terbentuknya sebuah badan atau yayasan bernama Yayasan Dana Kesejahteraan (YDKA) tanggal 21 April 1958. Kopelma diresmikan oleh Menteri agama RI K.H Moh Ilyas tanggal 17 agustus 1958 dan dilakukan pula peletakan batu pertama pembangunan Unsyiah. Setahun kemudian Kopelma Darussalam diresmikan oleh Soekarno dengan pembukaan Fakulas Ekonomi sebagai embrio Unsyiah. Presiden RI menoreh tulisan bermakna pada tugu tersebut: "Tekad bulat melahirkan perbuatan yang nyata, Darussalam menuju kepada pelaksanaan cita-cita ".
Selain Universitas Syiah Kuala, di Komplek tersebut terdapat pula IAIN Ar Raniry sebuah perguruan tinggi islam ternama.
Trayek angkutan yang melintasi lokasi:
-Terminal Keudah- Darussalam
-Terminal Keudah-Tungkop
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.. Cut Mutia-Jl.R.Supratman-Jl.T.Panglima Polem-Jl.T.Daud Beureueh-Jl.T.Nyak Arief. Tarif angkutan hanya 2000 rupiah.
1.15 .Makam Tgk. Turki


Tgk.Turkey Grave's and Mosque - Tomb and the mosque has been renovation by the NGO from Turkey after tsunami and surrounding built homes by the Turkish style from Bulan Sabit Merah Turkey.
Komplek makam kuno peninggalan Turki terletak berbarengan dengan Masjid Turki yang terletak di Desa Bitai, Kecamatan Jaya Baru.Luas areal 500 m2 dan berada di tengah-tengah perkampungan penduduk. Di sekitar makam itu terdapat mesjid kuno yang bangunannya mirip seperti bangunan Turki dengan status tanah wakaf.Pada masa dulu, Bitai merupakan perkampungan yang ditempati para ulama Islam dari Pasai Pidie dan Ulama itu berasal dari Negara Baitul Muhadis dan Turki.Pada saat wafatnya Raja Salahuddin, orang Turki memberikan wasiat bahwa pada saat meninggal dunia mereka minta dimakamkan saling berdekatan yaitu di Komplek Situs Makam Tuanku Di Bitai.
Sebagai wilayah terparah dilanda tsunami, korban yang hilang tidaklah sedikit namun atas bantuan Turki melalui palang merah dan bulan sabit merah telah dibangun perumahan perrmanen type-45 untuk korban tsunami di Desa Bitai dan sekiarnya. Memasuki Desa Bitai kita bisa menyaksikan rumah-rumah bantuan bulan sabit merah Turki yang begitu unik dan khas. Juga dilakukan rehab rekon terhadap makam dan masjid Turki dengan gaya bangunan yang mewah dan indah.
Bila ingin mencapai lokasi harus menggunakan mobil carteran karena letak lokasi jauh dari jalan raya namun kondisi jalan sudah baik.
1.16.Perpustakaan Ali Hasjmi
(Ali Hasjmi Libary)
Agar tidak bolak-balik yang memakan waktu dan biaya juga tenaga yang banyak, masih ada satu tempat lagi yang menarik untuk dikunjungi yakni sebuah taman baca yang terletak di Jalan Sudirman Banda Aceh. Bangunan ini merupakan tempat tinggal seorang ulama, Budayawan Aceh dan Politikus yang cukup terkenal .Prof.DR.Ali Hasjmi wafat pada 18 Januari 1998 di Rumah sakit Umum dr Zainoel Abidin, Banda Aceh. karena serangan jantung.
Yayasan Pendidikan Ali Hsjmi diresmikan oleh Prof.DR.Emil Salim, Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup saat itu.
Ali Hasjmy mewakafkan bangunan berupa rumah, dan seluruh buku, baskah-naskah, album photo sejarah di atas tanah seluas 3000m2 kepada Yayasan.
Tidak heran bila kita memasuki ruangan, di dalamnya terdapat berbagai macam koleksi photo kegiatan almarhum Ali Hasjmi, naskah kuno, piagam, dan plakat. Selain itu terdapat koleksi benda-benda antik seperti guci.Ali Hasjmi sangat produktif menulis dan ada 50 buah buku karyanya. Diantara beberapa ruang baca yang paling menarik adalah Ruang Khazanah Dunia Melayu Raya yang berkoleksi buku-buku rumpun Melayu Asia Tenggara.
Trayek Angkutan labi-labi untuk mencapai lokasi:
-Terminal Keudah- Keutapang Dua
-Terminal Keudah- Mata Ie
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.T.Umar- Simpang Tiga- Jalan Sudirman.
Tarif angkutan Rp.2000
2.Objek Wisata Baru
(New object after tsunami)
Musibah yang terjadi di kota Banda Aceh hanya dapat di kenang lewat sejarah karena beberapa hari setelah tsunami baik pemerintah dan berbagai NGO dalam dan luarnegeri terus melakukan perbaikan struktur dan infrastruktur yang porak-poranda. Boleh dikatakan, saat ini keadaan di Banda Aceh sudah mulai normal dan aktifitas berjalan seperti sedia kala. Namun ada beberapa jejak yang tertinggal dari kedahsyatan gelombang tsunami yang bisa dijadikan sebagai objek wisata tsunami.
2.1. PLTD Apung (The Tsunami Ship)

PLTD Apung- Floating ship is a ship diesel powerhouse. Weighs 2600 tons, was on the Ulee Lheue Beach. When tsunami on 26 December2004, moved up to the settlement and tsunami attraction.- Photo by Stania Yasin
Kapal yang semula didatangkan dari Kalimantan untuk mengisi pasokan listrik itu di tempatkan di pelabuhan Ulee Lheu. Namun terjangan tsunami yang sangat hebat, kapal yang berbobot 3600 ton ikut terseret ke daratan sejauh 4-5 km tepatnya di desa Punge Blang Cut Kecamatan Jaya Baru. Sangatlah mustahil kapal seberat itu bisa bergerak melewati rumah penduduk namun kenyataan seperti itulah yang terjadi. Untuk menariknya kembali ke posisi semula adalah hal yang tidak mungkin dilakukan apalagi di sekitar lokasi sudah berdiri kembali rumah-rumah penduduk.Meski masih ada keberatan penduduk karena tapak rumah mereka tertindih oleh kapal tersebut, namun lokasi paling ramai dikunjungi wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara. Terletak di perkampungan penduduk dan untukmencapai lokasi bisa dengan menggunakan labi-labi jurusan Uleee Lheue turun di simpang Punge Blang Cut ata agar lebih mudah menaiki Becak bermotor dengan tarif Rp.25. 000 dari terminal Keudah.
2.2. .Kuburan Massal

Massive Graves for tsunami sacrifice-Photo by Marni
Kuburan massal yang terletak di Lambaro dan Ulee Lheu merupakan saksi sejarah begitu banyaknya warga yang menjadi korban sehingga mereka diberikan tempat peristirahatan secara massal. Keluarga yang tidak menemui mayat sanak saudaranya hanya bisa mendatangi kuburan massal untuk mendoakan mereka di alam sana.
Trayek angkutan yang melewati lokasi:
-Terminal Keudah- Ulee Lhue
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.ST.Iskandarmuda.
Tarif angkutan hanya 5000 rupiah dan 25.000 rupiah menggunakan becak bermotor.
2.3. Masjid Baiturrahim

Its wonders... this mosque located on the coastline. But when tsunami, hundreds of thousands people missing, this mosque is not damaged.-Photo by Marni
Letaknya tepat di bibir pantai Ulee Lhueue namun sebuah keajaiban yang sulit diterima akal sehat manusia terjadi saat tsunami. Dengan kuasa Allah Masjid Baiturrahim yang jaraknya hanya 50 meter dari laut masih tetap berdiri.
Trayek angkutan yang melewati lokasi:
-Terminal Keudah- Ulee Lhue menuju pelabuhan
Rute yang dilalui angkutan labi-labi:Terminal Keudah-Jl.Cut Mutia (depan Polda NAD)-Jl.Tepi Kali-Jl.Inpres-Jl.Diponegoro-Jl.Jl.STA.Mahmudsyah-Jl.Muhd.Jam (Depan Barata)- Jl.Abu Lam U- Jl.ST.Iskandarmuda. Tarif angkutan hanya 5000 rupiah dan 25.000 rupiah menggunakan becak bermotor.
2.4. Daerah Tsunami

One of the very beautiful location, located on the hill in Ujong Batee. This area called Indonesia-China Friendship Housing or more popularly called "Perumahan Jackie Chan". Built with donor from China government and actor Jackie Chan-Photo by Team
Kehancuran yang mencapai 75% dari luas daerah yang ada merupakan sebuah objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi selain kehidupan masyarakat Aceh yang Islami yang dikaitkan dengan ketabahan mereka dalam menghadapi musibah. Boleh dikatakan, Banda Aceh merupakan daerah wisata tsunami dan setiap wisatawan yang datang akan mengunjungi seluruh kota untuk menyaksikan kawasan yang pernah hancur akibat tsunami disamping wisata sejarah.
3.Wisata Kuliner
3.1 Kopi Ulee Kareng

Coffee Aceh very famous, such as: Ulee Kareng Coffee and Coffee Gayo. Habits the people in Aceh, is communicating at the Coffee Shop. Even at night, when there is live football, almost all coffee shops open and put up the big screen for watching football together-Photo by Marni
Ada beberapa keunikan yang terlihat apabila kita menginjakkan kaki di kota Banda Aceh. Di sana-sini banyak warung kopi yang tidak pernah sepi dari pengunjung diantaranya di sekitar Jalan T.Iskandar Ulee Kareng, Reks Peunayong dan Pasar Aceh (masih di kawasan Masjid Raya) bahkan di seluruh kota Banda Aceh. Mengunjungi warung kopi sudah mengakar dalam diri masyarakat Aceh walau di saat konflik sekali pun warung kopi menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan rasa cemas dan takut.
Dikala aman warung kopi juga bermanfaat untuk tempat membicarakan masalah bisnis, politik dan bertukar inspirasi. Bahkan setelah tsunami, warung kopi pulalah yang menjadi tempat menghilangkan rasa lelah para relawan yang datang dalam rangka rehab rekon kota Banda Aceh.Hampir di sepanjang jalan Ulee Kareng terdapat warung kopi dan untuk menjangkau lokasi cukup dengan menaiki angkutan umum dari terminal Keudah jurusan Ulee Kareng dengan membayar ongkos 2000 rupiah.
Bukan hanya di tempat asalnya, kopi Ulee kareng yang sudah sangat terkenal ini juga bisa dinikmati di beberapa warung kopi yang ada di pusat kota yang bisa ditempuh dengan jalan kaki saja.Warung kopi biasanya ramai pada pagi hari, dan semakin ramai menjelang sore dan malam hari. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati cita rasa kopi tapi terkadang mereka sengaja datang untuk menemui rekan dan bahkan pada malam hari banyak kaum adam yang lebih memilih nonton siaran langsung sepak bola dengan menggunakan layar lebar yang banyak terpasang di setiap warung hingga dini hari.
3.2 Reks Peunayong
(Snack Area in Banda Aceh)

Reks is Food Center located in centerof Banda Aceh or Peunayong. On the afternoon till night, the people very enthusiastic come and eat good traditional cuisine and nationwide. Have Coffee Aceh, fried rice, satay, fresh drinks, mie aceh, clam stew, Pulut panggang, and others. Simply meeting friends while enjoying food and breeze because there are not far from the location of the river Pante Pirak.-Photo by Marni
Letaknya persis di kota Peunayong, dan kawasan ini lebih dikenal sebagai pusat jajanan malam dimana di sekitarnya terdapat beberapa penginapan seperti Hotel Medan, Hotel Parapat, Hotel Cakradonya, Hotel Sultan. Kawasan Reks bak sebuah magnit yang mampu menarik animo setiap orang untuk menghabiskan waktu di sana.
Semakin malam, para pengunjung kian ramai dan untuk lebih menghidupkan suasana, beberapa waktu lalu, Pemko Banda Aceh berniat membangun sebuah pentas di pojok area untuk para insan seni mengingat kawasan tersebut dikelola oleh para seniman dan budayawan Aceh seperti Hasbi Burman (Presiden Reks), Udin Pelor, dll.Tidaklah sulit untuk mencari dimana letak kawasan karena angkutan umum jurusan Darussalam, Ulee Kareng setiap saat melintas di tempat itu dengan ongkos angkutan rata-rata 2000 rupiah.
3.3 Souvenir dan Makanan Khas

Pasar Aceh one of the traditional market in Aceh. When tsunami 2004, a traditional market is destroyed. One of NGO from Japan rebuilt this market. When you want to buy souvenirs or "oleh-oleh" like necklaces, earrings, rings with design "pintoe aceh", come to jewelry souvenirs, and food like Kue Karah, Bolu Boi, all in Pasar Aceh. - Photo by Marni
Sejak kurun waktu yang cukup lama kota Banda Aceh dikenal hasil kerajinannya seperti mainan kalung Pinto Aceh, Rencong, tas motif Aceh dan makanan khas yaitu dendeng Aceh yang dapat dibeli di toko-toko yang ada di Peunayong, Simpang Surabaya dan Pasar Aceh.
Sebelum tsunami, semua jenis souvenir tersebut dapat di beli di Pasar Aceh sebagai pusat perbelanjaan tradisional namun saat ini para penjual belum memiliki satu tempat khusus namun demikian toko souvenir terdapat dimana-mana seperti Peunayong, Neusu Jaya dan Pasar Aceh sendiri. Untuk kawasan Peunayong bisa dijangkau dengan menaiki angkutan umum labi-labi trayek Darussalam dan Ulee Kareng (2000 rupiah), sedang kawasan Neusu Jaya menggunakan angkutan umum trayek Lampeunurut (2000 rupiah). (*)
***
NOTE:
-Labi-labi adalah angkutan umum yang ada di kota Banda Aceh atau biasa disebut Mini Bus (Labi-labi is mini bus or public transportation in Banda Aceh.
Warning..!
Its my original article, photo and survey.
Do not copy without Permission.
If U need to copy this article or photo pls type my original name.
Thank you: Sumarni Dahlan
------